
Sepulang jalan-jalan dengan Pak Ben, Senja hanya mengurung diri di kamar terlebih karena trauma dengan SMS ancaman dari orang misterius yang membuat Steven celaka.
Ia masih mengingat betul kecelakaan itu, walaupun tak melihatnya langsung, Steven yang berdarah-darah cukup membuatnya ngeri, membayangkannya saja membuatnya ketakutan setengah mati.
Sudah seminggu Ia izin dari kampus, Naila dan Sifa sesekali menjenguknya. Ia tak sakit badan, tapi lebih ke psikisnya.
Senja masih terbaring dengan tatapan kosong mengarah ke dinding, memegang ponselnya dengan sangat erat.
Kreak
Pintu kamar terbuka, Ibunya masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Kamu makan dulu ya nak, jangan terlalu memikirkan rumah tanggamu," ucap Ibu Susi sambil meletakkan nampan di meja samping ranjang, Senja masih tak merespon.
Ibunya duduk di tepi ranjang, menatap anak kesayangannya dengan perasaan sedih.
"Jangan pikirkan Bryan lagi Nak, masih ada Ibu yang selalu ada buat Senja."
Ibunya tak tahu, bukan itu masalah yang dihadapi anaknya. Bahkan jauh lebih parah, bahkan tak akan terlintas dalam pikirannya. Masalah Bryn bagi Senja tak ada apa-apanya, Ia sudah terlatih kuat untuk hal semacam itu sejak kecil, bahkan dari kecil Ia sudah diterpa dengan masalah perselingkuhan ayahnya. Masalah yang cukup serius untuk seorang anak kecil, tapi dari itu Ia belajar untuk iklas dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
"Nak... ayo makan," bujuk Ibunya, Senja sendiri masih diam entah apa yang sedang dipikirkannya.
Senja masih mengingat pesan itu, pesan ancaman yang mungkin saja akan merenggut nyawanya.
Ia begitu ketakutan jika membayangkan dirinya mati dibunuh, Ia tak berani keluar rumah dan hanya mengurung diri. Tak ada keberanian untuk menceritakan hal itu pada siapapun, atau sekedar melaporkan pada polisi.
Ibu Susi membelai lembut kepala Senja, hangat tangan tuanya membuat kesadaran Senja lambat-lambat mulai kembali.
Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena harus berpisah dengan Bryan, tapi rindu akan Steven yang begitu besar. Betapa Ia menahan rindu itu, membuat hatinya terasa teecubit, sakit sekali. Kenyataan membuatnya tak bisa menemui sang anak yang sangat Ia sayangi.
__ADS_1
Air mata mulai merembes, membasahi bantal yang menopang kepalanya. Ibu Susi segera mengusapnya lembut, merasa sedih tak bisa melakukan apapun untuk membuat putrinya kembali ceria. Ia tak tahu, betapa menderitanya sang anak. Melakukan pernikahan dengan terpaksa, di benci suaminya, melihat suaminya berselingkuh, di benci keluarga Papa Hendra, dipisahkan dengan Steven dan yang paling membuatnya putus asa adalah ancaman pesan misterius.
Senja bangkit dan segera memeluk ibunya, bagaimanapun pundak Ibu akan selalu ada untuknya. Ia tumpahkan seluruh air mata kerinduan dan ketakutan yang mencampur jadi satu.
Ibu Susi ikut menangis, merasakan kesedihan anaknya yang teramat dalam.
*Tok..
Tok*.
Samar-samar terdengar seseorang mengetuk pintu, Ibu Susi melepas pelukan.
"Sepertinya ada tamu," Ibu Susi menyeka air matanya, lalu pergi membuka pintu.
"Merry!" pekik Ibu Susi terkejut, seketika bayangan malam paling buruk dalam hidupnya muncul, malam dimana Ibu Merry merebut suaminya terang-terangan.
Suara Ibu Susi yang kaget terdengar keras, membuat Senja ikut mendengar dan tahu bahwa Merry datang.
"Ada perlu apa?" tanya Ibu Susi ketus.
"Mau ketemu Senja," jawabnya enteng dengan gaya jijik.
Senja yang sudah ada di belakang Ibu Susi muncul, membuat Merry tersenyum puas.
"Apa belum puas membuat hidupku hancur!" Senja melotot, membuat Merry syok. Ini pertama kalinya Ia melihat wanita selembut Senja marah.
"Apa belum puas menghancurkan pernikahanku dengan menyebarkan surat kontrak itu?!!" Nada bicara Senja semakin meninggi, emosinya juga tak terkendali. Seperti lama ingin mengungkapkan itu.
"Ma-maksud kamu apa Nak, surat perjanjian?" tanya Ibu Susi tergagap, tak mengerti apa maksud ucapan anaknya barusan.
__ADS_1
"Apa maksudmu!" tanya Merry seolah-olah tak tau apa-apa, membuat pertanyaan Ibu Susi hilang dan terabaikan.
"Kamu kan yang sengaja menyebarkan kontrak itu, membuat aku di usir seperti maling!"
"Apa!!" Merry tampak syok,
"Dan kamu juga kan yang hampir membunuh Steven!" tuduh Senja.
"Apa maksudnya?" Ibu Susi semakin tak mengerti dan kebingungan, tapi Senja yang sudah termakan amarah seakan tak mendengar dan fokus menatap Merry dengan amarahnya yang berapi-api.
"Steven?" Merry tampak bingung, tapi Senja yakin itu hanya akting.
"Jangan pura-pura bodoh!" bentak Senja, membuat Ibu Susi terperanjat. "Kamu kira aku tak tau akan rencana busukmu! apa salahku padamu? bukankah aku sudah jauh dengan Steven? kenapa kau masih mengincarku!"
Merry menelan salivanya melihat kilat kemarahan Senja yang seperti orang kesurupan, membuatnya tak cukup membantah.
"Lihat ini!" Senja menunjukkan ponselnya, "Ini kamu kan?".
Merry menyipitkan mata dengan sikap angkuhnya, menatap tulisan di ponsel milik Senja.
" Kau akan mati! karena kau penghalang besar!"
Merry tertegun melihat kalimat itu, tapi tak ada niatan untuk menjawab 'Iya'
"Pergi kamu dari sini!" usir Senja, membuat Merry kehilangan semua kata-katanya, bahkan Ia lupa dengan apa tujuannya kemari. Kemarahan Senja sungguh mengerikan!
"Sial!" batin Merry yang mulai melangkah pergi.
Senja menangis sesenggukan, segera memeluk Ibunya.
__ADS_1
Sejuta pertanyaan tersimpan dalam benak Ibunya yang akan Ia tanyakan, tanpa sengaja dan di luar kendali Senja Ia membongkar sendiri rahasia yang di pendamnya dari Ibunya.
***