Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 90


__ADS_3

Aku turun dari mobil sambil membawa Razka dalam gendongan, sementara Aqila telah digandeng oleh Mbak Siti.


Di halaman tampak mobil Kak Andri dan aku yakin tamunya telah hadir.


"Ayo!" ajak Mas Pras yg telah berdiri di sampingku, dan aku pun mengangguk kemudian melangkah berbarengan dengannya menuju ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap kami serempak saat memasuki rumah yang pintunya telah terbuka.


"Wa'alaikumsalam." Dari dalam pun terdengar balasan ucapan salam menyambut kedatangan kami.


Aqila lantas langsung saja mendahului, berlari menuju ke arah orangtuaku. "Kakek Kila datang sama adik!" serunya memberitahu.


"Salaman, cium tangan dulu sama kakek," ucapku mengingatkan Aqila, dibarengi denganku yang mendekat ke arah orangtuaku.


"Tamunya Kak Andri mana?" tanyaku yang tak mendapati orang lain di ruang tamu, karena hanya ada kedua orangtuaku dan juga kakakku.


"Lagi di toilet," sahut Kak Andri yang kini memangku Aqila.


"Gak datang sekalian sama orangtuanya?" sahutku setelah Mama mengambil alih Razka dari gendonganku, lalu aku mengambil duduk di samping Mas Pras.


"Ya belum," sahut Mama. "Nanti kalau Kakakmu sudah melamarnya, baru keluarganya bertandang kemari," sambung Mama sambil mengayun-ayunkan Razka.


"Hmm, jadi baru acara perkenalan?" kataku menyimpulkan.


Tak lama dari arah pintu tengah muncul seorang wanita yang tersenyum ke arahku, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah saat tatapannya bertemu dengan orang di sebelahku, yang tak lain dan tak bukan adalah Mas Pras.


Aku pun segera menoleh pada Mas Pras, dengan lirih mampu kudengar Mas Pras menyebutkan kata, "Vita..."


"Mas mengenalnya?" tanyaku sedikit heran.


Sebelum Mas Pras menjawab, dia menoleh padaku kemudian mengaguk. Ingin aku bertanya lebih, tapi wanita anggun dengan penampilan berhijab itu langsung mendekat duduk pada kursi kosong yang pada kursi tersebut ada tas tangan yang aku yakini adalah miliknya.

__ADS_1


"Kenalin. Dia, Navita yang InsyaAllah akan menjadi calon istri Kakak," ucap Kak Andri yang memperkenalkan wanita yang duduk di hadapanku.


"Saya Navita, Mbak." Ucapnya yang memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya namun tak juga kunjung kusambut. Sebab dalam pikiranku kini berputar, ada hubungan apa Mas Pras dan wanita ini?


"Anna!" tegur Kak Andri yang sontak membuatku mengulurkan tangan menyambutnya untuk berjabat tangan.


"Jangan panggil Mbak, panggil saja Anna. Kalian berdua seumuran, lagi pula sebentar lagi kalian akan menjadi saudara ipar," sahut Mama yang membuat Navita mengangguk.


Dan sebelum jabat tangan kami terlepas, aku segera berucap, "Aku perhatikan kalian berdua seperti saling mengenal?"


Sontak ucapanku membuat orang di sekitar menatapku termasuk Navita. "Maksud aku, Mas Pras dan kamu," sambungku mempertegas ucapanku.


Mas Pras pun berdehem dan sontak aku melepas jabat tanganku pada Navita, rasanya aku sudah tak sabar mendengar apa hubungan mereka. Karena dengan satu kali tatapan saja mampu membuat mereka berdua tercengang.


"Kami memang saling mengenal," ucap Mas Pras yang sontak membuatku menoleh padanya. Bibirku kini menipis. Benarkan dugaanku, batinku.


"Kalian sudah saling mengenal?" sahut Kak Andri yang juga terheran.


"Mas Prasetyo ini dulunya pacar Kakak saya, Kak Nagita," sahut Navita dengan cepat. "Makanya tadi saya sempat sedikit terkaget," sambungnya tersenyum canggung.


Aku mendengus, jadi adik dari mantan pacar Mas Pras yang akan menjadi kakak iparku. Mengingat nama Nagita atau Gita, aku jadi ingat apa yang dulu pernah dikatakan oleh Bik Mar. Keluarganya sempat menolak Mas Pras karena mengira Mas Pras orang tak punya. Dan sekarang adiknya akan menjadi calon istri Kak Andri yang notabenenya berprofesi sebagai seorang aparat kepolisian.


Aku pun kali ini tersenyum masam. Apa jangan-jangan keluarga dari Navita menyetujui hubungan dengan kakakku berlandaskan karena sebuah profesi yang menjanjikan, batinku.


