Ruang Rindu

Ruang Rindu
Syok


__ADS_3

"Apa ini akan berhasil?" celetuk Sifa saat melewati ruang UGD lalu masuk ke arah toilet perempuan, diikuti oleh Naila dan Merry di belakangnya dengan ekspresi cemas.


"Aku tak mau memikirkan itu, aku lelah." Sahut Naila setelah mereka sampai di depan westafel dengan kaca super besar di belakangnya, menampilkan ketiga sosok gadis yang berantakan.


"Apa kita betulan memakai ide konyol ini?" Merry mengangkat seragam putih rumah sakit yang lebih mirip jas kantor.


"Tentu saja." Jawab Naila penuh gairah memandang seragam ditangannya, Merry memandangnya penuh keheranan.


"Sepertinya kau suka seragam itu."


"Ya, kau benar," Kata Naila membenarkan ucapan Merry, sembari membuka kancing jas, "Aku dulu ingin jadi dokter, tapi otakku yang kecil seperti udang galah ini membuatku gagal mengikuti tes."


Sifa segera saja meledak tertawa, "oh, ini picu sekali tau, haaa"


Naila langsung merengut, Merry tak tertawa, tatapannya iba.


"Oh, ya?" Merry keliatan kaget, begitu juga Sifa yang langsung menghentikan kehebohannya saat menyadari ekspresi sedih Naila.


Sifa segera meletakkan pensil alisnya, menatap Naila yang muram. Dikiranya tadi cuma candaan belaka, tapi Sifa merasa ini tak adil. Bukankah selama ini dia selalu menceritakan segalanya pada Naila, sohibnya itu.


"Hey, kau tak pernah menceritakan itu padakupadaku!"


Sifa nampak tak Terima dengan pernyataan Naila yang ternyata bukan candaan.


"Bukankah aku selalu menceritakan kisahku?" tuntut Sifa, masih merasa tak Terima karena sohibnya itu menyembunyikan fakta darinya.


"Tentu saja, karena kau sohibku Sifa." Jawab Naila enteng.

__ADS_1


Merry yang berdiri diantara mereka hanya menatap bingung pada kedua teman barunya itu.


"Lantas?" Sifa mulai melotot, "kenapa kau tak pernah menceritakan itu padaku?"


"Karena aku malu dan sekarang aku merasa tak perlu bersikap seperti itu lagi." Kini muramnya jadi cengiran menggelikan, Sifa sampai gedek.


"Agak-agak rupanya kau ini," Sifa memandang geli.


"Oh, maafkan aku, seharusnya aku_


"Oh baiklah Naila, aku memaklumi," kata Sifa setengah jengkel, tapi dialihkan oleh Merry yang senyum-senyum sendiri melihat dirinya memakai seragam dokter itu di dalam kaca. Sepertinya sudah melupakan keberadaan Naila dan Sifa yang berdebat asik.


"Ini keren!" pekik Merry, membuat Naila sedikit terlonjak, "Kalian tahu? sebenarnya nenekku selalu menyuruhku menjadi dokter."


"Oh ya?" Naila menoleh ingin tahu, begitu juga dengan Sifa.


"Benar sekali, karena dulu nenekku adalah seorang dokter terkenal dan kabar buruknya dari sekian banyak cucunya hanya aku yang selalu digrecoki."


"Sebaiknya kita bergegas," potong Naila, menghentikan percakapan diantara mereka di toilet wanita itu berakhir.


"Oh, baiklah." Sifa menanggapi dengan setengah hati, "tunggu sampai alisku jadi, lima menit lagi, oke?"


Naila yang sudah selesai, bahkan tidak berdandan dulu hanya menghela nafas pasrah lalu bersandar di dinding menunggu.


Sedangkan Merry masih sibuk memakai masker muka, untuk penyamaran lebih baik.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Naila tak sabar, karena sudah lima menit berlalu.

__ADS_1


"Aku siap." Merry berbalik, meninggalkan cermin.


"Oh, ayolah, satu menit lagi." Rayu Sifa yang belum juga menyelesaikan alisnya yang super cetar.


"Kalau semenit lagi belum selesai, akan kutarik paksa kau!" ancam Naila mulai geram.


"Hey, aku ingat sesuatu!" teriak Sifa dengan hebohnya.


Naila menanggapi dengan malas-malasan,


"Ayolah, ceritanya bisa nanti. Selesaikan alismu dulu, kita sudah lama sekali menghuni toilet ini."


"Baiklah," jawab Sifa muram.


Menit berikutnya mereka sudah keluar dari toilet, berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju pintu keluar.


"Aku tak menyangka kenapa aku bisa pingsan?" Naila membuka percakapan.


"Karena kita semua ketakutan, jadi wajar." Jawab Sifa mencoba berfikir logis.


"Aku baru sekali ini pingsan," sahut Merry, "rasnya sama saja seperti tertidur lelap."


Bruuk!


"Awh... " rintih Sifa kesakitan, karena menabrak seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Oh, sorry, maaf." Kata Pria tampan yang tampaknya seorang polisi itu, membantu sifa berdiri.

__ADS_1


"kau!" pekik Sifa.


"Kau!" Polisi itu tak kalah heboh, sepertinya keduanya saling mengenal.


__ADS_2