Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 87


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Rasa canggungku sudah mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Buktinya sekarang aku sedang duduk bersandar di bahu Mas Pras dengan tanganku yang terulur mengelus-elus perutku.


Aku juga tak lagi malu untuk menunjukkan kemesraanku dan Mas Pras di depan orang-orang rumah. Dan seperti sekarang ini bermesraan dalam hal yang masih dibilang wajar saat berkumpul dan bersantai dalam menikmati hari weekend.


Kulirik Bik Mar tampak tersenyum ke arahku dan aku hanya menanggapinya dengan balas mengulum senyum. Bukan tanpa alasan Bik Mar sampai bersikap begitu, karena saat aku menceritakan apa yang terjadi padaku dengan Mas Pras, dia merespon dengan tangis haru. Dia ikut berbahagia dengan hubungan rumah tangga kami yang membaik.


Dan aku tak pernah menduga bahwa Bik Mar dan Mang Jono memang amat menyayangi Mas Pras. Mereka berdualah yang selalu mendoakan agar kehidupan Mas Pras menjadi lebih baik dan mengatakan kepadaku bahwa kebahagiaan Mas Pras terletak di tanganku. Dan ada hal yang Bik Mar ucapkan beberapa minggu lalu masih terngiang dalam ingatanku.


Dia mengatakan bahwa; Menikah bukan tentang masalah umur atau cinta. Melainkan kesiapan. Siap menderita, siap berbahagia, siap kecewa dan terluka. Siap berjuang juga siap menerima kekurangan.


Kebahagiaan dalam rumah tangga bisa dibangun melalui kasih sayang, perhatian dah pengorbanan suami istri. Belajar untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain.


Pandanganku kali ini teralihkan dengan tingkah dan celotehan Aqila yang sedang mempertunjukkan sesuatu yang di ajarkan di sekolahnya. Dia tengah memperagakan cara menari dan menyanyi, ya meski dengan gerakan yang lupa-lupa diingatnya dan yang jelas mampu memancing gelak tawa kami yang ada disini.


"Mbak Siti, nalinya gimana sih?" ucap Aqila yang menarik lengan Mbak Siti untuk memperagakan tarian yang benar.


"Begini, trus begini," sahut Mbak Siti yang enggan bangkit berdiri. Namun tangan dan kepalanya digerakkan membentuk gerakan tarian.


Aqila yang tadinya nampak serius memperhatikan kini mulai mencobanya tapi tetap tak bisa. Dia tampak mendengus sebab lelah tak kunjung bisa memperagakan.


"Kila gak bica!" keluhnya.


"Kila istirahat saja dulu, pasti capek. Nanti dilanjutkan lagi," ucap Mas Pras yang menanggapi.

__ADS_1


"Tapi teman-teman Kila bica cemua Pa. Andla bica!" gerutu Aqila yang berjalan ke arah kami dengan menampakkan wajah cemberutnya. Sedangkan tangan Mas Pras kini merentang menyambut Aqila untuk duduk di atas panggkuannya.


"Kila kan murid baru di sekolah, baru juga satu bulan. Nanti kalau sudah lama pasti bisa mengikuti yang lain," ujar Mas Pras pada Aqila.


Aqila sendiri sebenarnya baru mulai mengikuti program paud, itu dikarenakan dia yang merengek meminta untuk sekolah. Jadi Mas Pras dan aku mengambil keputusan mengiyakan permintaan Aqila yang meski harus tetap di dampingi oleh pengasuhnya yakni Mbak Siti.


Tak terasa Aqila sudah tumbuh besar dan tinggal menghitung hari lagi adiknya juga akan segera lahir.


Akhir-akhir ini pun Mas Pras juga telah mengambil cuti dan membawa sebagian pekerjaannya yang penting untuk dikerjakan di rumah dengan tujuan mengawasiku.


Beberapa hari pula aku sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan perutku, dan setelah aku mengadukan hal itu pada Mas Pras, dia segera bergegas membawaku ke dokter. Namun setelah dokter memeriksaku, dokter hanya mengatakan kalau aku mengalami kontraksi palsu.


Kehadiran Mas Pras yang senantiasa mendampingiku nyatanya memang begitu berpengaruh besar untukku. Perhatiannya juga kesabarannya sudah tak kuragukan lagi. Dan saat aku berada di dekatnya seperti ini, rasanya aku tak kuasa untuk tak semakin menempel padanya.


