
"Ha? apakah kau mengira aku akan mengurusmu seperti bayi?" ucap sang gadis yang merasa bahwa Rasta tak memahami kata-katanya.
"Eh, maksudku aku akan menuruti apapun yang kau katakan, jadi aku tak akan merasa sedih lagi nantinya," jawab Rasta yang sangat pandai ngeles kayak bajaj.
Rasta makin di buat terkejut ketiak Rindu duduk di sampingnya, meskipun tersekat meja, tetap saja rasanya deg-degan tidak terkira.
"Aku merasa kau butuh teman, jadi aku menemanimu," ujar Rindu.
Dia hanya mengatakan sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh seorang Erin.
Pada dasarnya dia hanya ingin bersama dengan Erin, namun tak bisa jika tak membantu sang teman.
"Iya, aku memang butuh teman, teman hidup juga butuh," cetus Rasta.
"Haha, kenapa kau sangat berlebihan, seakan sebagai kode kata-katamu itu? Oh ya, aku memiliki satu teman yang sudah menjomblo selama tiga bulan, dai juga ingin mencari pria manis dan bersemangat sepertimu, apakah kau mau?" tanya Rindu memberikan solusi yang terbaik.
Rasta malas menerima saran dari seorang Rindu, ini akan menambah beban kehidupannya sebab menjadi orang yang menyukai Rindu dengan dua karakter berbeda sangatlah sulit.
"Aku tidak mau, aku akan mencari sendiri saja daripada kau yang mencarikannya. Aku yakin temanmu itu jelek dan gendut."
Sang pria sudah memberikan jawaban, ini membuat seorang Rindu tersenyum.
"Ya sudah, aku juga tidak terlalu bahagia dengan semua ini. Aku pulang saja ya?"
Rasta sebenarnya merasa canggung dengan semua yang ada di dekatnya, apalagi seorang Rindu mepet terus.
Dia tak bisa mengelak dari pesona gadis itu.
__ADS_1
"Haha, kau marah? masak iya seorang pria mudah marah? Ini tidak baik tahu? Kau harus lebih menunjukkan bahwa menjadi pria harus berjuang mendapatkan cinta dan apa yang dicita-citakan. Kau paham kan konsep ini?"
Rindu memberikan energi terbaiknya untuk sang teman, dia merasa jika sang teman butuh suntikan dukungan darinya.
.
.
.
Dua jam berlalu ...
Rindu merasa jika seorang Rasta memiliki sifat yang tidak baik dan membosankan, Rasta memang melakukan semua ini agar Rindu bisa lebih dekat dengan sosoknya yang lain.
Bagas adalah penggambaran seorang Rasta yang cengeng dan tidak pernah mau berusaha.
Kini Rasta memahami apa yang diinginkan oleh seorang gadis, terutama adalah Rindu.
Rasta sudah menjadi pria dengan harapan tinggi mengenai seorang gadis yang akan menjadi satu-satunya dalam kehidupannya.
"Aku bosan, kita pulang saja yuk?" pinta Rindu.
"Kita tunggu Erin, sepertinya dia sangat betah dengan Beni. Dia sudah melupakan seorang mister Armando."
"Haha ... kau bisa saja mengatakan semua itu, sungguh mengesankan."
Rindu tak percaya, ada seorang pria yang tak jelek-jelek amat, sangat suka bergosip.
__ADS_1
Memangnya aku kenapa? tak boleh mengatakannya ya?"
"Boleh, sudahlah! Mereka berdua sepertinya sudah selesai, ayo kita membilas tubuh dan pulang."
"Ya, tapi aku beli perlengkapan mandi dulu, tidak enak jika pakai sabun bekas orang lain."
"Siap bos Rasta!"
Rasta beranjak dari tempat duduknya kemudian mencari sebuah toko yang berjualan perlengkapan mandi serta membeli baju untuk mereka bertiga.
Beni dan Erin, terlihat sangat dekat, padahal baru saja bertemu membuat Rindu ikut bahagia.
Dua sejoli yang terlihat sangat mesra berjalan ke arah Rindu yang sedang duduk di bawah payung yang besar.
"Dimana Rasta?" tanya Beni.
"Pergi, beli perlengkapan mandi dan baju," jawab Rindu.
"Hm, kami jadian," celetuk Erin.
"Apa? kenapa bisa seperti itu?"
"Kami berdua merupakan teman satu SMP, aku dulu sering melihatnya tetapi dia tidak menyapaku, dia orang yang aku sukai dulu."
"Haha, pantas saja kalian cepat sekali dekat!"
"Oke, Sandy si tupai di dalam laut dan Larry si penjaga pantai."
__ADS_1
"Hahaha, kau bisa saja."
*****