Ruang Rindu

Ruang Rindu
MELAMPIASKAN


__ADS_3

Merry dengan ekspresi marah menghampiri mereka bertiga, Naila dan Sifa saling pandang curiga.


"Ada apa lagi Mer, belum cukup dengan semua ini?" kata Senja ketus.


Merry tersenyum sinis, seperti mendapatkan sesuatu yang tak diinginkan.


"Jauhi Bryan!" ucap Merry tegas, membuat Naila syok.


"Semua sudah berjalan sesuai yang kamu inginkan, puas!" balas Senja dengan suara meninggi, membuat kedua temannya tampak syok karena belum pernah melihat Senja berkata seperti itu.


Merry tersenyum tipis, di balas tatapan tak suka dari Naila yang mulai menyusul langkah Senja.


"Wanita itu pacar suamimu juga?" tanya Sifa penasaran.


Senja menghentikan langkahnya, memandang bergantian kedua sohibnya yang menuntut jawaban.


"Bukan, tapi dia suka dengan Bryan semenjak kami menikah dan dia tidak tahu kalau ada orang lain selain diriku, yaitu Mawar,"


"Whatt!" pekik Sifa, "Kenapa bisa serumit ini, kenapa kamu menikahi lelaki macam itu?"


Andai kalian tahu alasannya!


"Aku juga gak tahu," jawab Senja berbohong.


Naila hanya terdiam, hanya memikirkan serentetan permasalahan rumah tangga Senja dan Bryan saja sudah membuatnya pusing. Apalagi jika Ia menjadi Senja.


"Sudah, kita jangan berlarut-larut memikirkan masalah ini. Bukannya kita pergi untuk melupakan itu?" Naila yang geram angkat bicara.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita beli ice cream di toko seberang Mall yang terkenal itu," ajak Sifa sepontan.


"Ide yang bagus." Naila segera melangkah, diikuti Sifa lalu Senja.


Senja yang awalnya sudah agak lupa, harus diingatkan kembali oleh Merry yang seperti hantu yang neneror hidupnya, membuat dirinya masuk kedalam jurang yang begitu dalam. Ia terjebak dan sulit melepaskan diri atau pergi.


Senja kembali murung, mengikuti langkah kedua temannya yang berjalan menuju pintu keluar.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di toko yang dimaksud oleh Sifa.


Tokonya tak terlalu besar, tapi cukup indah dan rapi. Gambar es cream raksasa terpajang di pintu masuk, membuat siapapun yang melihatnya akan tertarik.


Mereka segera masuk, seorang pelayan wanita segera menghampiri sembari membawa sebuah celemek.


"Mau pesan rasa apa?" tanya pelayan itu dengan senyumnya yang ramah.


"Aku Vanilla,"


"Vanilla," sahut Senja, ekspresinya masih murung. Tak semudah itu melupakan semuanya.


"Senja," Naila menepuk pundaknya.


"Eh, oh iya." Senja gelagapan menyadari dirinya melamun, "maaf,"


"Aku cuma mau kamu itu terbuka sama kami, jangan semuanya di pendam sendiri. Untung kami segera menyadari, kalau tidak bagaimana nasib kejiwaanmu. Tidak semuanya harus di pendam, ada kalanya kita saling membutuhkan pertolongan Senja."


Senja hanya mengangguk, apa yang diucapkan Naila tak ada salahnya. Benar. Ia tak selamanya bisa mengahadapi semuanya sendirian.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Naila benar Senja, bukankah kita sudah berteman lama." Sifa menoleh kearah seorang perempuan cantik yang baru masuk.


"Coklat ya mbak," kata perempuan itu yang kini sudah duduk.


"Ma-maaf teman-teman, seharusnya memang aku cerita." Senja tampak begitu menyesal.


Tak lama seorang pria berseragam dinas masuk, berbincang serius dengan beberapa pelayan toko.


"Apa persediaan masih banyak?" tanya lelaki itu pada salah satu pelayan yang membuka prezer.


"masih pak," jawabnya.


Lelaki dengan paras tampan itu kemudian menatap berkeliling, seperti memeriksa setiap inci ruangan.


Tanpa sengaja Ia menangkap sosok Senja yang tengah berbincang dengan kedua sahabatnya, lelaki itu segera menghampiri.


"Mbak Senja," sapa lelaki itu yang kini sudah ada di samping Naila.


"Pak Ben," Senja segera menjabat tangannya.


"Perkenalkan ini sahabat saya, Naila dan Sifa," Senja menunjuk kearah Sifa dan Naila yang bingung.


Naila dan Sifa segera menjabat tangan lelaki yang murah senyum itu.


"Ben,"


"Ben,"

__ADS_1


***


__ADS_2