
Restu cukup terhibur dengan voucher belanja yang diberikan oleh Erin.
Dia dan sang kakak, akhirnya memilih untuk pulang karena waktu sudah sore.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas menuju rumah mereka.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Restu bercerita banyak hal.
"Kak, aku ingin kakak seperti Kak Rindu," ucap Restu dengan seenaknya saja.
"Haha, memang apa bagusnya dia? dia itu pemarah dan memiliki sifat yang tidak jelas! kau mau dengan kakak seperti itu?"
Rasta membuat sang adik marah, apalagi apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dirasakan ketika bersama Rindu.
"Heh, kakak! Kak Rindu itu adalah orang yang sangat cantik dan ramah, kalau kakak tahu ya, dia adalah kakak terbaik!"
Sang adik justru mengatakan ini kepada kakaknya sendiri.
"Haha ... sungguh, tidak dapat dipercaya! kau lebih memilih gadis itu daripada aku?"
"Bukan, kakak harus menjadi pacarnya. Setelah itu menikah, kasihan tahu Kak Rindu!"
"Kasihan kenapa? kau ini masih kecil dan tidak perlu memikirkan urusan orang dewasa!"
"Aku tidak memikirkan perasaan ataupun urusan orang dewasa, yang aku tahu adalah aku ini orang yang sangat kompeten dalam menilai calon untuk kakak!"
Sang adik yang masih kecil itu terlihat sangat ketika menginginkan sang kakak menikah dengan Rindu.
"Hm, sepertinya boleh juga ini! aku harus mendekatinya dan tahu seberapa uniknya dia!" batin Rasta.
__ADS_1
Dia memang belum memiliki kekasih, hanya saja sedang dekat dengan seorang gadis yang satu kampus dengannya.
Namanya Cahaya.
Seorang gadis modern yang sangat rupawan.
Mereka dulu adalah teman waktu di kursus komputer.
Lalu berlanjut ke tingkat universitas.
Cahaya dan Rasta, sudah seperti pasangan kekasih tetapi mereka tak mau mengakui karena friend zone lebih menyenangkan.
Cahaya yang lebih bebas dan memiliki banyak teman pria, membuat Rasta tidak mau mengekangnya.
Sedangkan Rasta, dia cukup terkenal di kampus dan memiliki banyak penggemar sehingga dua orang itu, tidak mau terlalu mempermasalahkan status mereka berdua.
Menjadi teman adalah pilihan terakhir.
Rasta-Cahaya hanya ingin menjadi sahabat yang saling membutuhkan.
Sesampainya di rumah ...
Rasta memarkirkan mobilnya di garasi, sang adik langsung turun dan berlari menuju teras.
Dia butuhnya melihat sang Ibu dan memamerkan voucher belanja.
Rasta memilih untuk masuk ke dalam rumah dan mendapati papa juga sudah pulang.
"Papa, sudah pulang?" sapa Rasta.
__ADS_1
"Iya, papa ada tugas besok keluar kota jadi pulang awal. Bagaimana kuliahmu? Apakah sudah lancar? Apakah sudah memiliki kekasih?" tanya sang Papa yang tak kalah kepo dengan sang Mama.
Dua orang tua yang tak tahu mengapa sangat ingin melihat Rasta memiliki kekasih.
Padahal kuliah saja masih semester tiga, justru di saat seperti ini Rasta harus lebih fokus ke pendidikan.
"Hm, lebih baik Papa itu pulang malam saja, Papa selalu membuatku pusing dengan pertanyaan yang ada jawabannya!"
"Haha, Papa mengatakan hal yang sudah benar, kenapa kau selalu membantah apa yang Papa katakan. Cari seorang gadis, lalu Papa mengizinkanmu memakai mobil sport itu!"
"Ha? benarkah? aku bisa naik si Zack lagi?"
"Siapa Zack?"
"Si Biru, dia sudah lama di bengkel, hampir satu bulan belum selesai juga perbaikannya!"
Rasta sangat rindu dengan si Zack, mobil sport miliknya yang digunakan untuk balapan liar dan rusak saat melakukan balapan itu.
Sang pria mendapatkan uang dari Papa untuk memperbaiki mobil itu, namun, sudah satu bulan tidak ada kabar sama sekali.
Padahal Papa yang membawa mobil itu ke bengkel pilihan Papa di luar kota.
"Papa sudah membuangnya ke rongsok!" ucap Papa dengan sangat percaya diri.
"Haha ... Papa pasti bercanda."
"Papa serius, tapi Papa sudah membeli yang baru, si yellow, dia lebih keren dan keluaran terbaru. Yah syaratnya, kau harus mendapatkan seorang kekasih dalam waktu satu hari. Maksimal hari Sabtu Papa akan menagihnya, bawa dia ke rumah."
Sang Papa memang semena-mena, mencari kekasih seperti milih kucai saja.
__ADS_1
*****