Ruang Rindu

Ruang Rindu
Hitam dan Besar


__ADS_3

"AAAAA!!"


Teriakan Naila menyusul, mereka berdua panik.


"Lari kesini!!" teriak Kak Rio melambaikan tangannya.


Naila dan Sifa langsung berlari secepat yang Ia bisa, sesuatu yang sebesar kambing itu terus mengejar mereka.


Rey sudah siaga dengan balok kayu di tangannya, menantikan momen tepat untuk memukul mundur.


"Cepat!!" teriak Bryan ikut panik.


Beberapa detik kemudian, mereka sampai di tempat Kak Rio.


Sesuatu itu tampak marah dan terus mengejarnya, mungkin karena mereka memasuki kawasan mereka tanpa izin.


"Itu Babi!" teriak Rio memberitahu yang lain, setelah tubuh besarnya terlihat kesusahan berlari ke arah mereka.


"Biar aku hadang dia! kalian mundur." Rey dengan gagah berani di barisan paling depan, yang lain mundur beberapa langkah. Sifa dan Naila saling berpelukan karena takut.


Babi itu tinggal beberapa meter bisa menyeruduk mereka, sampai Rey memukul kepalanya dan membuat babi otu berguling di rerumputan.


Babi itu kembali bangkit berdiri, mendengus marah, melenguh dan menatap tajam mereka berlima.


"LARI!!" teriak Rey, membuat semuanya berlari terbirit-birit, "Masuk ke gerbang, aku akan mengecohnya sebentar."


Rey berlari ke arah berlawanan, babi itu mengejarnya dengan penuh amarah.


Rey ingat bahwa menurut Ibunya, Babi tidak bisa berbelok. Sehingga saat badannya sudah hampir tertubruk, Rey menikung.


Benar saja, babi itu malah lurus dan tersungkur di semak-semak, benar-benar tak bisa berbelok.


Rey segera lari menuju gerbang, dimana yang lain sudah menunggu dan siap menutup gerbang setelah Rey masuk.


Baru beberapa langkah, babi itu kembali mengejar, yang lebih mengejutkan bukan hanya satu, melainkan lima ekor.

__ADS_1


Semua bergidik ngeri, Naila dan Sifa hanya menutup mata.


Rey sudah hampir sampai, tapi naas kakinya tersandung batu membuatnya terjatuh. Padahal hanya beberapa meter lagi Ia sampai ke gerbang, sedangkan babi-babi hutan itu dengan taringnya yang tajam semakin dekat.


Rio langsung berlari, memapah Rey yang kakinya kesleo.


"Cepat!!" teriak Bryan panik.


Babi-babi itu semakin dekat, mereka juga semakin dekat dengan gerbang pembatas.


BRUKK!!


Rio dan Rey terjatuh, gerbang segera ditutup, Karena sudah rusak Bryan menahannya dengan tubuh.


Sifa dan Naila segera membantu, menahan gerbang itu meski ngeri memandang lima sekawanan babi bertubi-tubi menyeruduk liar ke gerbang.


Setelah beberapa menit menahan dan babi itu semakin kelelahan, akhirnya babi-babi itu menyerah dan satu persatu pergi.


Sifa menghela nafas lega, tak menyangka akan serumit ini. Tak pernah menyangka akan bertemu babi-babi sebesar kambing dan sangat ganas.


Mereka hanya menggeleng, mengatur nafas yang memburu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rio kemudian, matanya mengarah pada kaki Rey.


Sebelum Rey menjawab, Sifa mengacungkan tangannya.


"Aku bisa melakukannya, ini hanya masalah kecil." katanya santai dan mendekati Rey, mengangkat kaki kanan Rey.


Semua melongo menatap gadis polos dan grusah-grusuh ini, Naila sama taj menyangkanya.


"Apa kau yakin?" tanya Naila ragu.


"Ini tidak parah, hanya perlu sedikit tarikan dan rasa sakit sebentar saja." Sifa mulai memijit dengan perlahan.


"Sudah siap?" Sifa memandang Rey yang tampak ragu dan takut kalau-kalau kakinya akan copot.

__ADS_1


Rey hanya mengangguk pasrah, berharap kakinya tak copot seperti bayangannya.


"Hitungan ketiga." Sifa memberi aba-aba.


"Satu... "


"Dua...


"Tarik nafas, pejamkan mata dan tahan... " Sufa dengan luwesnya memberi instruksi, seakan-akan dia adalah dukun pijat profesional.


Rey mulai memejamkan mata, mencoba mengusir semua bayangan buruk yang akan terjadi.


"Tiii... tiga!!"


Kreak!!


Kemudian disusul jeritan Rey yang kesakitan,


"AAAAA!"


"Sudah beres." ucap Sifa kemudian, mengatur nafasnya sendiri.


Rey mencoba membuka matanya takut-takut, menggerakkan kakinya perlahan.


"Wow, tidak sakit lagi. Ini sembuh!" Rey berdiri dan menghentakkan kakinya ke tanah beberapa kali.


Semuanya melongo dan tak percaya menatap Sifa.


"Makasih ya Sifa." kata Rey kemudian.


"Oke, Sama-sama kak."


Dari kejauhan, tepatnya dari dalam gedung mereka mendengar suara jeritan dan tembakan.


"Itu suara tembakan!" kata Rio menajamkan pendengarannya, membuat semua terdiam.

__ADS_1


__ADS_2