
Bisa kurasakan gairah naluriah kami sama-sama membumbung tinggi.
Jemariku yang tadi memegang tengkuk Mas Pras kini merambat meremas rambutnya hingga kurasakan ciuman yang dia beri padaku semakin dalam, beserta rengkuhannya yang membuat tubuh kami kian merapat.
Namun satu telapak tanganku yang semula meraba dada miliknya kini kugunakan untuk memberinya cengkraman. Aku tahu kegiatan kami ini akan berakhir dimana, tapi logikaku menggedor-gedor bahwa sudah saatnya kami berhenti. Sebab tak mungkin kami bercumbu di tempat ini.
Dengan terpaksa aku menyentak kepalaku ke belakang, menarik paksa bibirku yang masih bertaut padanya. Berhenti dengan cara terpaksa.
Suara kekehan lolos dari bibir Mas Pras usai dirinya berhasil mengatur napas. Jari jempolnya pun bergerak mengusap bibirku yang baru kuketahui sudah basah akibat ulahnya.
Aku tak bisa membayangkan penampakan wajahku yang sekarang, lalu aku mencoba mengalihkan tatapanku ke arah lain berusaha bersikap serileks mungkin meski jantungku terasa semakin menggebu.
"Mas masih punya kesempatan di lain waktu kan?" ucapnya dengan nada berbisik membuatku spontan memukul lengannya.
Aku mendengus dan dalam hati mengatainya suami mesum, karena ada kesempatan sedikit saja dariku, Mas Pras akan langsung bertindak. Apalagi kalau aku sendiri yang lebih dulu memulai, sudah pasti dia dengan senang hati menyambutnya.
"Kenapa malah cemberut Nyonya?" ucapnya dengan nada menggoda.
Aku menipiskan bibirku bersamaan dengan kuhela napasku kemudian aku menanggapinya dengan gelengan kepala. Tak mungkin aku menyuarakan hatiku yang tadi. Karena kondisi kami yang baru saja berbaikan, aku harus berusaha kuat untuk tak mengungkit sisi dirinya yang menurutku adalah terlalu berlebihan.
"Sudah hampir terlambat, kalau begitu Mas lebih baik berangkat dulu," ucapnya usai melihat jam di pergelangan tangannya. Diapun kini meraih dan mengecup puncak kepalaku. "Mas berangkat kerja dulu dan Mas usahakan akan pulang tepat waktu. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat dan jangan sungkan meminta bantuan orang rumah," kata Mas Pras menasehatiku.
"Kerja berat apa, paling hanya makan dan tidur," sahutku menggerutu yang memang di rumah tiada pekerjaan lain selain itu.
Mas Pras tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang nampak rapi. "Bisa saja pekerjaan berat itu menunggui suamimu ini hingga sampai rumah," ucapnya yang membuatku kini mendelik padanya.
"Terserah Mas deh," sahutku yang kali ini memilih pasrah saja dari pada aku meladeninya dia akan benar-benar terlambat atau barangkali mengurungkan diri berangkat bekerja.
__ADS_1
***
Tak sesuai yang diucapkannya, sore ini Mas Pras justru tiba di rumah lebih awal. Namun meski dirinya berada di rumah, dia tetap disibukkan dengan pekerjaannya.
Seperti saat ini. Sudah hampir tiga jam dia bergelut di depan layar laptop yang berada di ruang kerja. Aku pun mencoba berinisiatif mendatanginya bermaksud agar dia bisa sejenak beristirahat dari kesibukannya.
Di tanganku kini ada sepiring puding kemudian aku meletakkannya di samping laptopnya hingga mampu membuat Mas Pras mengalihkan pandangannya padaku yang telah berdiri di samping kursinya.
"Kenapa gak ketuk pintu, biar Mas bantu bukain," ucapnya lalu melepas kacamata kerjanya.
"Sengaja biar gak ganggu," sahutku.
"Ini apa?" tanya Mas Pras menunjuk pada piring di hadapannya.
"Puding susu coklat."
"Kamu yang buat?" tanya Mas Pras dengan raut wajah tak yakin.
"Mas gak yakin," sahutnya terdengar meremehkanku tapi tangannya tetap bergerak menyendok puding lalu mengarahkannya masuk ke dalam mulutnya.
Aku menggigit bibirku, harap-harap cemas menunggu komentarnya. "Gimana rasanya?" tanyaku yang tak sabaran.
Itu sebenarnya hasil percobaanku yang tadi didampingi oleh Bik Mar dalam memasaknya. Awalnya aku hanya melihat acara TV yang menunjukkan cara mengolah puding secara mudah tapi menghasilkan rasa dan tampilan yang sangat menggiurkan. Namun teori tak seperti praktek yang di ajarkan oleh Cheff di TV. Hasil yang kubuat secara fisik tak sama rupa dengan buatan Cheff namun kata Bik Mar dan Mbak Siti hasil yang kubuat sudah layak disebut dengan puding.
Mas Pras sejenak tampak berpikir lalu berujar, "Kurang sedikit manis."
Aku pun mendesah kecewa. Padahal kurang sedikit saja, mungkin bila aku tadi menambahkan takaran gula lebih akan menjadi—
__ADS_1
Monologku tiba-tiba terhenti. Aku tersentak kala Mas Pras menarik lenganku lalu memaksaku untuk duduk di atas pangkuannya yang kemudian menangkup wajahku disusul dengan ******* bibirku.
Kemudian setelahnya dia berkata, "Kalau begini manisnya sudah pas."
Sontak aku kali ini memberi pukulan pada dadanya. "Kenapa sih hobi banget bikin jantungan!" ucapku kesal sebab aku terkaget akan ulahnya yang sering bertindak tanpa duga-duga.
Saat aku hendak beranjak, Mas Pras justru memegangi pinggangku. "Mas mau bicara," ucapnya serius.
Aku tak menyahutinya tapi kini aku menoleh padanya.
"Besok Mas ke Samarinda."
"Buat?"
"Ada pembukaan cabang baru disana."
"Bengkel?"
Mas Pras menggeleng. "Showroom mobil."
Aku mengangguk paham sebab Mas Pras memang punya usaha itu, walau meski aku tahu hal itu dari orang lain. Dan aku mencoba tak mempermasalahkan. "Berapa hari?" tanyaku kemudian.
"Paling lama satu minggu," sahutnya disertai tangan yang bergerak mengelus lembut pipiku. "Apa itu terlalu lama?" sambungnya sebab aku tak kunjung menjawab.
Aku mengangguk. "Aku rasa iya. Tapi— itu juga merupakan sebuah tanggungjawab. Ada beberapa keluarga yang bergantung pada usaha yang Mas pimpin. Untuk itu Anna rasa gak keberatan, " ucapku mencoba memahaminya. Sebab memang kadang Mas Pras pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan tapi yang sebelum-sebelumnya dia mengatakan dengan beralasan menyebutkan urusan bengkel.
"Terimakasih. Mas akan secepatnya kembali dan kamu boleh menanyakan pada Mas apa saja yang belum kamu ketahui dari Mas," sahutnya menarik tanganku lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Anna percaya sama Mas," ucapku yang dibalas olehnya dengan senyuman tipis dan kecupan singkat pada sudut bibirku.
To Be Continue