
"Tak kusangka Mawar secerdas itu," celetuk Sifa di balik pintu menyaksikan Bryan yang masih mematung syok.
"Sungguh di luar nurul." Sifa menimpali.
"Sudah ku bilang jangan masuk dulu," Rio menyela, nadanya terdengar putus asa, "Ini yang aku takutkan, ada rencana di balik rencana."
Di sudut, Merry masih melongo. Bingung harus bagaimana? tapi matanya tertuju pada ponselnya yang sebentar lagi akan mati. Sesekali Ia melambai seperti orang bodoh ke kamera, tersenyum janggal seakan tak terjadi apa-apa.
Merry sudah menangis sejadi-jadinya, memeluk erat Steven apapun yang terjadi.
Dua detik kemudian, ponselnya mati. Membuat semua penonton berteriak kecewa, stasiun Televisi juga sangat kebingungan kehilangan berita utama paling ngetop hari itu.
Merry menghela nafas panjang, jelas sedih ponsel mahalnya mati.
"Sekarang bagaimana?" tanya salah satu polisi paling depan yang sepertinya ketua, sepertinya tak sabar menangkap sasaran di dalam yang akan membuatnya terkenal.
Jelas saja mereka yang akan terkenal, ta-pi warga net lebih tau siapa pahlawan sebenarnya, yaitu Merry. Orang yang pertama kali datang dengan berani sebelum semuanya datang.
Merry tertunduk lesu, dia sudah bukan seperti dirinya dahulu yang glamor, suka pamer, menjaga sikap, gaya dan menjaga penampilan.
Tanpa sepengetahuan Merry, pengikutnya sudah bertambah sekitar 2 juta dalam beberapa jam. Semua orang membicarakan aksi heroiknya, walau tak tahu akhirnya nanti seperti apa? apakah Pahlawan baru mereka selamat.
__ADS_1
Semua orang menyebut-nyebut namanya, mengidolakannya dan jadi sangat terkenal.
Di balik pintu masuk, Pak Polisi semakin mendesak untuk mengambil tindakan.
"Bagaimana?" tanyanya kesekian kali pada Rio yang tampaknya kacau.
"Sebentar, aku sedang menyusun rencana baru." Jawab Rio berkonsentrasi.
Saat Rio memejamkan mata, Polisi itu malah neloyor masuk.
Naila langsung menepuk bahu Rio, membuatnya membuka mata.
"Astaga!!" ucapnya semakin frustasi.
"Terpaksa ikut masuk." Jawab Rio pasrah.
Mereka bertiga masuk, Naila dn Sifa langsung mengarah pada Senja, sohib mereka.
Ingin rasanya mereka berdua langsung memeluk Senja, tapi terhalang Mawar, disekat dan dihalangi Mawar.
Semua anggota polisi menodongkan semua pistolnya pada Mawar yang terlihat tak gentar dan malah senyum-senyum, sedangkan Melati tampak begitu ketakutan dan bersembunyi di balik Kakaknya itu.
__ADS_1
Rio mematung melihat pemandangan itu, otaknya buntu. Bagai nasi sudah jadi bubur, tak tahu harus diapakan?
Om Hendra mundur dengan perlahan, diikuti Merry, bergabung dengan Rio dan yng lain.
"Menjauh!" usir Mawar, diri-Nya mulai mundur menjauhi Bryan dan mendekati Senja dan Bryan sambil mengacungkan pistolnya.
"Mundur!!" Komandan memberikan aba-aba, semuanya mundur, termasuk Bryan.
Mawar menyuruh Senja berdiri, menempelkan ujung pistolnya ke kepalanya, membuat Naila dan Sifa menutup mulutnya.
"Aku punya sandara sekarang!" Ucap Mawar santai.
Melati masih memegang koper yang terasa lebih berat daripada sebelumnya, tangannya tampak gemetaran dikepung banyak polisi.
Merry mengambil ponselnya yang sudah kehabisan batre, dia berharap ponsel super mahalnya tak rusak.
Rio sendiri kebingungan, tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Senja dan Steven.
"Aku ingin kamu mati!" teriak Mawar geram, mulai menarik pelatuknya.
Rey yang baru datang entah dari mana tiba-tiba datang dan berlari menabrak Mawar hingga terjatuh, tapi Mawar cukup menguasai diri dan melepas tembakan kepada Rey yang terjatuh di samping Senja.
__ADS_1
DOORR.
Naila seketika pingsan.