
DIBACA MALAM SAJA!!!!
"Mas gak berangkat bekerja?" tanyaku dengan nada setengah berbisik, karena sadar bahwa hari telah pagi.
Namun Mas Pras yang tak kunjung menjawab ucapanku kini membuatku penasaran. Apa dia belum bangun? batinku.
Segera aku mengangkat kepalaku menjauh dari dada bidangnya, dan yang kulihat kali ini ialah matanya telah yang terbuka, menatapku dan berucap dengan suara serak khas bangun tidur. "Selamat pagi."
Aku yang sedikit terkejut refleks kembali meringkuk menenggelamkan wajahku pada dada telanjangnya. Sementara dadaku berdentum-dentum. Pipiku memanas, rasanya aliran darahku merambat naik. Kenapa aku jadi segugup ini? batinku.
Di tambah dengan mengingat kejadian semalam, rasanya aku belum sanggup menatap lagi wajahnya.
"Gimana Mas bisa berangkat bekerja kalau kamu masih menempel layaknya perangko," keluhnya dengan telapak tangan yang berangsur bergerak mengelus lembut punggungku.
Nyaman itulah yang kurasakan saat ini. Tanganku justru bergerak melingkupi tubuhnya hingga tak ada jarak lagi di antara kami. Bahkan perut buncitku telah menempel pada permukaan kulitnya, dan Mas Pras membalas dengan mengecup puncak kepalaku.
Kejadian itu tak berlangsung lama sebab kini terdengar suara kecil Aqila. "Papa..."
__ADS_1
Degupan di jantungku rasanya sudah bertambah parah. Dalam kondisi begini Aqila malah terbangun, batinku panik.
Mas Pras pun mulai bergerak mengendurkan pelukannya dan berujar berbisik di telingaku, "Sepertinya harus ditunda dulu, putri kita terbangun."
Aku pun mengangguk yang kemudian Mas Pras membalikkan badannya menghadap Aqila. Segera kutarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhku sebelum aku beranjak duduk.
Aqila masih mengucek-ucek matanya dengan Mas Pras yang bergerak secepat mungkin memakai kembali pakaiannya, tapi yang terjadi aku malah tersenyum melihat pemandangan seperti ini.
"Kenapa malah senyum-senyum?" tanya Mas Pras yang ternyata memperhatikanku.
"Kita seperti tertangkap basah, Mas pakai kaos sampai terbalik," sahutku menahan senyum dan Mas Pras menanggapinya dengan berdecak dan geleng kepala.
Aku tersenyum lalu menarik nafasku dalam mengisi ruang kosong pada rongga paru-paruku dengan seluruh pasokan udara, merasakan suasana pagi yang bahagia.
***
Aku duduk di tepian ranjang selama Mas Pras mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. Dari menungguinya mandi, memilih pakaian hingga menyaksikannya berbenah.
__ADS_1
Ingin aku berdiri di hadapannya, walau hanya sekedar membantunya mengancingkan pakaian atau merapikan kerah bajunya. Tapi hal ini hanya ada dalam benakku, sebab aku masih belum punya keberanian lebih.
"Kita ke bawah sarapan," ucap Mas Pras yang ternyata sudah berdiri di hadapanku.
Aku pun mendongakkan wajahku menatapnya yang malah Mas Pras merubah posisinya untuk berjongkok di hadapanku, membuatku lebih jelas menatap wajahnya.
Bola matanya kali ini bergerak beralih ke arah perutku. "Maafkan Papa sayang. Papa mencintaimu," ucapnya terdengar begitu pelan dan aku masih bisa mendengarnya.
Mataku memanas, rasa haru makin menyelimutiku, sebab sekarang Mas Pras tengah mengecupi perutku. Hal yang telah begitu lama aku tunggu-tunggu.
Lalu kugerakkan tanganku untuk menyentuh kepalanya, mengelus dan mengusapnya perlahan. Mas Pras yang menyadari tindakanku kini mendongakkan kepalanya menatapku kembali. Sama halnya denganku, kulihat matanya nampak berkaca.
Melihat dari jarak yang sedekat ini dan aku bisa menyentuhnya kembali, rasanya seperti bermimpi. Jemariku kini menyusuri wajahnya, dan berucap, "Mas..." Rasanya begitu susah, namun dengan susah payah aku berucap mengeja. "Terimakasih, Anna juga mencintaimu, Mas..."
Dalam keharuan Mas Pras tersenyum lebar kemudian beranjak menangkup wajahku yang selanjutnya menautkan bibirnya pada milikku.
To be Continue
__ADS_1
Episode gula-gula