"Kenapa?" tanya Mas Pras dengan suara pelan yang menoleh padaku sebab aku merangkul satu lengannya untuk kupeluk.


"Mama sekarang manja ya?" ucap Mas Pras yang seolah meminta tanggapan dari Aqila. Tapi Aqila kali ini melirik padaku dengan pandangan tak suka seolah memberi protes bahwa aku tak boleh begitu.


Tangan kecilnya kali ini bergerak berusaha melepaskan rangkulan tanganku pada lengan milik Mas Pras dan berujar, "Ini Papaku."


Dan usai berucap dia bergerak memeluk Mas Pras dengan sangat posesif seolah tak ingin membagi Papanya dengan yang lain. Dan yang menyebalkannya lagi Mas Pras membalasku dengan kekehan membuatku semakin memberengut saja.


"Mama gak boleh malah, kan sudah ada adik di pelut Mama. Papa gak ada adik di pelut. Jadi Kila sama Papa," celetuk Aqila yang membuatku menatapnya dengan alis berkerut.


Dan tak lama tawa orang-orang yang ada di ruangan ini pecah atas celotehan Aqila, sedang aku hanya bisa geleng kepala. Kenapa anak kecil sampai berpikiran seperti itu, batinku.

__ADS_1


Kali ini aku terdiam dan mendadak tubuhku menegang. Sudah dipastikan wajahku memucat, sebab yang kurasakan sekarang adalah perutku kembali sakit, lebih sakit dari yang sebelum-sebelumnya.


Aku meringis dengan tanganku bergerak mencengkeram paha milik Mas Pras seraya merintih mengadu padanya.


"Mas— Sa—Kit... " ucapku dengan keringat yang sudah membasahi sebagian tubuhku.


Mas Pras menatapku panik dengan aku yang sudah menyanderkan punggungku pada sofa sementara Mas Pras menurunkan Aqila dari pangkuan dan beralih membawaku dalam gendongan.


"Mama cakit agi ya Pa?" celetuk Aqila dengan polosnya yang terlihat Bik Mar segera menggendongnya.


"Mama gak papa, adiknya Kila mau lahir," ucap Bik Mar berusaha menenangkan Aqila yang hampir menangis.


"Saya bawa Anna ke rumah sakit. Bik Mar siapkan keperluan untuk Anna biar Mang Jono yang susulkan. Saya titip Aqila," ucap Mas Pras saat sudah mendudukkanku di kursi belakang mobil.


***


Setibanya di rumah sakit perawat mengatakan aku sudah mencapai pada pembukaan lima, masih belum sempurna untuk melahirkan secara normal.


Mas Pras masih tetap menungguiku dan tetap berada disampingku. "Mas gak tega lihat kamu begini, apa lebih baik kita lakukan operasi sesar saja?"


Serta merta aku menggeleng. "Anna ingin melahirkan secara normal," sahutku yakin dan kulihat Mas Pras tampak mengangguk tak mau berdebat dalam situasi yang seperti ini.


Setelah empat jam lamanya menunggu dokter menginformasikan bahwa aku telah mencapai pada bukaan ke sepuluh dan aku telah dipindahkan ke ruang persalinan. Mas Pras menggenggam jemariku erat, tampak sekali wajah pucatnya sebab ini adalah pengalaman pertama kami berada diruang persalinan karena kondisiku yang melahirkan secara normal, tapi walaupun dalam keadaan seperti itu dia masih tetap berusaha menguatkanku dengan mengelusi kepalaku, memberi semangat dengan berbisik ke arah telingaku.


Hingga ketika bayi kami lahir ke dunia dan mulai terdengar pekikan tangisannya rasanya seolah mampu mendatangkan keharuan pada kami berdua. Aku menangis dengan bayiku yang saat ini langsung berada dalam dekapanku sedangkan Mas Pras tak hentinya berucap syukur dan memberi kecupan di dahiku.

__ADS_1


Jangan lupa Komentar, Like dan juga Vote


BACA JUGA CERITA Yang MULAI ON GOING "SENANDUNG IMPIAN" cek di beranda author yaa


__ADS_2