
Senja seketika lemas, pandangannya tak lepas dari sebuah pistol kecil seperti mainan tapi dapat mematikannya kapan saja.
"Ada pesan-pesan terakhir?" Mawar mengulang kata-katanya kembali, menatap jahat kearah Senja yang kehilangan suaranya.
Senja kemudian mendongak memandang tak gentar pada Mawar dan Melati yang balik memandangnya penuh kemenangan.
Walau tangannya terasa kebas dan gemetaran, Senja mengungkapkan keinginan terakhirnya dengan suara gemetar. Siapa yang siap mati di tembak dengan tragis?
"Tolong, lepaskan Steven."
Mawar seketika terkekeh, suara tawa melengking mengerikan terdengar menggema seisi ruangan.
"Apa kamu bilang? kurasa aku tak mendengarnya?" cemooh Mawar.
"Lepaskan Steven!"
Kakak beradik yang sama-sama berhati iblis itu langsung tertawa dibuat-buat, seakan apa yang baru dikatakan Senja adalah lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar.
Mawar yang penuh dendam menatapnya dengan serius kemudian, mengangkat pistolnya lalu mengarahkannya kepada Senja.
"Baiklah jika itu maumu, tapi bolehkah kami menembakmu terlebih dahulu. Karena kami butuh uang puluhan milliar untuk kabur ke luar negeri."
"Apa kamu punya uang gantinya?" Melati menimpali, ekspresinya tak kalah jahat dengan kakaknya, "Kami akan dengan senang hati menerimanya, kalau tidak... "
__ADS_1
Melati mengarahkan pandangan kepada kakaknya, "Kami terpaksa menembakmu Senja, putri baik hati yang malang!"
Senja semakin ketakutan, keningnya mulai dipenuhi peluh yang kemudian menetes. Tapi sekuat yang Ia bisa Ia tak mau menangis atau menunjukkan kelemahan dan ketakutanny, walau tangannya sudah gemeteran sejak tadi.
Merry yang berada di balik pintu mulai mengendap-endap masuk dengan langkah tanpa suara, kemudian meletakkan ponselnya di salah satu sudut ruangan. Memastikan semua orang tetap bisa melihatnya dan segera datang bantuan.
Senja yang menyadari kedatangan Merry sempat kaget, tapi pura-pura tidak melihat apapun. Ia sebenarnya tak tahu kenapa orang yang telah menghancurkan hidupnya itu berada di sana, setelah mengartikan isyarat dari Merry perlahan-lahan Ia mengerti kedatangan Merry adalah untuk membantunya.
Melihat kesempatan emas itu, Senja kemudian dengan berani mengecoh kedua kakak beradik itu untuk terus berbicara. Memastikan mereka jangan sampai menoleh ke belakang atau keberadaan Merry akan ketahuan dan gagal.
Di tempat lain, di dalam mobil yang melaju cukup kencang, Sifa iseng membuka intagram untuk membuat hatinya lebih tenang tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada sohibnya.
Sifa mulai scroll ke bawah, melihat postingan salah satu artis. Kemudian matanya seketika melotot melihat salah satu postingan yang sedang ramai, Ia mengucek matanya beberapa kali seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Untuk memastikan lebih lanjut, Sifa mencari akun Merry di kolom pencarian.
Badannnya seketika gemetar, bahkan ponselnya hampir saja jatuh.
Ia kemudian memutar vidio siaran langsung yang ternyata masih berlangsung, Ia menganga saking tak percayanya melihat Sohibnya, Senja terikat di sebuah kursi dengan dua sosok perempuan yang tak begitu dikenalinya, tapi Ia pernah beberapa kali melihat salah satunya.
Tanpa memberitahu Naila yang ada di sampingnya, Sifa terus memperhatikan vidio dengan seksama. Sedetik kemudian, pemilik akun alias Merry muncul. Gadis cantik dan elegan itu tampak mencari-cari sesuatu yang keras di sudut.
"Merry!!" Pekik Sifa, membuat Naila yang ada di sampingnya, terperanjat. Begitu juga Rio dan Bryan di kursi kemudi, hanya Rey yang tampak tak peduli.
__ADS_1
"Kenapa dengan Merry?" tanya Naila penasaran, membuat Bryan sedikit menoleh dan Rio yang berada di kursi kemudi mencuri dengar.
Sifa yang tak bisa berkata-kata langsung menyerahkan ponsel miliknya pada Naila yang langsung terbelalak saat beberapa detik kemudian.
"Kak Rio stop!" teriak Naila panik, kemudian Rio menepikan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Rio setengah emosi setengah penasaran.
"Lihat," Naila menyerahkan ponsel Sifa dengan tangannya yang gemetar, kemudian mengambil ponsel miliknya dari dalam tas.
Rio segera menoleh ke kursi penumpang, lalu meraih ponsel yang menayangkan siaran langsung.
"Apa ini?" gumamnya tak mengerti, Bryan ikut menonton layar ponsel yang hanya berputar-putar, vidio terjeda.
"Sial, sinyalnya jelek." Naila mengangkat ponsel miliknya tinggi-tinggi berharap mendapatkan sinyal.
"Ada apa?" tanya Sifa kemudian.
"Sinyalnya hilang," sahut Naila panik.
"Bagaimana ini?" gumam Sifa tak kalah panik, Rey hanya diam tanpa ekspresi sembari menyandarkan kepalanya ke kursi penumpang.
***
__ADS_1