
Beberapa menit kemudian Rasta datang, dia tidak mengira bahwa ada dua sejoli yang terlihat mesra. Dia tidak memahami hal ini dan langsung menanyakan kepada dua orang yang ada di depan.
"Heh, kenapa kalian bergandeng tangan? apakah kalian berdua merasa menjadi pasangan?" tanya Rasta sambil meletakkan perlengkapan mandi serta baju di atas meja yang tersedia di sana.
"Aku dan Beni sudah resmi jadian, kok tidak perlu banyak protes sebab aku lebih mengenal Beni dari dirimu, aku adalah teman SMP dari Beni. Kami sudah menjalani beberapa pertemanan dan Beni menghilang begitu saja, aku merasa senang karena pertemuan ini tak bisa disangka-sangka. Aku sebelumnya mengira bahwa Beni merupakan orang lain bukan Beni yang aku maksud, ya begitulah kita jadian deh!" jelas seorang Erin dengan sangat cepat gamblang dan jelas.
Dia tidak mau menipu hatinya karena ketika mengetahui Beni adalah orang yang sama, dia langsung mengucapkan kata cinta itu sebab sudah terpendam beberapa lama.
"Aku merasa kau sudah berkhianat dengan mister Armando?" celetuk seorang Rasta yang memang tidak tahu aturan.
"Haha, aku mengatakan soal Mr Armando, tetapi Beni tidak mengatakan apapun. Dia cukup menerima dengan apa yang aku lakukan kepadanya, jadi kau tidak perlu khawatir kami akan terpecah belah hanya karena sebuah hal kecil seperti itu. Beni, dari dulu adalah orang yang pengertian dan selalu memberikan perhatian tanpa harus marah-marah sepertimu! harusnya kau mengatakan memiliki seorang teman dengan nama Beni, aku kan jadi tidak jomblo beberapa bulan bersamamu, sungguh aku tahu kau tak mau aku menjadi seorang gadis yang memiliki pria tampan!"
Si gadis mulai melakukan ledekan super maut kepada sang sahabat.
Ini membuat seorang Rindu tak bisa menahan tangannya.
"Haha, pembicaraan kalian berdua seperti bahasa planet aku tidak paham!" jelas Rindu.
__ADS_1
"Haha, kami hanya berbicara sesuai dengan fakta yang ada, dan kami memang manusia planet! tak sembarang orang bisa bersama kami!" ucap Erin.
"Aku adalah yang paling beruntung," sahut Beni.
"Semoga saja seperti itu!"
Erin tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Rasta, dia berpamitan kepada dua orang itu karena Beni ingin membawanya ke dalam sebuah tempat yang lebih indah, sebelum benar-benar mandi dan berganti baju.
"Haha, jangan membuat kesempatan dalam kesempitan, Erin itu adalah seorang gadis yang ganas!" bisik Rasta pada Erin.
Sang teman kemudian kejar-kejaran seperti anak kecil.
Rindu dan Beni terlihat saling mengobrol.
"Ben, jaga temanku ya? kau jangan menyakiti temanku!" ucap Rindu.
"Iya, tanpa kau mengatakannya juga aku akan menjaganya, kau juga jagalah Rasta!"
__ADS_1
"Ya ya, aku paham! ha? Rasta? kau kenal Rasta?"
"Bukannya pria tadi Rasta?"
"Ha? dia Bagas."
Sang gadis merasa dibohongi tetapi dia ingin memastikan hal yang sebenarnya kepada pria bernama Bagas yang sesungguhnya bernama Rasta.
"Hm, aku tidak tahu apapun mengenai ini tetapi kau janganlah marah dulu, kau harus berbicara dengan baik-baik dan mengatakan bahwa apa yang kau rasakan dan apa yang kau ingin luapkan kepadanya."
Rindu berada dalam titik dimana dia sangat marah, sedih juga kesal.
Bagaimana tidak? dia baru saja dibohongi oleh kedua orang tuanya tetapi harus menerima kenyataan yang sangat pahit ini.
Dia sudah menerima keberadaan Rasta di dalam kehidupannya tetapi jika ada kebohongan yang terstruktur seperti ini dia tidak bisa melanjutkan pertemanan dengan Rasta ataupun Bagas.
*****
__ADS_1