Ruang Rindu

Ruang Rindu
Kesunyian


__ADS_3

°°°


Kukisahkan lanjutan cerita yang menanti untuk dirampungkan walau badan dan fikiran tak kunjung menemukan kedamaian walau hanya sekadar bursua dimeja kopi yang sama tak kunjung dapat terlaksana.


Kutatap matahari pagi memberikan kehangatan dan tak pernah risau walau dihiraukan bahkan banyak cacian. pagi yang sepi selalu menhantui tak ada senyum indah menyambut menambah perih luka didalam hati; hari ini kupaksakan langkahku tetap berlanjut untuk menemukan arti hidup yang akan menjawab segala pertanyaan lama yang tak sabar dituntaskan.

__ADS_1


niat hati ingin menemui kakek yang kutemui untuk menanyakan gundahan hati yang kian lama menghantui. langkah mantap berharap kutemui kakek itu walau sejatinya tak dapat tertahan walau hanya sekejap.


lantunan syair dan doa terdengar riuh dari balik pintu tempat dimana kakek yang kubuntuti hari lalu. menunggu aku diluar pintu tak mau mengganggu rutinitas orang yang ada didalam fikirku namun rasa ingin tau begitu besar dan tak mampu lagi tertahan, kuketok pintu yang menjadi penghalang antara aku dan orang yang berada didalamnya yang tak lama muncul seorang anak kecil dari dalam ruangan itu.


bertanya iya kepadaku "selamat pagi paman adakah suatu hal yang mungkin dapat saya bantu?" katanya, "aku mencari seorang kakek kemarin saya mengikutinya dan hendak menanyakan suatu hal padanya namun tak sanggup bibir ini mengucapkan sepatah kata dan hanya langkah kaki menghantarkan saya ketempat ini". ucapku pada anak itu yang belum aku tahu namanya.

__ADS_1


Belum juga selesai aku tertegun heran hingga suara kakek itu menyadarkanku dari lamunan "Siapakah engkau wahai anak muda,apakah aku mengenalmu atau aku pernah berbuat salah padamu?" ucapnya padaku "Jikalau benar aku ada pernah melakukan kesalahan padamu semoga engkau memaafkan ku karena aku malu jikalau menghadap Tuhanku sedang masih juga aku berbuat salah pada sesamaku". kalimat itu membuatku tertegun, masih ada orang yang hidup dalam dogma agama yang mengharuskan ia taat kepada-Nya, menggantungkan segala harap pada Tuhan yang entah benar adanya. Seketika tubuhku kaku sampai-sampai tak dapat lagi aku menggerakkan anggota tubuhku, kesadaran ku mulai pudar terjatuhlah tubuhku hilang sepenuhnya kesadaran ku.


Tubuhku seperti tenggelam dalam lautan yang tak berdasar kucoba berontak namun hasilnya tetap sama, kesadarankupun mulai menghilang kucoba untuk tetap bertahan terbersit sebuah sinar yang tak tahu muncul darimana, begitu redup sinarnya kucoba meraih walau tak sampai padanya. Tanganku masih tetap mencoba meraih sinar yang semakin redup itu tetap saja tak dapat kugapai sinar yang perlahan-lahan menghilang meninggalkanku dalam kesunyian dan kehampaan.


Teringat aku pada perkataan kakek itu "Aku malu jikalau menghadap Tuhanku sedang masih juga aku berbuat salah pada sesamaku". yang mana akupun tak tahu apa maksud perkataan itu karena telah lama aku menghilangkan tuhan yang ada padaku.

__ADS_1


°°°


__ADS_2