Ruang Rindu

Ruang Rindu
Duel


__ADS_3

Senja dan Mawar saling berebut melongok ke jendela, memastikan apakah dia orang tadi terjatuh dan mati.


Senja dengan kasar mendorong Mawar tersungkur, sehingga Ia dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana.


Hati Senja serasa lega sekarang, melihat dua orang itu sedang duel sengit memperebutkan pistol yang tersangkut besi pembatas balkon.


Keduanya terlihat saling jambak, walau awalnya sangat benci dengan Merry karena telah merusak segalanya. Tapi karena Merry nekat mengorbankan nyawanya demi dirinya, membuat hatinya terenyuh dan memaafkan semua kesalahannya Merry.


Sedetik kemudian rambutnya ditarik dari belakang, Mawar menariknya paksa.


"Awhh... lepaskan!" rintih Senja kesakitan.


Tapi Mawar tak mau melepaskan, ini kesempatan untuk melumpuhkan Senja.


"Coba saja kalau bisa." Mawar terus memaksanya mundur menjauh dari jendela.


Senja semakin tak tahan dengan rasa sakit di kepalanya, kemudian dengan ide gilanya Ia menjagal kaki Mawar, membuat keduanya terjatuh di genangan air yang kotor.


"Kau!!" raung Mawar.


Mawar bangkit, langsung menerkam Senja ganas, tapi Senja mampu menghindar. Gantian dia yang menerkam Mawar yang terlanjur menelungkup karena tak bisa menerkamnya tadi.


Senja langsung menekuk tangan Mawar ke belakang, membuat Mawar terkunci dan tak bisa melepaskan diri.


"Lepaskan!!" teriak Mawar meronta, tapi semakin Ia bergerak maka akan semakin menyakitkan dan bisa-bisa tangannya patah.

__ADS_1


"Coba saja kalau bisa!" ejek Senja puas.


Suara gedebuk masih terdengar di balkon lantai di bawah mereka, Merry dan Melati pasti duel sengit disana.


Entah mengapa Senja merasa kawatir akan keselamatan Merry, apalagi dia tidak pernah berurusan dengan sesuatu sejauh ini. Dia hanya bisa belanja, belanja dan belanja. Sama sekali tak ada pengalaman melawan penjahat, Senja masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Mawar dan Melati sampai senekat ini.


Rupanya Ia salah mencurigai orang, seharusnya Ia mencurigai Melati, teman lamanya. Yang tak pernah Ia tahu bahwa Ia adiknya Mawar, sungguh di luar nalar.


***


Rio, Bryan, Rey, Naila dan Sifa turun dari mobil, mereka harus jalan kaki. Karena jalanan yang sempit dan banyak pepohonan rindang yang tak bisa dilalui mobil atau kendaraan lain, hanya ada jalan setapak kecil yang tertutup daun kering.


Rio masih fokus menatap ponsel Rey, memastikan jalur yang mereka lalui benar. Sedangkan Sifa dan Naila masih menonton siaran langsung yang menampilkan Mawar yang sudah KO.


"Yessss" teriak mereka berdua kegirangan, sampai lupa itu penyekapan bukan film drakor.


Rio mulai berjalan memimpin, Bryan dan Rey di belakangnya. Sedangkan Sifa dan Naila masih mematung.


"Ayo!" ajak Bryan, membuat kedua gadis itu tersentak kaget. Mereka tertinggal beberapa meter.


Sifa dan Naila mulai berjalan mengikuti langkah tiga pria gagah, tampan dan mempesona di depannya.


"Apakah Kak Merry selamat? atau... " Sifa menghentikan ucapannya.


"Atau mereka sudah jadi rempeyek, jatuh dari atas gedung." Sahut Naila dengan nada becanda, entah kenapa setelah melihat pergulatan dan duel seru antara Senja dan Mawar suasana menjadi lucu baginya.

__ADS_1


"Huss" Sifa bergidik ngeri membayangkan perkataan Naila soal rempeyek, mau tak mau Ia membayangkan Merry jadi rempeyek.


Mereka mulai memasuki pepohonan yang rimbun, rumputnya setinggi paha. Ngeri dan menakutkan.


Setelah beberapa menit asruk-asrukan dalam hutan, akhirnya mereka keliar dari suasana seram.


Mereka tiba di hamparan tanah lapang dan dari kejauhan terlihat sebuah gedung beberapa lantai yang super besar dan tentunya terbengkalai.


Semua terpana melihat pemandangan itu, suasana seram dan horor membuat bulu kuduk merinding.


"Apakah itu gedungnya?" celetuk Sifa janggal.


"Mungkin." Jawab Rey mamang, "Tapi menurut petunjuk, persis itulah tempatnya.


Rio kembali berjalan memimpin, jaraknya tak jauh hanya sekitar 200 meter.


"Siapa orang gila yang bisa-bisanya membangun gedung di tengah hutan begini?" tanya Naila ketika mereka kembali berjalan.


"Mungkin orang kaya gabut." Jawab Sifa asal.


Mereka terus berjalan sambil memandangi ponsel, tanpa memperhatikan sesuatu yang mengincar mereka berdua.


Rio, Rey dan Bryan jauh beberapa meter di depan mereka.


"AAAAA!!"

__ADS_1


Teriak Sifa histeris melihat sesuatu yang berwarna hitam, besar menuju arahnya. Semua orang menoleh, termasuk Naila yang masih fokus ke siaran langsung.


__ADS_2