Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 92


__ADS_3

Saat aku terbangun Mas Pras sudah tak di sampingku. Entah semalam aku tidur jam berapa karena aku sama sekali tak ingat, bahkan Mas Pras naik ke atas ranjang pun aku tak tahu.


Aku meraih ponsel yang berada di atas nakas, kulihat sudah pukul setengah enam pagi. Segera aku beranjak menuju kamar mandi kemudian beralih membangunkan Aqila. Karena semenjak dia mulai sekolah Mas Pras pelan-pelan mengajarinya untuk membiasakan diri belajar disiplin.


"Sayang bangun, sudah pagi," ucapku dengan mengelus lengan Aqila.


Tak butuh waktu lama, tubuh kecilnya kini menggeliat kemudian matanya mulai terbuka dan mengerjap.


"Bangun yuk, sudah hampir pukul enam pagi," kataku bersamaan dengannya yang bangun. Kemudian aku mulai menuntunnya ke kamar mandi untuk kudampingi, memberi arahan apa saja yang wajib dilakukan usai bangun tidur hingga selesai membersihkan diri.


Sebenarnya sudah ada Mbak Siti namun Mas Pras beranggapan aku memiliki peranan penting, jadi dia memintaku untuk memprioritaskan kepentingan anak-anak dari pekerjaan lainnya.


Usai mengurusi Aqila dan menyerahkan pada Mbak Siti, aku beralih kembali ke kamar. Razka sudah terbangun dengan Mas Pras yang berada di ranjang kami.


Usia yang sudah menginjak dua bulan menjadikan kembang pertumbuhan Razka begitu cepat. Dia sudah mulai belajar tengkurap, memiringkan tubuhnya disaat di posisikan secara terlentang. Dan lagi dia juga bisa mengenali suara-suara di sekitarnya, akan merespon dengan menoleh atau pun mengoceh dengan suara khasnya kemudian tersenyum.


Dan seperti kali ini aku datang mendekat pada mereka kemudian memanggil, menyebutkan nama Razka lalu aku duduk pada sisi ranjang di samping Mas Pras.


"Razka sudah bangun ya," ucapku dengan membungkuk dan memberi kecupan di pipinya. "Mas mandi saja, biar Razka aku yang urusin," ucapku yang kemudian menoleh sekilas ke arah Mas Pras.


Mas Pras tak mengucapkan apapun setelah dia mengecup pipi kiri Razka. Dari ekor mataku dia kemudian beralih langsung menuju ke kamar mandi.


Tak banyak aktivitas yang kulakukan setiap pagi, hanya mengurusi anak-anak, menemani mereka sarapan lalu mengantarkan Aqila dan Mas Pras sampai ke depan rumah.

__ADS_1


"Mas berangkat dulu," ucap Mas Pras dengan senyum tipisnya kemudian mengecup keningku.


Aku mengangguk. "Mas hati-hati ya. Aqila juga. Nanti siang seperti biasa Mang Jono yang jemput," ucapku pada Aqila usai dia berpamitan dan cium tangan padaku, sebab pagi ini Mas Pras yang mengantarkannya.


Aku pun melambaikan tangan saat mobil telah melaju meninggalkan pekarangan rumah. Di dalam hatiku seperti ada rasa yang mengganjal sebab sikap Mas Pras yang hari tak terlalu banyak bicara.


Waktu berlalu dan sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Razka baru saja tertidur usai aku menyusuinya.


Aku teringat dengan pesan yang dikirim oleh Kak Ardian tempo hari. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri hubungan kami.


Aku memandangi lekat wajah Razka. Menggenggam jemari kecilnya kemudian mengecup ke dua pipinya dan berucap lirih, "Mama tinggal sebentar ya."


Setelahnya aku memindahkan tubuhnya ke dalam boks. Berganti pakaian kemudian menuju ke bawah berpamitan untuk pergi sebentar dengan berkata pada Bik Mar aku titip anak-anak sebentar.


Aku mengendarai mobilku sendiri menuju tempat biasa aku dan Kak Adrian bertemu. Tekadku sudah kuat dan setelah mobil terparkir aku melepas seatbelt lalu turun dari mobil masuk menuju tempat restoran.


Dia tersenyum kemudian dia mengkode dengan tangannya mempersilahkan aku duduk. "Kamu mau pesan apa?"


Aku menggeleng. Tak ingin berbasa-basi aku segera bersuara. "Maaf..." ucapku tulus dan menunduk.


Kak Adrian berdecak. "Kenapa kamu bisa berubah pikiran secepat ini. Apa yang telah suami kamu lakukan?" desisnya.


Aku sontak mengangkat wajahku. "Banyak sekali yang Mas Pras telah lakukan dalam hidupku, tapi aku selalu saja menutup mata," ucapku dengan bersikap tenang dan memberanikan diri menatapnya.

__ADS_1


Senyum mengejek terlihat di bibirnya. "Dan aku juga telah melakukan banyak hal untukmu Anna. Aku mengorbankan waktu dan perasaanku untuk menunggumu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu berpaling dari apa yang sudah kita sepakati!" ucapnya murka.


Tatapan kekecewaan dan amarah menyeruak dari manik mata Kak Adrian. Dia menggeleng kemudian berdecih. "Atau kamu hanya bimbang?"


Dengan cepat aku menggeleng. "Aku yakin aku mencintainya."


Kak Adrian tampak mengeram dengan tangan terkepal dan sebelum dia mengeluarkan suara, aku segera berucap, "Kita akhiri semuanya. Semoga Kak Adrian mampu memaafkanku dan bisa mendapatkan yang lebih dari pada aku."


Usai berkata aku kemudian bangkit dari kursi yang kududuki dan berlalu meninggalkan meja restoran menuju keluar tempat parkir.


Namun saat aku hendak membuka pintu mobil tubuhku bergerak memutar sebab ada seseorang yang menarik lenganku.


"Kamu gak bisa seenaknya seperti ini Anna. Dengar! Gak semudah ini kamu meminta putus!" ucap Kak Adrian tak terima. Tangannya mencekal lenganku kuat, rasanya sakit. Dan belum sampai disitu, dia memaksaku, menarikku untuk mengikuti langkahnya.


Dan disaat seperti ini aku menjadi takut. Sikap baik dan lembutnya kini mendadak berubah arogant. Dengan berusaha mempertahankan posisiku dan tak mau mengikutinya aku berteriak lantang meminta agar dia melepasku.


"Lepas Kak! Lepas..."


Bugggh


Benar cekalan di tanganku kini terlepas tapi bersamaan denganku yang terperanjat kaget, sebab Kak Adrian kini tersungkur di pelataran area parkiran kala bogem mentah bersarang di rahangnya.


"Ini yang terakhir kalinya kamu terlibat pembicaraan dengan istriku. Dan jauhi Anna!" Ucap Mas Pras geram yang aku tak tahu sejak kapan dia berada disini.

__ADS_1


Mas Pras dengan cepat meraih lenganku dan menarikku dengan kasar menuju arah mobilnya.


To Be Continue


__ADS_2