
Merry masih kesal dengan kekasih bulenya, belum selesai permasalan soal cincin Berliannya yang palsu, sudah tambah masalah lagi.
Setelah Ia tahu cincin Berliannya palsu, membuatnya sangat marah sekali, berani-beraninya tunangannnya itu menipu dirinya. Ia jadi malu sendiri, apalagi Ia sudah koar-koar dan pamer sana-sini kalau Ia dilamar dengan sebuah cincin Berlian yang harganya sangat mahal.
Hari ini ada acara penting di rumah omanya, Ia sebenarnya tak pernah mau datang kalau Maminya tak memaksa.
Ia tak suka dengan omanya yang terlalu mengatur hidupnya, harus ini, harus itu semua harus sesuai dengan keinginannya.
Pagi ini Ia sengaja bangun lebih awal, Ia ingin meminta kejelasan hubungannya yang akhir-akhir ini agak renggang dan tak ada komunikasi lagi.
Selesai mandi, Merry segera membuka lemari pakaiannya. Mengambil dua potong baju yang menurutnya cocok dipakai hari ini, lalu membuka lemari kusus tas miliknya.
Merry sudah menenteng tas branded miliknya, menaruhnya di meja rias rencananya pagi ini Ia akan mendatangi tunangannya itu. Sudah seminggu ini dia diabaikan, chatnya tak pernah dibalas.
"Dimana sih sebenarnya dia itu?" gerutu Merry di depan cermin, mulai menggambar alisnya dengan hati-hati.
Sesekali Ia menatap ponselnya, berharap ada notifikasi pesan masuk dari pacaranya yang sekaligus menjadi tunangannnya.
Ia menghela nafas ketika ada notifikasi masuk, tapi bukan dari tunangannnya. Tapi dari teman kampusnya yang mengabari ada kelas tambahan sore ini.
Selesai dengan ritualnya sebelum pergi, Merry kemudian menenteng tasnya kembali. Melihat sekali lagi penampilannya dari kaca, lalu keluar kamar dan menuruni tangga.
"Eh, eh mau kemana?"
Wanita paruh baya dengan pakaian modis mencegat di ujung tangga.
"Mau ke rumah temen Ma," jawab Merry berbohong.
"Kan kita mau ada acara hari ini, kita mau ke rumah nenek."
"Bentar aja kok, kan acaranya masih 5 jam lagi." Merry mengkerutkan keningnya.
Mamanya memandang curiga, kedua alisnya bertaut.
"Kamu gak bohong kan?"
"Gak Ma, pokoknya Merry janji cuma 2 jam aja," Merry mengangkat dua jarinya keatas.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau sampai terlambat_"
"Merry gak boleh jajan seharian!" potong Merry cepat.
"Bagus sekali,"
***
Merry mulai memasuki apartment tunangannya, mengendap-endap seperti maling.
Kebetulan pintunya tak terkunci, Merry langsung masuk.
Memcari-cari keberdaan tunangannya, tapi tak ketemu. Sampai Is mendengar samar-samar suara lenguhan dan ******* dari seorang wanita.
Merry semakin curiga, suara itu berasal dari kamar mandi.
Merry mengendap-endap, berusaha tak membuat suara.
1
__ADS_1
2
3
Brak!!
Merry membuka pintu dengan keras, membuat orang yang ada di dalamnya terperanjat kaget dan segera melepas pelukan.
Beberapa detik Merry sempat membeku di tempat, pemandangan yang ada didepannya sungguh sulit dipercaya.
Pacarnya itu bersama seorang perempuan dalam kamar mandi tanpa busana, Merry melotot. Wajahnya merah, seperti banteng yang siap menyeruduk.
"Jadi ini! alasan kamu tak membalas chatku, mengabaikanku dan...." teriak Merry marah yang langsung disela.
"Ya! memang kenapa? kau tak suka?"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi tunangannnya, "Dasar laki-laki brengs**!"
Tunangannnya itu segera memegangi pipinya yang terasa panas, lalu menutupi tubuhnya dengan handuk, sedangkan perempuan yang seeing bersamanya bersembunyi di belakangnya dengan ekspresi ketakutan.
"Sekarang juga kamu pergi dari sini!" bentak pacarnya tak kalah marah.
"Oke, aku akan pergi. Aku tak sudi menikah dengan orang sepertimu!"
Merry dengan amarah yang masih berapi-api lantas pergi, kini air matanya mengalir deras melihat penghianatan tunangannya.
