
Meski mataku terpejam, aku tak juga kunjung tidur. Posisiku kini berada di pinggir ranjang sementara Mas Pras berada di tengah-tengah. Tadi dia mengatakan kalau seandainya Aqila berada di tengah, takutnya pada saat tak sadar kejadian yang dulu bisa terulang lagi, jadinya aku mau saja menyetujui usulnya.
Namun justru yang terjadi kali ini adalah aku sulit sekali untuk tidur, padahal kuyakin malam sudah begitu larut.
Ingin rasanya aku menggerakkan tubuhku terlentang barang sejenak tapi aku merasa seperti begitu sulit melakukannya, sebab jarakku dengan Mas Pras amat sangat dekat. Ditambah dengan ranjang sempit ini makin mengikis jarak kami.
Menit berlalu menjadikan tubuhku terasa pegal dan mungkin sebentar lagi aku akan merasakan kram. Dengan pelan aku pun memutuskan untuk menggerakkan tubuhku. Meski kurasa gerakanku sudah amat samar nyatanya ranjang di belakangku terasa sedikit bergoyang.
"Kamu belum tidur?" ucap Mas Pras dengan nada pelan.
Aku kembali menutup rapat mataku kemudian mengurungkan niat awalku tadi, jadi kali ini aku masih bertahan dengan posisi memunggunginya berpura-pura untuk tidur.
__ADS_1
Dan yang terjadi kali ini justru ranjang di sisiku melesak, aku yakin Mas Pras terbangun dan sekarang dalam posisi duduk. Dan tak lama seperti kurasakan sebuah lengan mengulur menarik sesuatu pada betisku. Dengan perlahan lalu naik, lengannya semakin bergerak dari bawah ke atas untuk menutupi tubuhku dengan selimut yang tadinya telah melorot tanpa kusadari.
Sungguh apa yang dilakukannya kali ini membuat jantungku berdebar layaknya tadi saat telapak tangannya menyentuh perutku untuk yang ke dua kali usai malam yang dulu.
Perasaan ini sungguh membuatku tak nyaman. Kenapa harus semendebarkan ini, kupikir apa karena ada yang tak beres dengan jantungku.
Aku kini makin meremas kuat ujung selimutku disaat Mas Pras kembali membaringkan tubuhnya di sisiku. Ada getaran aneh saat tubuh kami sedikit bersenggolan. Dan yang paling menyebalkan adalah perasaan menginginkan. Aku berharap dia bergerak lebih dekat untuk mendekapku dari belakang seperti dulu. Tapi kupikir itu tak kan mungkin.
Gak, kuat berusaha aku menampik lalu memaksa diri untuk serapat mungkin memejamkan mata, namun kali ini kurasakan sesuatu mendadak membuat jantungku berdebar menjadi lebih kencang dari yang semula.
Dan benar. Napasku kini tercekat, dalam minimnya cahaya sebab lampu kamar dimatikan, samar aku melihat lengannya yang tengah melingkupiku. Sementara wajahnya bisa kurasakan telah menempel di tengkukku.
__ADS_1
"Aku melakukan ini agar kamu gak terjatuh," ucapnya yang kali ini terdengar berbisik.
Sesak sudah benar-benar menguasai dadaku. Hembusan napasnya kurasakan mulai menyapu tengkukku, menggelitiki sukma jiwaku. Apa ini? Dulu kami sering dalam posisi ini tapi kali ini yang terjadi justru jantungku kian berdetak tak karuan.
Dan pertanyaannya sampai kapan aku mampu bertahan dalam situasi ini? Tak mungkin aku beranjak bangkit lalu meninggalkannya, sementara bila ku boleh jujur posisi ini amat nyaman. Atau aku membalikkan tubuhku saja lalu membalasnya?
Hatiku menjawab, rasanya itu tak mungkin sebab Mas Pras pasti akan menolakku seperti yang dulu-dulu.
"Tidurlah. Ibu hamil gak baik tidur terlalu larut," bisiknya lagi terdengar pelan di telingaku, dan hal itu kuyakini dirinya memang tahu bahwa aku belum tidur.
To be Continue
__ADS_1
Jangan lupa kasih komentar, Jempol juga di Vote
Apa yang terjadi dengan besok??? moga bisa double update lagi