Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 68


__ADS_3

Suara dering ponsel membuatku teralih. Aku menyeka air mataku yang masih menggenang di pelupuk mata, kemudian meraih ponsel yang berada di atas nakas. Setelah kulihat nama Mama tertera disana.


"Ya Ma," sahutku dengan suara yang terdengar parau walau aku sudah mencoba berdehem berusaha menormalkan suara.


"Kamu nangis An?" terdengar ucapan Mama dengan suara khawatir.


"Gak Ma. Kondisi aku saja yang lagi kurang baik," sahutku berusaha menampik, diiringi aku bergerak perlahan mendudukan diri di tepian ranjang dengan kaki menjuntai menapaki lantai.


Mama menghela napas dan kembali berucap, "Kamu sakit lagi. Kamu itu sebenarnya mikirin apa sih? Selama masa kehamilan kan juga cuma dirumah gak beraktivitas apa-apa?"


"Anna gak tahu Ma," sahutku sekenanya.


Kini justru Mama berdecak. "Selama masa kehamilan jaga kondisi kamu. Perhatikan pola pikir juga jaga pola makan." Mama mendesah lalu melanjutkan kalimatnya, "Mama sebenarnya ingin kesitu jenguk kamu juga Aqila. Tapi kondisi Papa juga sedang gak memungkinkan untuk Mama tinggal."


"Papa sakit Ma?"


"Kolesterol tinggi, kemarin sudah dibawa ke dokter hanya perlu perawatan. Sebentar juga pasti pulih," jelas Mama yang membuatku sedikit khawatir.


"Apa Anna yang kesana saja kalau begitu Ma. Mama sama Papa kan cuma berdua dirumah, pasti Mama kerepotan selama Papa sakit."


"Kamu gak usah khawatir, Pras sudah pekerjaan dua orang dirumah buat bantu-bantu selama Papa dalam keadaan sakit. Yang Mama khawatirkan justru kamu, Mama yakin kamu sakit karena ngeyel juga keras kepala. Kamu itu sudah menikah, tanggungjawab yang Mama dan Papa emban sudah beralih ke suami kamu. Jadi selama apa yang dikatakan dan diperintah oleh suamimu itu baik, ya kamu nurut. Gak usah mikir yang aneh-aneh, suami kamu itu baik," terang Mama membuatku terdiam tak mampu menanggapi.


Namun dalam batinku mempertanyakan, kebaikan yang Mama sebutkan tadi seolah membuatku berfikir bahwa itu adalah bentuk dari balas budi yang Mas Pras lakukan untuk Papa karena apa yang telah Papa perbuat di masa dulu untuk keluarga Mas Pras.


Dan aku semakin meyakini bahwa kehadiranku disini hanya sebagai timbal balik juga pelarian semata.


Kini aku membungkam rapat mulutku berusaha tak mengeluarkan suara tangis selama sambungan telpon masih terhubung, sementara Mama terus saja memberi nasehat dan jujur aku hanya tenggelam dalam pikiranku sendiri.


Namun tak lama terdengar ketukan pintu, hingga aku mulai berucap pada Mama kalau ada seseorang yang tengah mencariku. Usai sambungan telpon terputus aku menyahuti seseorang yang diluar untuk masuk.


"Ada apa Bik?" kataku usai menyeka sisa air mata yang membasahi pipiku.

__ADS_1


"Saya kesini mengantar teman-teman Nyonya," kata Bik Mar dan kini Nisa serta Vera muncul usai pintu terbuka lebar.


Senyumku terbit dengan Nisa yang merentangkan tangannya mendekat ke arahku untuk memelukku. "Tahu gak sih aku kangen banget, lama gak ketemu," ucapnya dengan memelukku erat dan aku menganggukan kepala diatas bahunya.


"Ya ampun tambah kurus, tapi beralih ke perutnya yang gendut," komentar Nisa saat menarik diri sambil memperhatikan penampilanku dari kepala sampai kaki.


Aku menanggapinya dengan tersenyum dan menyeka sudut mataku yang kembali berair.


"Kalau begitu Bibik tinggal dulu," ucap Bik Mar pamit dan menutup pintu.


