Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 83


__ADS_3

"Belum tidur?" tanya Mas Pras saat memasuki kamar, terlihat sebelah tangannya terdapat satu gelas susu dan perlahan dengan satu tangannya yang bebas dia menutup pintu.


"Belum ngantuk," sahutku sambil menggeser tubuhku ke sisi ranjang memberi tempat untuknya.


Di ponsel yang telah kupegang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Selain aku belum mengantuk, aku juga sengaja menungguinya. Sebab kalau aku langsung tertidur waktu kebersamaan dengannya tak akan lama, esok pagi dia akan pergi ke bandara.


"Diminum dulu," ucap Mas Pras sambil menyodorkan segelas susu padaku.


Tanpa bantahan aku langsung menegaknya meski rasa dan bau amis berpendar di mulutku.


"Gak enak," keluhku usai menegak habis dan menyodorkan kembali gelas kosong padanya, tapi Mas Pras justru geleng kepala dan satu tangannya bergerak mengacak rambutku sebelum menaruh gelas itu di atas nakas.


"Sudah malam ayo tidur," ucapnya yang hendak merebahkan diri namun diurungkan sebab tangannya kini terulur menyeka sudut bibirku yang terdapat sisa susu. Sontak membuat mataku membeliak atas perlakuannya.


"Sengaja?" ucapnya dengan menampakkan senyum serigai.


Sontak aku menggeleng. "Mana mungkin?" sahutku menampik ucapnya. Sungguh diperlakukan seperti ini membuat jantungku berdebar, apalagi Mas Pras beranggapan aku minum belepotan dengan sengaja, yang jelas sih tidak.

__ADS_1


"Ponsel kamu bunyi," ucap Mas Pras dengan sorot mata mengarah pada ponsel yang berada di atas pangkuanku yang tengah berdering.


Namun saat aku melihat nama seseorang yang tertera di layar seketika membuat wajahku pias.


"Kenapa gak diangkat?" tanya Mas Pras lagi sebab aku tak kunjung mengangkat telpon, apalagi melihat ekspresiku yang nampak berubah membuat dirinya menegapkan tubuhnya, yang kemudian merangsek mengambil ponsel dari genggaman tanganku.


Dering ponsel itu terhenti dan yang kulihat wajah Mas Pras nampak berubah datar ditambah ada satu notifikasi menandakan terdapat pesan masuk, yang dengan segera dibuka olehnya.


"Kamu masih berhubungan dengan lelaki ini?" tanyanya dengan raut wajah datar.


"Mas—aku bisa jelaskan," kataku gelagapan.


"Dia berencana akan mengajakmu tinggal bersama usai kita berpisah. Di Singapura!" tegasnya dengan melempar ponselku ke tengah ranjang.


Mataku yang semula menatap ke arah ponsel kini kembali mengarah menatap Mas Pras dengan mata berkaca.


"Itu gak seperti yang Mas pikirkan," kataku mencoba meraih lengannya tapi Mas Pras terburu bangkit dari ranjang.

__ADS_1


"Baru beberapa jam lalu kamu mengatakan mempercayai Mas. Dan sekarang rasanya Mas ragu untuk balas mempercayai kamu," ucapnya dengan meninggikan suara.


"Mas, Anna memang belum mengatakan apa-apa pada Kak Adrian," ucapku mengakui.


Mas Pras mendengus lalu melempar pandangannya ke arah lain. "Mas gak akan bisa mempertahankan hubungan ini kalau kamu terus saja berhubungan dengan laki-laki itu."


Tubuhku melemas, dengan kuat aku menggelengkan kepala berusaha menolaknya. "Mas—"


"Atau tetap bertahan disini dan kamu mengakhiri hubunganmu dengan lelaki itu. Hanya itu pilihanmu," tegasnya lalu beranjak menuju ke arah pintu.


"Mas mau kemana?" ucapku meninggikan suara yang sontak menghentikan langkahnya. Dengan segera aku bangkit dari ranjang, berjalan dengan cepat guna menghalangi langkahnya yang hendak keluar kamar.


"Mas boleh marah sama Anna. Anna sudah mengaku salah. Tapi jangan begini— jangan diamkan Anna. Anna minta maaf. Kasih kesempatan buat Anna memperbaiki ini semua," ucapku meraih dan mencengkeram ke dua lengannya. Aku bersikeras dan berucap sungguh-sungguh meski Mas Pras tak menatap wajahku.


Air mataku makin deras mengalir. "Mas boleh memarahiku, asal jangan mendiamkanku. Aku mohon," kataku yang berusaha mendekapnya.


Namun dengan segera Mas Pras melepas pelukanku yang membuatku menangis lebih keras, tak peduli pekikanku menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


Tapi yang terjadi kali ini Mas Pras menangkup wajahku dan berkata, "Kamu yakin akan meninggalkan lelaki itu?" Dan dalam isakanku aku mengangguk menanggapinya lalu merangsek masuk ke dalam pelukannya.


To be Continue


__ADS_2