
Mas Pras Pov
Baru saja lengan yang mendekap tubuhku mengendur. Sedikit memundurkan kepalaku, aku mulai mengamati lekat wajah wanita kecilku, istriku, ibu dari anak-anakku, Anna.
Kurapikan tiap helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya, yang nyatanya tak pernah bosan untukku memandangnya. Bibir bulat yang sedikit terbuka seolah menjadi daya tarik untukku tak henti mengecupnya.
Tidak. Aku menggeleng. Bukan hanya bibirnya, namun semua yang ada pada dirinya.
Aku pun menarik napas dalam, lalu mulai mengamatinya lamat-lamat. Hal yang paling kusuka dan hanya bisa kulakukan saat dirinya sudah terlelap. Karena jika dia terbangun perasaan yang membuncah dalam diriku seakan menguap.
Bagaimana tidak? Itu semua terjadi karena kesempatan yang kumiliki hanya terbatas. Aku menyadari dirinya tak nyaman untuk kudekati. Semua jelas terlihat dari bahasa tubuhnya, sikap dan tutur kata yang ditunjukkan padaku. Tapi yang terjadi justru sengaja aku menutup mata, membiarkan keegoisanku bergerak menguasai dirinya atas dasar ikatan suci pernikahan.
Pikiranku kini menerawang, tepatnya enam tahun silam. Diusiaku yang tergolong matang dan didukung dengan finansial yang lebih dari cukup, aku ingin segera mengakhiri masa lajangku. Memiliki sebuah keluarga merupakan impian terbesarku, sebab sudah sejak lama hidupku yang tanpa orang tua dan saudara membuatku benar-benar merasa kesepian, jadi cukup lama aku menyibukkan diri dan menghabiskan waktuku untuk menekuni pekerjaanku sampai akhirnya usaha yang kugeluti cukup maju.
Gita, wanita itu yang cukup lama mengisi hatiku. Teman dari semasa kuliah hingga menjadi penyemangatku saat aku jatuh bangun dalam meniti awal karirku, namun saat aku berniat hendak melamarnya nyatanya tak mampu bisa kuperjuangkan. Sebab lamaranku saat itu ditolak oleh keluarga besarnya.
Tak lama rasa sakit hatiku mulai mencair oleh keadaan yang mengharuskanku untuk menyibukkan diri pada perusahaan milik almarhum orangtuaku. Showroom mobil dengan beberapa cabang di kota besar yang statusnya baru berpindah alih ke tanganku, atas bantuan dari teman baik almarhum orangtuaku yang dipercaya sebagai pengacara mengurusi segala masalah yang berkaitan dengan hak milikku.
Aku tahu perjuangan yang beliau lakukan sudah amat banyak untuk keluargaku, termasuk untukku sendiri. Beliau bersedia menjadi wali pengganti dan mengurusi segala keperluanku hingga aku mampu untuk melakukannya sendiri.
Dan atas niatku untuk membalas budi kepada beliau, aku berniat menawarinya sebuah investasi sebagai jaminan di hari tua, bertujuan untuk mensejahterakan beliau dan keluarganya.
Namun sayang beliau justru menolak dan mengatakan jika jaminan hari tuanya terletak di tanganku.
__ADS_1
"Nikahi putriku," kalimat itu yang dilontarkan padaku.
Aku tak menolak tak juga kunjung mengiyakan, hingga hari setelahnya aku diundang untuk bertandang ke rumah beliau.
Dan hari itu tiba. Gadis yang baru pertama kali kulihat, dari atas tangga tangannya nampak bergelanyut pada lengan lelaki di sebelahnya, lebih tepatnya kakak lelakinya. Dia terus saja berbincang, sesekali wajahnya nampak bersemu disaat dia tersenyum. Perpaduan tiap lekukan di wajahnya nampak begitu indah juga ditambah tubuh mungilnya yang tak kuasa untukku merengkuhnya.
Jika saja suara deheman tak mengintruksiku untuk menoleh ke sumber suara, sudah dipastikan aku tak akan berhenti memperhatikan gadis itu.
"Dia putriku, Anna. Om rasa kamu tertarik padanya," ucap Om Anggoro yang menepuk bahuku.
Aku terdiam. Tubuhku kaku dan serta merta ada desiran aneh yang merambat di dalam hatiku. Cinta pada pandangan pertama. Secepat inikah perasaan ini? batinku.
Hingga waktu pun berlalu, sosok Anna bisa kumiliki. Hanya raganya tapi tidak beserta hatinya.
"Mas belum tidur?" gumam Anna yang sambil mengerjapkan mata. Sontak aku menggeleng pelan.
"Kenapa bangun?" ucapku pelan.
"Mas sendiri kenapa belum tidur? Besok kan harus bangun pagi-pagi, katanya ada perjalanan tugas ke Samarinda?" ucapnya yang makin merapat, menyandarkan kepalanya di dadaku.
Dengan tangan mengelus kepalanya akupun berkata, "Mas hanya belum bisa tidur."
"Apa yang Mas pikirkan?" tanyanya yang tiba-tiba mengangkat kepalanya menatapku dengan wajah sendu.
__ADS_1
Aku menghela napas berat, tanganku pun bergerak mengelus separuh wajahnya dan ingin sekali aku mengatakan bahwa, kamu milikku. Tapi sungguh rasanya begitu sulit, dan kali ini aku hanya mampu memberi isyarat dengan mengecup bibirnya.
Tanpa kuduga Anna kini justru membalasku, menggerakkan tangannya mengelus dadaku. Dan lelaki mana yang tak akan tergoda diperlakuan seperti ini, napasku pun tertahan lalu perlahan melepas kecupanku dari bibirnya. "Kamu menggodaku?"
"Mas..." sahutnya dengan suara merajuk, wajahnya nampak begitu bersemu malu. "Seminggu lagi kan kita gak bertemu," cicitnya lalu menunduk.
Aku menahan senyumku. Menjawil hidungnya lalu aku berkata, "Sekali saja ya habis itu tidur."
Sontak aku memajukan wajahku memulainya lebih dulu, mengecupi tiap inci wajahnya dan perlahan melepas pakaian yang aku dan dia kenakan. Dengan berhati-hati aku pun mulai memperlakukannya, sadar bahwa tak hanya kami berdua tapi juga ada janin dalam perutnya.
Setelah mencapai puncak, lenguhan kami kini menggema memenuhi ruangan. Dengan napas yang terengah tubuhnya pun mulai bersandar di atas dadaku, denganku yang segera menarik selimut menutupi tubuh polosnya, lalu menyeka peluh di dahinya.
"Bisakah Mas mempercayaiku?" gumamnya yang semakin beringsut mendekapku. "Anna akan berusaha untuk lakukan apapun."
"Kamu yakin?" sahutku dengannya yang menganggukan kepala dalam dekapanku.
"Lalu dengan cara apa?" ucapnya yang menarik diri lalu menatapku.
"Dengan aku yang mampu menjadi pemilik hatimu."
To be Continue
Jangan lupa komentar, kritik dan saran juga di Vote yaaaa
__ADS_1