"Kak Andri yakin mau meneruskan hubungan Kakak ke jenjang yang lebih serius?"


"Sangat yakin, makanya Kakak bawa Navita kesini untuk lebih kenal dan dekat dengan keluarga kita," sahut Kak Andri dengan senyum mengembang.


"Anna gak setuju!" kataku cepat yang membuat Kak Andri memudarkan senyumnya.


"Apa maksud kamu? Kamu may Kakakmu terus melajang dan jadi bujang lapuk?" sahut Kak Andri yang malah disertai dengan tawa jenaka.

__ADS_1


"Anna gak bercanda Kak!" tegasku. "Anna tahu siapa keluarga Navita."


"Apa maksud kamu?" tanya Kak Andri dengan raut wajah yang menampakkan keseriusan, begitu pula dengan yang lainnya.


"Keluarga Navita, lebih tepatnya orangtuanya dulu pernah menolak Mas pras saat berniat baik melamar kakaknya yang bernama Gita. Dan asal Kak Andri, Papa dan Mama tahu, mereka menolak Mas Pras karena menyangka Mas Pras orang gak punya. Dan pasti mereka akan menyesal bila tahu Mas Pras sebenarnya adalah orang kaya—"


"Anna!" ucap Mas Pras yang mencekal lenganku berusaha menghentikanku bicara, tapi aku menampik tangannya dan melanjutkan ucapanku dengan menatap sinis ke arah Navita.


"Anna hanya khawatir, keluarganya hanya mau menerima Kak Andri karena memandang dari segi profesi dan juga materi!" tegasku yang membuat Navita memasang wajah takut. Sementara wajah Kak Andri berubah merah padam menatapku, dia nampak tersulut emosi.


Dan sebelum Kak Andri mengeluarkan suara, Mas Pras lebih dulu menarik lenganku dan berucap permisi untuk menyingkir terlebih dahulu.


Mas Pras menarik lenganku meski aku sudah berusaha protes padanya. Hingga sampai di belakang rumah dirinya baru melepas cekalan tangannya.


"Anna, bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu?" ucapnya terdengar dengan nada rendah tapi penuh penekanan.


"Aku bicara kebenaran Mas. Aku hanya ingin melindungi keluargaku dari orang-orang yang berpikiran picik. Dulu Mas Pernah di tolak oleh keluarganya karena Mas kekeuh menyembunyikan jati diri Mas. Aku yakin Kak Andri diterima oleh keluarga Navita pasti karena Kak Andri telah memiliki pangkat dan profesi yang baik dalam pekerjaannya. Bila saja mereka tahu Mas orang kaya, mereka tak akan menolak Mas."


"Dan Mas gak akan pernah menikah denganmu," sahut Mas Pras cepat yang ucapannya itu sontak membuatku tertohok.


Aku terdiam seolah terbungkam dengan kata-kata Mas Pras barusan. Kemudian tangan Mas Pras kali ini memegangi pundakku. "Allah telah mengatur semua makhluk di bumi ini. Itulah cara Allah mengatur pertemuan kita, bila saja keluarga Navita atau Gita lebih dulu menerima Mas, bisa jadi kita tidak pernah bertemu. Dalam hati Mas meyakini bahwa apa yang melewatkan Mas tak akan pernah menjadi takdir Mas, dan apa yang ditakdirkan untuk Mas tak akan pernah melewatkan Mas."


Sejenak Mas Pras menarik napasnya kemudian melanjutkan ucapannya, "Jangan mudah untuk menghakimi orang lain, sebab kita sebagai manusia mempunyai sisi baik dan buruk. Manusia tak diciptakan sempurna. Ada takdir yang mengiringi tiap jalan manusia, begitu pula Kakakmu yang telah mampu memperjuangkan sosok Navita hingga mendapatkan restu dari kedua orangtuanya."


Alisku berkerut dalam. "Memang apa istimewanya keluarga mereka?" tanyaku heran.


Mas Pras tersenyum tipis yang kemudian menjawab, "Karena setiap orangtua pasti menginginkan agar anaknya memiliki pendamping hidup yang terbaik."


Aku berdecak. "Mas, aku ngomong apa dijawab apa!" ucapku ketus.


Mas Pras menghela napas kemudian menjawab, "Ayahnya adalah seorang Komisaris Jendral Kepolisian Republik Indonesia."

__ADS_1


Aku pun menatap tak berkedip ke arah Mas Pras. "Mas bercandakan?" tanyaku tak yakin namun Mas Pras menjawabnya dengan gelengan kepala.


To be Continue


__ADS_2