Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 78


__ADS_3

Aku semakin mengeratkan pelukanku ditengah tangisan yang semakin menjadi, tak peduli pada kaos yang dipakai Mas Pras telah basah akibat air mataku.


Cukup lama kami dalam posisi seperti ini, dan yang membuat hatiku merasa kalut adalah Mas Pras yang tak kunjung memberikan respon.


Bahkan prasangka mulai bermunculan di otakku, apa Mas Pras memang sudah benar-benar menyerah atau barangkali dia sudah lelah.


Namun aku tersentak saat tiba-tiba kedua tangan Mas Pras memaksa untuk merenggangkan pelukanku padanya. Dia berbalik badan kemudian menatapku, lalu menggeleng. "Mas gak bisa," ucapnya dengan nada datar bersamaan dengan melepas tanganku.


"Kenapa?" tanyaku menuntut sambil mencari-cari jawaban dari sorot matanya yang sendu menatapku.


"Apa karena Mas sudah lelah menungguku, hingga Mas menyerah. Atau jangan-jangan, ini salah satu kesempatan buat Mas lepasin aku, karena menikah denganku hanyalah sebuah permintaan dari Papa, atas dasar rasa balas budi. Atau barang kali Mas sudah ada wanita lain diluaran sana?" ucapku meracau tak jelas.


"Anna, apa yang kamu bicarakan!" ucap Mas Pras dengan seolah tak paham dengan apa yang kuucapkan.

__ADS_1


"Aku tahu Mas. Aku tahu— kalau alasan kita menikah adalah karena permintaan Papa, dan seandainya Papa gak minta pasti itu gak akan pernah terjadi. Dan juga Mas lakukan semua itu pasti sebagai pelarian?"


Mas Pras nampak terkejut dan menampilkan wajah bingung. "Mas gak ngerti apa yang kamu maksud?"


Aku tersenyum miris. "Di masa yang lalu Papa banyak berjasa pada keluargamu, Mas. Dan saat Mas mau membalas jasa Papa, Papa justru menyodorkan aku untuk Mas nikahi. Dan kebetulan saat itu Mas sedang patah hati karena lamaran Mas ditolak. Jadi benarkan, kehadiranku disini hanya sebagai pelarian?" tanyaku dengan penekanan.


"Darimana kamu mengetahuinya?" tanya Mas Pras dengan sorot mata menatapku lekat.


"Kamu tak pernah bertanya," sahut Mas Pras cepat memotong ucapanku. "Iya benar bahwa Papamu menawari Mas untuk menikahimu. Dan kamu masih ingat awal pertemuan kita dulu? Mas datang bertamu ke rumahmu, dengan senyum ramah kamu menyambutku dan kamu menggelayutkan lenganmu terhadap Kakakmu. Dari situ aku menilai bahwa kamu adalah gadis manja. Mas meyakini bahwa kamu memang wanita yang tepat untuk mendampingi hidup Mas, memberi warna pada hidup Mas. Tapi, nyatanya usia yang terlampau berbeda menjadikan alasanmu berat untuk menerima," jelasnya yang lalu menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan kembali ucapannya.


"Niat Mas menikahimu adalah tulus, bukan atas dasar balas budi atau hal yang kamu sebutkan tadi. Apa kamu percaya dengan istilah jatuh cinta pada pandangan pertama? Dan itulah yang Mas rasakan saat pertama melihatmu," ucapnya getir.


"Kalau memang kenyataannya begitu, lalu kenapa Mas gak pernah mengatakannya?" tanyaku menyela dengan tangan yang tanpa sadar bergerak merambat menyentuh pipinya. Tapi tak bertahan lama, sebab Mas Pras kini menarik jemariku lalu meremasnya.

__ADS_1


"Mas tiap hari menyatakannya tapi semua percuma karena kamu tak pernah mau tahu, apalagi membalasnya," ucapnya dengan suara bergetar.


"Kapan?" sahutku dengan nyaris tanpa suara.


"Cinta bukan semata hanya karena ucapan, tapi juga harus diiringi dengan tindakan."


"Lantas tindakan apa saja yang sudah Mas lakukan sampai sekarang ini?" tanyaku menantang. "Kalau seandainya rasa cinta yang Mas miliki masih ada, izinkan pula aku untuk menyambutnya," ucapku dengan suara nyaris tercekat,menarik tangannya yang masih bertaut pada jemariku kini kuletakkan di dadaku yang dari tadi sudah berdegup.


Kulihat matanya nampak mengerjap, menatapku seolah tak percaya dan aku membalasnya dengan anggukan, meyakinkannya bahwa aku berucap tulus tanpa mengada-ngada.


Sedetik kemudian aku berjinjit, mengalungkan satu tanganku pada tengkuknya, lalu perlahan menempelkan bibirku pada bibir miliknya. Mataku pun terpejam dan mulai merasai permukaan bibirnya yang hangat. Semula tanpa pergerakan, namun perlahan Mas Pras mulai membalasnya, menarik pinggangku dan memberiku kecupan-kecupan kecil yang seolah mengalirkan sebuah rasa yang telah lama merongrong dari dalam ruang kerinduan.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2