Ruang Rindu

Ruang Rindu
Ingin lebih dekat.


__ADS_3

Dua puluh menit berlalu, sang gadis terlihat sangat kesal ketika dirinya selalu diganggu oleh Rasta.


"Aku tahu, kau ingin meminta nomor ponselku tetapi tidak harus seperti ini kan?" ucap sang gadis karena melihat Rasta belum mengganggu dirinya yang sedang menatap bunga-bunga yang ada di hadapannya.


"Bagas, akan selalu berusaha sebelum mendapatkan apa yang diinginkan. Jadi, sampai ke pusat pun aku tidak akan pernah diam untuk meminta nomor ponselmu."


"Ya ya ya, aku paham jika kau adalah seorang militan jika ingin sesuatu harus segera dipenuhi, mana ponselmu! aku akan memberikan nomornya setelah itu, jangan ganggu aku oke?"


"Siap!"


Sang gadis menerima ponsel yang diulurkan oleh Rasta, lalu segera membuka ponsel milik pria itu dan menulis nomor miliknya di sana.


"Sudah! sana pergi!"


"Dih, galak banget!"


"Bodo amat!"


.


.


.


Dua jam berlalu ...


Mobil Erin, terparkir di depan rumahnya.


Di sana dia melihat ada mobil milik Rasta.


"Loh, kenapa Rasta yang mengantar Restu? harusnya kan yang mengantar Restu itu asisten pribadinya?"


Erin, terlihat sangat penasaran dengan alasan Rasta mengantar sang adik pergi ke rumahnya.


Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Saat dia membuka pintu utama tiba-tiba saja dikejutkan oleh Restu yang mengagetkannya.


"Astaga! kenapa kau mengagetkanku sayang?" ucap Erin sambil mengusap rambut Restu.


"Kakak, sedang PDKT dengan Kak Rindu?" bisik Restu.

__ADS_1


"Ha? benarkah?" ucap Erin tidak percaya jika seorang Rasta bisa dekat dengan Rindu yang super cuek itu.


"Tapi Kak Erin jangan mengatakan apapun kepada kakak, kakak berganti nama menjadi Bagas. Dia tidak mau ketahuan jika namanya Rasta, ini aneh bukan?"


"Haha, tidak ada sayang! dia sedang menyembunyikan sesuatu tetapi kau hanya anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa."


"Haha ... aku tidak paham Kak Erin."


"Lebih baik kau tidak paham daripada nanti paham kakakmu akan membuatmu berhenti makan daging nanti!"


"Hah, jangan seperti itulah Kak, aku masih kecil kenapa diancam!"


"Haha, lebih baik kau ikut aku saja karena selama ini tidak ada orang yang mampu membuat Kak Rindu luluh, biarkan mereka berdua mengobrol dan menyatukan perbedaan masing-masing."


"Aku semakin tidak memahami apa yang kau katakan Kak! aku sangat pusing!"


"Kita main dengan Alpa saja!"


"Ayo!"


...


Di tempat lain, Rasta masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh seorang Rindu, dia mengejar alasan itu.


"Haha, kau ini ingin mengejekku atau menghina? aku memang keras kepala tetapi tidak seperti batu, aku manusia kan."


Rindu, dia tidak mau terlalu memikirkan suatu hal yang akan membuat pikirannya semakin kalut, dia membiarkan hidupnya mengalir seperti air.


Rindu, sudah mulai terbiasa dengan kehidupan yang sulit meskipun dia baru saja merasakan gundah di dalam hatinya yang tidak akan pernah surut karena rasa kesal serta lelah akibat perkelahian kedua orang tuanya setiap hari, sampai dia harus mendampingi sidang perceraian kedua orang tuanya yang sangat Rindu cintai.


"Aku juga memiliki kesulitan yang sama seperti kau tapi jangan memikirkan itu terlalu lama, aku ingin kau menjadi wanita yang tegar!"


"Sok tahu!"


"Kau ceritakan semua masalahmu kepadaku dan aku akan memberikan solusi, jadikan aku teman curhatmu ya? aku ingin dekat denganmu, ingin menjadi temanmu!"


