
Senja tak bisa menahan diri, lantaran rindu yang terus membuatnya resah. Rindu akan sosok Steven, Ia tak tahu bagaimana keadaan Steven sekarang.
Setelah sarapan, Senja langsung naik angkot. Yang Ia pikirkan hari ini adalah hanya ingin bertemu Steven, walau Ia tak tahu bagaimana caranya nanti.
Dalam angkot, aja hanya melamun. Terus memikirkan bagaimana caranya bisa menemui Steven, jika terang-terangan Bryan pasti langsung mengusirnya.
Drrtt... Drrtt...
Ponselnya bergetar, Ia segera membuka pola.
10 menit lagi!
Mata Senja seketika melotot, Ia lupa kalau ada ancaman dari SMS misterius itu. Rasa rindu yang tak terhanan membuatnya melupakan segalanya, termasuk resiko ancaman ini.
Rasa ketakutan itu seketika membuat tubuhnya menggigil, tak ada penumpang lain di angkot kecuali dirinya dan kenek.
Tak mau ambil resiko, Senja segera minta turun.
Baru saja mau turun, seseorang memukulnya dari belakang. Dan semua menjadi gelap.
***
Di Kampus,
Rey baru keluar dari kelasnya, seseorang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.
"Rey, ikut aku," ajak Merry yang langsung menarik tangan Rey.
"Apaan sih, lepas!" teriaknya mengibaskan tangannya.
Merry mengambil nafas dalam-dalam, terlihat ada kepanikan di wajahnya.
"Tak ada waktu Rey, kita harus menyelamatkan Senja. Dia dalam bahaya." Merry menjelaskan.
"Gak usah ngaco kamu, aku udah gak ada urusan lagi sama Senja. Jadi menjauhlah!" Rey segera meninggalkan Merry yang masih berdiri di tempatnya.
"Oke, kalau kamu gak mau bantu. Terserah!" Akhirnya habis sudah kesabaran Merry yang setipis tisu.
Rey menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Aku akan mengirim alamatnya, aku harap kamu bijak, atau kau akan menyesal!"
Merry kemudian pergi, tak sengaja Naila dan Sifa yang kebetulan lewat mendengar.
"Ehem..." Sifa berdehem, "Kak Rey, maaf tadi sedikit mendengar. Senja kenapa ya?"
Rey menatap datar Sifa, gadis itu seketika bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kata Merry dia dalam bahaya, aku yakin itu hanya akal-akalan dia saja." jawab Rey langsung pergi.
"Nomornya gak aktif!" teriak Naila yang langsung menghubungi nomor Senja, Rey yang belum jauh ikut mendengar tapi tak peduli.
"Apa benar yang di katakan Merry?" tanya Sifa merinding.
"Lebih baik kita langsung tanya Ibu Susi." usul Naila.
***
Senja mengerjapkan matanya, tengkuknya terasa sakit sekali.
Ia membuka matanya, pandangannya agak kabur. Ia menatap sekeliling, pandangannya perlahan kembali jelas.
"Aku dimana?" gumamnya pada diri sendiri, matanya memindai tempat asing.
Ruangan kotor, penuh coretan dan lembab. Ini seperti rumah kosong, aku dimana?.
"Ini tempat apa? aku dimana?"
Ketika hendak berdiri, sesuatu menahannya. Ia melihat tangannya di ikat, tubuhnya tertahan di sebuah kursi dengan ikatan melilit tubuhnya. Seketika Ia panik dan ketakutan setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya, ya dia di culik.
"Tolong!! tolong aku!" teriaknya sekeras mungkin, berharap ada seseorang mendengar dan mau menolongnya.
"To_
***
Sifa dan Naila yang sampai di kontrakan Ibu Senja, segera menanyakan keberadaan Senja. Kata Ibunya Senja, tadi Ia pergi katanya mau menemui Steven.
Sifa dan Naila semakin berprasangka tak baik, mereka was-was siapa tahu yang dikatakan Merry benar.
Setelah mendapatkan alamat rumah Pak Hendra, mereka langsung kesana secepatnya.
Setelah naik angkot sekitar 20 menit, akhirnya mereka sampai.
Mereka di sambut satpam, lalu Rio menemui mereka. Sifa dan Naila segera memperkenalkan diri, lalu menanyakan keberadaan Senja.
Rio pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa Senja telah di usir dari sana jadi tak mungkin kesana.
Sifa dan Naila tampak begitu syok setelah mendengar cerita Rio, sungguh mereka tak menyangka Senja telah melalui ujian yang sangat berat.
Rio yang mendengar bahwa Senja sedang dalam bahaya langsung ikut panik, mereka bertiga segera ke sekolah Steven, siapa tahu Senja kesana menemui Steven.
Tak butuh lama, mereka sampai di sekolah Steven. Alangkah terkejutnya mereka mengetahui fakta yang mengejutkan, bahwa kepala sekolah mengabarkan Steven hilang pada saat jam istirahat dan sampai sekarang belum ketemu dan masih dalam pencatatan.
Mereka segera menghubungkan itu dengan Senja, dan perkataan Merry tadi. Mereka tak punya waktu banyak, sehingga memutuskan menemui Rey. Karena Merry memberitahu ini kepada Rey, jadi pasti Rey dapat petunjuk.
__ADS_1
Di tempat lain, Rey sedang mengerjakan tugas kuliahnya di sebuah rumah makan, pikirannya tak fokus sama sekali dengan tugas yang Ia kerjakan, malah fokusnya teralih pada chat dari Merry yang me-share sebuah lokasi.
Rey meyakinkan dirinya bahwa Merry tak serius dengan ucapannya, bisa jadi Ia punya rencana jahat. bukankah Ia punya dendam dengan Senja.
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, nomor tanpa nama. Ia langsung mengangkatnya siapa tahu penting.
"Hy Kak, ini Sifa temennya Senja. Kakak dimana sekarang?"
Rey mengingat-ingat, ternyata yang menanyainya tentang Senja tadi di kampus.
Rey langsung memberikan alamat runah nakan dimana Ia sekarang berada, setelah telepon terputus. Rio, Sufa dan Naila langsung menuju tempat Rey makan.
Baru beberapa meter berjalan, Bryan kakaknya menelpon.
"Kamu dimana Rio?"
"Di jalan, mencari Steven." Jawabnya jelas.
"Steven di culik, orangnya minta tebusan 19 milliar!"
"Apa!!" teriak Rio kaget.
"Aku akan menelpon lagi, sekarang aku sama Papa lagi di kantor polisi."
Panggilan terputus, Sifa dan Naila beradu pandang bingung.
***
"Siapa kamu?" Senja meronta-ronta, mebatap takut pada seseorang yang mendekat ke arahnya.
"Tak perlu tahu siapa aku!"
Senja menelan ludahnya, menatap ngeri pada pistol yang ada di tangan orang bertopeng dan berpakaian serba hitam itu.
"Tolong!! tolong!" teriak Senja semakin histeris ketika orang itu semakin mendekat.
"Berteriklah sekuat yang kamu bisa, tak ada yang bisa mendengar suaramu!"
"Si-siapa kamu, kenapa kamu mencekikku?"
Orang itu seketika tertawa besar mendengar pertanyaan Senja.
"Tentu aku akan membunuhmu! kamu penghalang bagiku, kamu harus mati!"
Deg!
***
__ADS_1