Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 94


__ADS_3

Mas Pras POV


Dari ekor mataku dapat kulihat Anna duduk dengan gelisah. Tubuhnya nampak bergetar, tangannya juga berulang kali digunakan untuk menyeka air mata. Dia pasti ketakutan akan sikapku beberapa menit lalu.


Kenyataan bahwa aku tak mampu merelakannya memancing egoku. Kepalaku rasanya hampir pecah memikirkan hal-hal buruk yang terjadi di masa depan bila Anna benar-benar pergi dari kehidupan kami, apalagi kedua anakku yang masih kecil.


Memang benar di luaran sana banyak wanita dan mungkin lebih baik sifatnya, sikapnya atau fisiknya bila dibandingkan dengan Anna. Namun tak pernah sedikitpun aku punya niatan berpaling dari pernikahan kami. Karena yang kuyakini seseorang itu mampu berubah, apalagi dirinya.


Dan kali ini nyatanya keyakinanku terpatahkan. Aku meragu atas pemikiranku bahwa Anna telah benar-benar berubah. Dan kupikir ungkapan cintanya adalah angin lalu. Kepercayaan diriku seolah menjungkir balikkanku.


Sepanjang perjalanan hingga sampai di depan rumah kami saling bungkam. Dan aku mulai bersuara saat mobilku telah berhenti dengan mesin mobil yang masih menyala.


"Turunlah, aku masih ada urusan," perintahku dengan pandangan mata yang masih menatap lurus ke depan.


Anna masih tetap bergeming. Tangannya kuat mencengkeram tali tasnya dan dengan suara bergetar dia berucap, "Mas gak mau bertanya dulu padaku?"

__ADS_1


Aku tak menyahuti, hingga yang ada keheningan diantara kami menyelimuti. Dan gemuruh di dadaku mulai timbul saat Anna bersuara menyebutkan nama lelaki itu, dan hanya stir mobil lah yang menjadi pelampiasan amarahku.


"Kak Adrian memang mengajak bertemu, aku setuju karena memang sudah seharusnya—"


Aku berdecih dengan cepat aku menyela ucapnya. "Pada kenyataannya Mas memang tetap tak bisa mengikat hatimu."


"Apa yang Mas katakan?" Anna menggeser tubuhnya dengan tangan bergerak mencekal pada lengan jas yang kukenakan. Dia menggeleng kuat.


"Mas, aku mohon. Jangan salah paham," ucapnya dengan mengiba dan air mata yang membanjiri ke dua pipinya.


"Turun!" tegasku.


"Aku menemuinya hanya untuk menyelesaikan hubungan kami. Hanya itu, gak lebih," jelasnya dengan diiringi isakan.


"Mas, kumohon jangan menatapku seperti itu," ucapnya saat aku menoleh menatapnya dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Anna salah karena pergi tanpa seijin Mas, harusnya Anna bilang dulu kan?" ucapnya dengan meraih tanganku menggenggamnya kuat, mencari kepercayaan dariku.


"Apa jadinya bila Mas gak datang tadi. Kamu tetap akan pergi dengannya?"


"Gak, itu gak akan pernah terjadi," sahutnya dengan menggeleng kuat. "Mas, Aqila dan Razka adalah tempatku pulang. Mas—aku sudah mengakui kalau aku salah. Aku mohon jangan menatapku begitu," ucapnya dengan nada memelas.


Aku menarik tanganku. Tak peduli dirinya yang menatapku tak percaya akan sikapku kali ini. Segera aku melepas seatbelt, menarik kunci lalu keluar dari mobil yang nyatanya di susul oleh Anna.


Dengan langkah tergesa dia berlari mengejarku, merangsek memeluk erat punggungku dengan tangisannya seperti halnya yang pernah dia lakukan dulu.


Tapi aku menggeleng dan menguatkan dinding hatiku, bila benar yang dia ucapkan kali ini adalah sebuah kebenaran aku butuh pembuktian. Dan untuk itu aku enggan bergerak membalasnya. Dia harus tahu kalau kesalahan yang telah dia perbuat bukanlah hal sepele.


To be Continue


JANGAN LUPA KOMENTAR, VOTE, JEMPOL, KRITIK MAUPUN SARAN

__ADS_1


__ADS_2