Ruang Rindu

Ruang Rindu
Penculikan 2


__ADS_3

Rio sedikit mempercepat laju mobilnya menuju tempat diamana Rey tengah mengerjakan tugas kuliahnya, di sebuah rumah makan dekat Mall.


Sesampainya di rumah makan yang di klukan oleh Rey, mereka bertiga langsung masuk. Rio di depan, diikuti Naila dan Sifa di belakang.


"Itu dia!" Sifa menunjuk sebuah bangku, Rey tengah menyeruput jus jeruknya.


"Rey!" teriak Rio setengah berlari menghampiri.


"Apa Merry memberitahu sebuah lokasi?" tanya Rio setelah tepat berada di depan Rey.


Tanpa bicara apapun Rey membuka ponselnya, lalu menunjukan chat dari Merry yang memberitahukan sebuah alamat. Rio langsung memfotonya.


"Senja hilang Kak Rey." Celetuk Naila memberitahu.


Rey tersenyum sinis, lalu menatap Naila dengan sikap meragukan.


"Berhenti memainkan lelucon ini, aku tahu kalian sengaja menyusun rencana ini untuk mendekatkan kembali aku dan Senja kan?"


"Kak Rey, apa yang dikatakan Naila benar. Kita sudah mencari Senja kemana-mana tapi gak ketemu." Tukas Sifa membenarkan.


"Keponakanku Steven juga hilang Rey, Papa dan Kakakku sedang di kantor polisi untuk melapor. Orang itu menculik keponakanku, meminta tebusan 10 M. Dan yang paling dekat dengan Steven adalah Senja, kemungkinan besar Senja ikut di culik." Rio menimpali, senyum Rey seketika memudar.


Rey masih saja diam, tak ada reaksi berlebihan atau kawatir.


"Kita harus segera menemukan tempat itu tidak boleh membuang-buang waktu atau akan terlambat." Usul Sifa mulai panik.


"Kamu benar, kalau gitu kita pamit Rey. Terimakasih alamatnya." Rio segera bergegas.


"Tunggu!" panggil Rey. "Aku ikut kalian."

__ADS_1


Tanpa ada persetujuan atau penolakan mereka langsung menuju mobil yang terpakir, sekarang mereka berempat.


***


Di kantor polisi.


Bryan panik, beberapa kali Ia menelpon Mawar ingin memberitahu tentang Steven anak mereka yang sekarang di culik oleh seseorang yang meminta tebusan. Tanpa Bryan tahu Mawarlah dalang dari semuanya.


"Bagaimana Bryan?" tanya Papa Hendra.


"Nggak di angkat Pa."


Drrtt..... Drrtt


SMS masuk, dari nomor yang sama. Nomor penculik yang meminta tebusan sebelumnya.


"Siapkan uang 10 miliar yang aku minta, aku beri waktu 60 menit dari sekarang. Jangan coba-coba melapor polisi! kalau aku tahu kau melakukan itu, saat ini juga aku bunuh anakmu!"


"Ada apa Bryan?" Papa penasaran melihat ekspresi anak sulungnya itu.


"Dia mengancam akan membunuh Steven Pa kalau kita lapor polisi," jawab Bryan ketakutan. "Kita terlanjur melaporkan kasus penculikan ini."


"Kamu tenang, Papa yakin Steven pasti selamat. Penculik iti tidak akan melukai Bryan."


***


Di tempat yang berbeda,


Merry tampak mengendap-endap masuk ke sebuah rumah yang terbengkalai, banyak sekali tanaman liar yang merambat ke bangunan.

__ADS_1


Rumah terbengkalai itu agak jauh dari keramaian, sehingga membuat efek seram dan menakutkan.


Merry memberanikan diri masuk, Ia sendiri tanpa siapaun yang ikut dengannya.


Meery mulai memasuki area rumah, sepi, senyap dan lembab. Lantainya penuh dengan lumut, membuat Merry beberapa kali hampir terplset.


Dengan hati-hati Ia menyusuri setiap lantai dan kamar, karena rumah megah terbengkalai itu ada 3 lantai.


Merry mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sesuatu sembari memasang sikap waspada.


Tak ada tanda-tanda ada orang disana, sepi sekali bahkan suara burung liar pun tak terdengar. Hanya ada suara angin yang membuat bulu kuduk Merry berdiri.


Setelah mengitari lantai satu, tak ada apapun. Semuanya kosong, Merry melanjutkan pencariannya ke lantai dua.


Ia menaiki undakan tangga yang dipenuhi tanaman liar, membuatnya harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir.


Saat akan sampai di lantai dua, Merey memicingkan matanya. Ada sepatu anak kecil, masih baru dan bagus. Ia segera memungutnya, mengamatinya dengan teliti.


"Ini masih baru, berarti ada seseorang. Tak mungkin jika ditinggal lamanya dengan dikosongkannya rumah ini, sepatunya masih terlihat baru. Harusnya sudah berlumut." Gumam Merry pada dirinya sendiri.


Merry membawa sepatu itu sembari mengelilingi lantai 2, lagi-lagi tak ada siapapun atau tanda-tanda.


Merry melanjutkan ke lantai tiga, disana juga sepi. Tapi samar-samar Ia mendengar seseorang tengah berbicara.


Ia menyusuri lagi, sampai si ujung lorong. Tanpa Ia sangka Ia akan bertemu seekor tikus, Ia ketakutan setengah mati. Ia mundur-mundur menghindari tikus itu, sampai tak sengaja ia menabrak sebuah guci tua di belakangnya hingga pecah.


PRANG!!


"Siapa itu!" teriak seseorang dari salah satu ruangan, Meery segera menutup mulutnya. Lututnya tiba-tiba lemas, tubuhnya juga mulai gemetaran.

__ADS_1


Bersambung_


__ADS_2