"Haha, semakin lama kok semakin lucu saja, aku tidak ingin membebani siapapun dengan cerita yang kuno ini, kau ganggu gadis lain saja jangan aku!"


"Rindu, aku melihat dari raut wajahmu itu kau sangat menyedihkan jadi aku mau kau menceritakan apa yang ada di dalam hatimu, meskipun aku baru saja mengenalmu tetapi aku merasakan kita pernah dekat."


Rasta berusaha dengan keras agar seorang Rindu, mau menuruti apa yang dia inginkan padahal tidak semudah itu.

__ADS_1


Ketika kedua orang itu sedang berdebat tiba-tiba saja Erin dan Restu datang.


"Jangan bertengkar di sini karena rumahku bukan tempat untuk beradu mulut, lebih baik kita mengisi perut saja daripada marah-marah!"


Erin menatap kedua orang yang sudah dewasa tetapi masih saja kekanak-kanakan.


"Bagas yang memulai segalanya Rin, aku sudah memberikan ku tetapi dia masih saja mengganggu padahal aku sangat kesal."


"Ya, daripada saling kesel mending jadian saja sana!"


Erin yang selalu melihat sahabatnya bertengkar, meskipun tidak bersama Rasta.


Sebelumnya Rindu juga terlibat beberapa masalah dengan orang yang tidak ia sukai, sama seperti hari ini, hanya ribut dan ribut.


"Rin, Ras, lebih baik kalian ikut bersamaku ke dapur dan beradu mulut lah di sana sambil beradu tangan, aku ingin kalian kedua membantuku mengupas bawang serta mengiris beberapa bahan yang ingin aku masak!"


Erin memberikan tantangan kepada dua orang yang baru saja berkenan tetapi sudah mengajak ribut itu.


Erin mencoba mencari solusi agar dua orang itu tidak terlalu banyak bicara dan bertengkar, hingga teringat satu kisah bahwa orang yang tadinya membenci pasti akan saling jatuh cinta.


Jadi, dia akan membiarkan dua orang itu berada di dapur serta memasak masakan untuk dirinya dan Restu.


"Aku cowok Rin, aku tinggal makan saja ya?"


"Tidak bisa, kau harus ikut aku dalam memasak makanan untuk siang, titik!"


Rasta tidak bisa bernegosiasi dengan Erin karena dia adalah gadis yang lebih keras kepala daripada Rindu, Rasta tidak habis pikirkanlah dia selalu dikelilingi oleh gadis-gadis tangguh yang tidak mudah dirayu seperti gadis-gadis lain.


"Aku tidak masalah juga harus memasak karena sudah keahlian yang aku miliki, pria ini! dari wajahnya saja sudah diragukan, entah dia punya bakat atau tidak!"


Pedas sekali kata-kata Rindu, membuat sang pria harus mengelus dada akibat dirinya yang tidak mau mengeluarkan kata-kata kasar terhadap gadis yang membuatnya terkesan.


"Sabar Rasta, kau pasti akan mendapatkan hati gadis itu tetapi tidak boleh tergesa-gesa. Kau tidak akan mungkin gagal, pasti berhasil!" batin Rasta penuh dengan kemenangan yang luar biasa karena mampu mengendalikan dirinya yang seharusnya begitu temperamen itu.


Di dapur ...


Dua orang yang saling bersitegang terlihat berdiri di depan meja yang sudah ada bahan-bahan masakan, Erin meminta dua orang itu untuk lomba masak nasi goreng paling enak.


"Ini lebih penting dari perlombaan yang sesungguhnya, tunjukkan kemampuan kalian berdua daripada harus berkelahi! tiap hari aku mendengar cerita dari kalian berdua mengenai perkelahian dan perkelahian saja, aku bosan!"


Rindu dan Rasta menahan tawanya karena memang beban hidup selalu diberikan kepada Erin.

__ADS_1


Sedangkan Erin harus menyelesaikan semua permasalahan dua teman yang menyebalkan itu dengan segera karena jika tidak pastinya mendapatkan banyak ancaman, dia kesal jika harus menuruti semua permintaan Rindu dan Rasta jika sedang curhat.


*****


__ADS_2