Kulihat Vera meletakkan dua papper bag di atas meja, lalu mendekat padaku. "Habis nangis?" tebaknya mendudukan diri di sampingku


Aku menarik sudut bibirku menatap Vera lalu menghambur ke pelukannya dan kembali menangis menumpahkan semua perasaan yang menyesak dalam hatiku.


Kedua temanku yang paham aku tengah miliki masalah, kini mereka berusaha tetap diam dengan memberi kesempatan aku menangis terlebih dahulu sampai aku merasa tenang dengan sendirinya.


Tepukan di punggungku dan balasan pelukan dari Vera seakan memberiku sedikit demi sedikit ketenangan, hingga perlahan aku menarik diri dan mulai mengatur nafas yang selayaknya kian tersangkut-sangkut.


"Surprise," sahut Nisa menatapku dengan tersenyum yang dipaksakan.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" kataku yang menatap mereka berdua bergantian.


"Karena kamu terlihat kacau," sahut Vera menatapku intens.


Aku menarik sudut bibirku mencoba tersenyum menanggapi. "Pasti aku jelek banget," ucapku mengomentari diri.


"Cukup memprihatinkan," sahut Vera lagi yang masih lekat menatapku, aku tahu dia sedang menanti penjelasanku. Tapi kini aku menggigit bibir dalamku dan tersenyum getir.


Vera mengangguk paham lalu dia berucap, "Udah lama kita gak keluar bareng, gimana kalau kita bertiga jalan?"


"Iya, aku rasa memang perlu kita ajak bumil satu ini jalan-jalan," sahut Nisa mengiyakan. "Ya udah sana ganti baju kita tungguin," sambungnya yang menyuruhku untuk bersiap diri.

__ADS_1


Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar bersama Vera dan Nisa. Namun sebelum aku pergi, aku menyempatkan untuk mengirim pesan pada Mas Pras meminta ijin keluar rumah sebentar.


Ketika sampai diruang tamu kulihat Aqila tengah sibuk dengan mainannya, tapi ketika melihat aku berpenampilan berbeda yakni memakai pakaian yang lebih rapi dia mulai beranjak berdiri mendekat padaku.


"Mama kemana? Kila ikut?" ucapnya yang menarik ujung dress, pakaian yang kukenakan.


"Mama mau keluar sebentar, Aqila di rumah ya," kataku yang berusaha membujuknya tapi Aqila cemberut dan menggeleng. Meremas kuat ujung pakaianku bersikukuh untuk ikut.


"Gak apa-apa ajak saja deh," sahut Nisa yang kini berjongkok mensejajarkan tingginya dengan putriku. "Ikut Mama, sama Tante ya?" kata Nisa dengan mengulurkan kedua tangannya berniat membawa Aqila dalam gendongan.


Aqila pun mengangguk dan beralih menerima uluran tangan Nisa untuk di gendong.


"Gak ngrepotin kan?" kataku yang meyakinkan teman-temanku.


"Gak, malah jalan-jalan kita jadi seru," sahut Nisa yang mengecup pipi putriku.


Akupun mengangguk dan beralih meminta pada Siti untuk mempersiapkan beberapa keperluan milik Aqila, termasuk susu formulanya.


Usai barang bawaan Aqila siap, kini kami mulai bersiap pergi dengan mobil yang dikendarai oleh Vera. Dalam perjalanan kami mulai berbincang, tak jarang Aqila yang duduk bersamaku di jok belakang berceloteh disahuti oleh Nisa dan juga Vera.


"Tadi kami sempat bertemu suamimu sebelum menemui di kamar. Apa kalian ada masalah?" tanya Vera yang melirikku dari arah spion depan.


Aku mengerutkan keningku membalas menatap pada Vera yang dirinya kinikembali fokus menatap ke arah jalanan. "Jadi waktu kalian sampai disini bertemu dengan Mas Pras, lalu apa kalian sempat mengobrol?" ucapku bertanya.


"Gak. Begitu kita tiba tadi suamimu langsung menyuruh aku dan Vera ke atas buat menemui kamu," sahut Nisa membuatku kini menelan gumpalan saliva di tenggorokanku.


Aku lalu menyandarkan punggungku kembali pada jok mobil. Itu artinya Mas Pras tahu bahwa tadi aku menangis, batinku.


To be Continue


Apa yang terjadi besok, yukkk komen, jempol juga jangan lupa di VOTE..... kali aja aku bisa tambahkan episode barunya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2