Merry yang selalu terlihat kuat, akhirnya tak kuasa menahan tangis.
***
Steven terus memanggil nama Senja, membuat Mawar begitu marah.
"Mama, Mama Senja... " rintih Steven di bawah kesadarannya.
Mawar memdengus kesal, "Awas saja kau Senja, kau telah menghancurkan semuanya."
Tak lama kemudian Steven mulai mngerjap-ngerjapkan matanya, tangannya mulai bergerak sedikit demi sedikit.
"Sayang, kamu sudah sadar Nak?" ucap Mawar bahagia.
"Ma-mama, Mama Senja mana?" tanya Steven belum sepenuhnya sadar.
Ekspresi Mawar seketika berubah, ada raut kemarahan yang terukir di wajahnya.
"Ini Mama Mawar sayang, Mama Steven yang asli," Mawar menggenggam tangan Steven.
"Bu-bukan, kamu bukan mamaku. Mamaku Mama Senja, bukan kamu!" teriak Steven, Bryan yang ada di luar langsung masuk mendengar suara Steven.
Steven yang memang sedari kecil tak pernah dirawat oleh Mawar, membuatnya tak mengenali Ibu kandungnya itu.
Saat Bryan masuk, Mawar yang sudah berkaca-kaca berpapasan dengan Bryan di pintu masuk.
"Kamu kenapa?" tanya Bryan lembut sembari memgangi pundak mantan istrinya itu.
Mawar hanya diam, bahkan kini air matanya sudah jatuh. lalu dia pergi.
__ADS_1
"Papa!" ucap Steven setelah Bryan mendekatinya bersama seorang dokter.
"Kamu sudah sadar?" tanya Bryan kaku, saking tak biasanya Ia berbicara berdua dengan anaknya itu.
Steven hanya mengangguk, sambil melirik kearah pintu.
"Mama Senja mana Pa?" tanya Steven, membuat Bryan gelagapan dan tak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Steven mengalihkan pertanyaan Steven.
"Keadaannya sudah jauh lebih baik, seminggu lagi Steven akan kembali pulih." jawab sang dokter sambil mendengarkan detak jantung Steven.
Tak lama kemudian, Mama Ningsih dan Papa Hendra masuk.
"Bagaiman keadaannya Bryan?"
"Baik Ma, sebentar lagi akan pulih."
"Kalau gitu saya permisi dulu," pamit sang dokter, menyalami Pak Hendra terlebih dahulu sebelum keluar.
"Terimakasih telah menolong cucu saya," kata Pak Hendra tersenyum.
"Sama-sama Pak."
Steven mengawasi satu-satu tiga orang yang mengeillinginya di ranjang tidur,
"Mama Senja mana Oma?" Steven menatap omanya.
"Mama Senja masih kuliah sayang, sebentar lagi pasti pulang." jawab Oma Ningsih berbohong.
***
Di sebuah Mall, Senja beserta Naila dan Sifa mulai memasuki toko pernak pernik. Ingatan Senja seketika mengingat seseorang yang selalu membuatnya tertawa, Rio.
Dia masih ingat Rio peenah mengajaknya kesini, membeli pernak pernik untuk acara pernikahannya.
Naila dan Sifa sangat antusias memilih-milih sebuah gelang yanh sangat cantik.
"Bagaimana kalau warna ini?" Sifa menunjukkan sebuah gelang cantik dengan warna silver, ada ukiran hurufnya.
"Bagus, aku suka." Naila Meraihnya dan mencobanya.
"Bagaimana Senja, pantes gak?" tanya Naila menunjukkan gelang di tangannya.
"Eh, oh iya bagus." Jawab Senja gelagapan, Ia banyak melamun.
"Kalau gitu kita beli bertiga ya, buat tanda persahabatan kita yang ke tiga tahun!" seru Sifa heboh sendiri.
Akhirnya mereka sepakat untuk membelinya, Senja dengan inisial S, Naila dengan inisial N, dan Sifa dengan inisial S.
Saat itu juga mereka memakainya dan saling berjanji untuk selalu memakainya.
Mereka tampak sangat bahagia, Senja perlahan-lahan mulai bisa tersenyum.
Saat keluar dari toko, seseorang memanggil Senja.
"SENJA!" teriak seorang perempuan dari arah belakang, membuat ketiganya menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Merry.... " gumam Senja.
***