
Erin masih duduk di kursi tamu dan menjelaskan tentang semua ini kepada Beni, tentang rasa cemas jika Rindu pulang, rasa kecewa Rindu dan sebagainya.
Beni mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
"KIta bahas saja ketika tak ada orang, aku juga belum tahu dimana Rindu," ucap Beni merasa jika sang kekasih tidak sopan saat membahas Rindu di sana.
Beberapa menit setelah acara tunangan berakhir, seorang dokter datang karena sudah membuat janji, Cahaya harus mendapatkan perawatan setelah ini.
Depresinya akan meledak-ledak secara tiba-tiba karena teringat momen yang menyedihkan itu.
Rasta yang paham, langsung mengiyakan apa yang diinginkan oleh dokter.
Semua tamu yang merupakan internal keluarga sudah paham jika pertunangan ini merupakan usaha dua keluarga agar Cahaya yang selama ini mendukung seorang Rasta.
Rasta tidak tega jika harus membuat temannya menderita karena dirinya yang tak mampu menemaninya.
"Ras, kita ke rumah sakit bersama ya?" ucap Cahaya yang tak centil lagi sebab peristiwa memilukan itu.
"Iya sayang, aku akan selalu bersamamu," jawab Rasta dengan kasih sayangnya sebagai seorang teman kepada Cahaya.
Dia tidak akan membuat seorang Cahaya menderita dan sengsara karena dirinya.
Semaksimal mungkin, Rasta akan tetap menjadi yang terbaik bagi seorang Cahaya.
Dia yang tak bisa melupakan Rindu, masih berharap bisa bertemu dengan gadis itu meskipun Rindu sudah tak mau mengenalnya lagi, ini demi sebuah perasaan yang kadang tak menentu.
Rasta hanya ingin berterima kasih lalu memberikan segala cinta kepada Rindu, setelah itu bisa menjaga Cahaya dengan baik.
__ADS_1
Dia tak akan melupakan sosok Rindu, gadis itu ada di dalam hatinya sampai kapanpun.
Cahaya adalah seorang sahabat yang selama ini tak pamrih memberikan apapun, jadi baginya sangatlah aneh jika dia tak memberikan hal yang luar biasa bagi seorang Cahaya.
..
Perjalanan menuju rumah sakit ...
Setelah persiapan usai, sang dokter memeriksa kondisi Cahaya di dalam mobil.
"Tuan Rasta, nona Cahaya di bawa ke rumah sakit dua jam lagi, saya rasa dia masih baik-baik saja," jelas sang dokter.
"Jika sekarang saja bagaimana dok?" tanya Rasta yang senantiasa menemani proses penyembuhan ini.
"Dua jam lagi saja, saya kemari bukan sekedar datang, saya harus memeriksa kondisi pasien, dia nyaman dengan situasi ini. Saya hanya memberikan perkiraan, jika bukan saya yang datang, nona Cahaya akan mengamuk seperti saat itu. Jadi maafkan saya harus memberikan saran ini."
"Terserah dokter saja."
"Oke."
.
.
Rasta mengucapkan selamat jalan kepada sang dokter yang sudah pergi dari rumahnya, sedangkan sang calon istri berada di gendongannya.
Di saat bersamaan, Erin menghampiri Rasta.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya?" tanya Erin.
"Dia masih dalam kondisi baik, aku harap dia tidak menjalani rawat inap," jawab Rasta.
"Iya."
Sang sahabat mencoba meminta waktu kepada Rasta untuk membicarakan hal penting.
"Ras, kita perlu bicara. Ini mengenai perasaanmu."
"Baik Rin, aku akan membawa Rindu masuk ke dalam."
Sang sahabat sudah paham.
Rasta belum bisa move on dari seorang Rindu.
"Sampai salah sebut nama," batin Erin.
Rasta sudah pergi dari hadapannya, lalu Beni datang.
"Dia mau?" tanya Beni.
"Mau sayang, kita tunggu di luar saja, kita sudah berpamitan dengan keluarga besar Cahaya dan Rasta, tak mungkin masuk lagi ke dalam rumah itu. Benar tidak?"
"Iya, kau tidak perlu membuat aku kesal dengan mulutmu yang manyun itu!"
"Haha, oke Beni cintaku."
__ADS_1
*****