Ruang Rindu

Ruang Rindu
Bab 37


__ADS_3

Beni terlihat sedang memikirkan beberapa cara untuk bisa mempertemukan antara Rindu dan Rasta.


Pada akhirnya mereka berdua akan benar-benar bertemu nantinya. Sang kekasih memberikan satu hal yang akan merubah segalanya.


"Kau bawa Rasta ke rumahmu, nanti aku akan urus Rindu," ucap Beni.


"Boleh juga."


Sang kekasih mau menuruti apa yang dikatakan oleh Erin.


Keduanya mulai memberikan satu kesempatan kepada Rasta dan Rindu biar bisa bertemu.


.


.


.


Dua hari kemudian ...


Rasta di jemput oleh Erin, dia bilang ada acara ulang tahunnya.


Sang ayah yang tak ada masalah dengan ini, lalu Erin segera membawa Rasta ke rumahnya.


Di dalam mobil, Rasta masih memikirkan sang tunangan.


"Apakah aku harus meninggalkan dia?" tanya Rasta pada Erin.


"Kau adalah orang yang baik, jadi tak perlu takut akan apapun."


Erin masih membiarkan perasaan Rasta bermain di sana.


Kini sang gadis terlihat sedang berada di bandara bersama Beni.


Dia bingung karena kedua matanya di tutup.

__ADS_1


"Ben, kau akan membawaku kemana?" tanya sang gadis.


"Nanti kau juga akan tahu!"


Beni membawa koper juga tas tas Rindu. Ia masukkan ke dalam bagasi.


Perlahan dia mengajak Rindu masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, sang pria langsung tancap gas menuju rumah Erin.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Erin, sang gadis selalu bertanya-tanya.


"Aku ada dimana sih? kenapa mataku di tutup?" tanya sang gadis dengan perasaan yang cukup gamang.


"Kau akan baik-baik saja."


Beni menenangkan.


Dia akan segera melakukan hal lain yaitu fokus pada jalanan.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Erin dengan mata yang berkaca-kaca.


Dia takut akan bertemu dengan Rasta.


"Apakah kau cemas? jika mempertemukan kau dengan seseorang?" jelas Beni mencoba memberikan satu shock terapi.


"Ben, ini tidak lucu sama sekali!"


"Iya aku paham, maka dari itu, masuklah kedalam. Kau harus paham apa yang sebenarnya terjadi."


Beni sedikit memaksa.


Hingga Rindu benar-benar masuk ke dalam rumah itu dan tidak menemukan apapun di sana.


Beni lalu berkata," Apa yang kau pikirkan, kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Kau ikut aku ke belakang rumah, ada Erin yang ingin mengatakan sesuatu kepadamu."

__ADS_1


Rindu hanya mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh Beni.


Sang gadis tak pernah mengetahui jika seorang Rasta ada di tempat itu juga.


Namun Beni menutupi itu semua demi kebaikan.


Hingga saat mereka berdua berada di taman belakang.


"Rasta?" ucap Rindu yang otomatis membuat sang pemilik nama menoleh.


Rindu ingin pergi, tetapi tak bisa.


Dia terperangkap dalam perasaannya.


"Kau selesaikan masalhmu dengan Rasta, kau masih suka dengannya kan?" tanya Erin sambil membawa gadis itu masuk ke dalam rumah kaca.


Keduanya di biarkan berada di sana untuk membuat kondisi lebih baik.


Di dalam rumah kaca ( Taman belakang) ...


Rindu tak mampu menatap wajah Rasta, sama seperti Rasta tak bisa berlama-lama dekat dengan Rindu.


Keduanya canggung.


"Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku bertanya?" batin Rasta.


"Aku akan menanyakan apa kepadanya?" gumam sang gadis.


Keduanya masih malu-malu dan tidak bisa mengungkapkan perasaan masing-masing.


Hingga pada akhirnya satu kata membuat Rasta harus menjelaskan segalanya.


"Siapa gadis yang bersama dulu di depan halte kampus?"


****

__ADS_1


__ADS_2