
Naila dan Sifa buru-buru menaiki tangga, tanpa sengaja Sifa tergelincir karena terburu-buru.
"Hati-hati," Naila menarik tangan Sufa yang gemeteran.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, ayo kubantu."
Sesampainya di atas, Naila dan Sifa cukup tercengang melihat deretan polisi yang bersiaga di balik pintu.
"Sabar," Ucap Rio menahan Kakaknya Bryan yang dari tadi ingin masuk.
"Kita tak boleh ceroboh, mereka dalam bahaya."
Sifa melongo, sedangkan Naila mendekat.
Di dalam ruangan, Steven terdengar berteriak kepada Mawar untuk menjauh dan pergi.
"Pergi!!"
"Anak bodoh!" umpat Mawar semakin marah, pistolnya masih teracung mengancam.
"Sudah habis waktunya dan mereka masih belum datang juga, jadi... tak ada pilihan lain, tumbalkan mereka segara!" Kata Melati dari arah belakang tak sabar.
Mawar mengangguk setuju, rupanya Ia sudah lelah.
"Ini saatnya, masuklah Pa dan Papa harus ingat, tunggu sampai dia lengah dan meletakkan senjatanya." Ucap Rio di balik pintu, Om Hendra bersiap dengan kopernya.
"Papa siap?" Rio menepuk punggung ayahnya, terpaksa tapi inilah satu-satunya cara.
"Siap." Sahut Om Hendra mantap, walau ada sisi suaranya yang gemeter lirih.
"Papa harus kontrol emosi, jangan terpancing. Biarkan rencana ini berhasil, turuti maunya dan ambil kesempatannya."
__ADS_1
"Biar aku saja." sela Bryan. "Aku bisa melakukannya."
"Bukan saat yang tepat, Kakak belum bisa mengendalikan emosi secara optimal dan takutnya terjadi kesalahan."
Bryan segera terdiam mendengar Jawaban Rio yang jauh lebih bijaksana daripada dirinya.
"Siap?"
Om Hendra sekali lagi mengangguk, langsung masuk. Beberapa polisi terlihat kagum dengan rencana brilian Rio.
"Tunggu!" teriak Om Hendra sesaat setelah Mawar mengucapkan selamat tinggal.
"Bagus, bagus sekali. Mantan mertua yang bijaksana, akhirnya aku bisa mencicipi sebagian hartamu!"
Mawar tertawa besar dan tampak sangat-sangat puas.
Om Hendra terlihat menahan emosi melihat kelakuan mantan menantunya yang kurang ajar.
"Taruh kopernya, cepat!" bentak Mawar tak tahu diri sembari mengacungkan pistolnya.
"Periksa isinya, jika isinya uang harus cek keasliannya dan jika bukan! aku akan menembakmu orang tua." Mawar mengancam dengan mendekatkan pistolnya pada Om Hendra yang kelihatannya tegang, takut dan juga emosi.
Melati segera meraih kopernya, menaruhnya di atas meja kayu lapuk. Segera membukanya perlahan, matanya seketika cerah saat melihat isinya benar-benar uang yang begitu banyak.
"Cek dengan sinar inflamerah!" Mawar memberi perintah.
Melati segera mengambil alat dari laci, mengambil selembar uang dan mengarahkan ke cahaya pendar yang mulai menyala.
"Asli!" teriaknya gembira, kembali menutup kopernya.
"Kerja bagus Pak tua." Mawar menyeringai, "tapi aku perlu memeriksanya sendiri dan menghitung jumlahnya, jika kurang satu lembar saja, cucumu akan mati, kau juga."
Ini saat yang ditunggu, Rio berdoa di balik pintu. Naila dan yang lain harap-harap cemas.
__ADS_1
Mawar mulai meletakkan pistolnya, membuka koper, sedangkan Melati ikut antusias melihat uanh-uang itu kembali.
Set
Dengan cepat Om Hendra mengambil pistolnya, membuat Mawar seketika sadar akan kebodohannya.
"Angkat tangan!" teriak Om Hendra.
Kakak beradik itu segera mengangkat tangan, tak ada pilihan untuk mereka selain menyerah.
Bryan tanpa menunggu intruksi segera masuk,
"Jangan!" Rio mencegah, tapi sudah terlambat. Bryan masuk dan segera menuju ke sudut ruangan, dimana Steven tengah menangis.
"Rencana yang bodoh!" teriak Merry menghadang Bryan, mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya.
"Diam!" Mawar memaksa Bryan berhenti dengan mengacungkan pistol kedua, Om Hendra segera menarik pelatuknya dan kosong.
"Dasar bodoh!" maki Mawar, Melati sidah tertawa besar. "Itu hanya kuisi dua, dan Melati sudah melepaskan keduanya. Jadi sekarang tak ada gunanya, HUAHAAAAA."
Mawar tertawa terbahak-bahak, tawanya begitu suram dan menyeramkan sampai-sampai Bryan yang sangat mencintai wanita itu seketika jijik.
"K-kau?" Bryan gemetar sekarang.
"Apa? Kau menyesal ha?" Mawar menatap tajam Bryan, sedangkan Melati mulai mengikat Om Hendra.
"Kau sama bodohnya dengan Ayahmu!" teriak Mawar melanjutkan, "Kau kira aku mendekatimu karena aku masih cinta ha? bukan! jelas bukan itu. huahaha... "
Mawar kembali tertawa terbahak-bahak, memandang ekspresi kaget Bryan mengetahui fakta yang Ia ungkapan.
"Aku tak mungkin mencintaimu lagi Bryan bodoh! rasa cintaku sudah menjadi benci tatkala tua bangka ini mengusirku tak hormat. " Mawar melirik Om Hendra dengan tajam, "Hanya ada balas dendam dalam otakku, hanya itu. Tapi.. aku cukup kesulitan menculik dan melancarkan aksiku karena adanya Senja, mantu idaman papamu!"
Bryan bagai disambar petir, berdiri kaku dan syok berat.
__ADS_1
"Kau kaget ya?" Mawar mencemooh setelah melihat ekpresi Bryan yang kaget.