
Kepalaku tertunduk dengan masih sesegukan. Sakit rasanya diabaikan. Lewat telapak tangan kutekan dadaku kuat-kuat.
"Seperti inikah yang dulu dirasakan oleh kamu, Mas? Lalu apa ini caranya kamu membalasku?" gumamku disela-sela isakan yang makin menjadi.
Memoriku kini memutar, mendekte satu persatu sikap yang pernah aku tujukan kepadanya. Acuh, tak bersimpatik dan juga tak mau memperdulikannya.
Sikapku padanya yang dulu justru sekarang menjadi boomerang yang menikam diriku sendiri, dan aku sungguh tak ingin diperlakukan seperti ini. Dengan sikap diamnya saja aku sudah senelangsa ini, lalu bagaimana jika sudah tiba waktu berpisah nanti, jeritku dalam hati.
Aku menggeleng kuat dan dengan segera aku beranjak menuju ke arah pintu dan kuyakini Mas Pras pasti belum tidur.
Tiba di depan pintu kamar Aqila, aku mencengkeram kuat handle pintu yang pada akhirnya dengan tekad kuat aku membukanya. Bersamaan dengan itu Mas Pras membalikkan tubuhnya yang lantas mengarahkan pandangannya padaku.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu?" tanyanya diiringi bangkit dari posisi tidurnya.
"Mas gak sukakan anak yang kukandung laki-laki?" ucapku serta merta yang masih dalam posisi berdiri di depan pintu.
"Apa maksud kamu?" kata Mas Pras yang menatapku dengan alis menyatu.
"Sikap Mas berubah. Mas menjauhiku," ucapku dengan suara bergetar.
"Lalu sikap apa yang bisa Mas tunjukkan padamu? Memberimu perhatian, berbasa-basi menanyakan ini dan itu. Buat apa? Ini semua Mas lakukan untuk membentengi hati Mas sendiri. Bila Mas terus saja berada di dekatmu, itu sama saja Mas akan kesulitan untuk melepasmu," jelas Mas Pras dengan melangkah mendekatiku.
Aku tersentak dengan satu langkah mundur menatapnya dengan air mata mengenang. "Mas— apa yang Mas katakan? Apa itu artinya Mas tahu anak yang kukandung adalah anakmu, Mas?" kataku dengan suara tercekat, nyaris tak percaya.
__ADS_1
Lantas kini Mas mengangguk menanggapi ucapanku dan serta merta jantungku serasa terpompa begitu cepat dan dengan segera aku berucap meninggikan suara. "Mas tahu, demi meyakinkanmu dan demi membuat Mas percaya padaku, aku sudah hampir gila!"
Sejenak aku mengatur napasku. "Siang malam aku berpikir bagaimana caranya membuktikan anak ini milikmu, dan Mas tahu—Aku tersiksa. Dan itukah yang Mas mau. Membalas semua dengan apa yang telah aku lakukan dulu?" ucapku menatap sorot matanya.
Mas Pras menghela napas kasarnya lalu mulai bersuara. "Awal tahu kamu hamil ada keraguan dalam hati Mas. Tapi, seiring berjalannya waktu Mas meyakini itu benar anakku. Karena Mas sangat mengenal siapa sosok istri Mas ini. Dia begitu patuh pada kedua orangtuanya, dia amat manja dan aku meyakini tak akan mungkin dia berbuat dosa besar. Lalu setelah mengetahui anak yang ada dalam kandunganmu sesuai dengan keinginan Mas, Mas sudah gak bisa berbuat apa-apa."
Keputusasaan melingkupi sorot matanya, tangannya kali ini meraih kedua pundakku dan berucap lagi. "Bersabarlah, sebentar lagi kamu bisa mengejar apa yang menjadi keinginanmu. Pengacara Mas yang akan atur semuanya."
Aku masih menatap Mas Pras meski dengan pandangan mata yang mulai mengabur. Cekalannya pada pundakku pun kini terasa mengendur, langkahnya memutar dan sebelum Mas Pras benar-benar menjauh dari hadapanku aku berucap, "Mas menyerah?"
Langkahnya pun terhenti, dan dengan segera aku berjalan cepat ke arahnya untuk mendekap tubuhnya dari belakang, serta melanjutkan ucapanku dengan suara bergetar. "Mas sudah berhasil buat aku menanggung rindu karena terus saja mengabaikanku, dan kali ini Mas dengan mudahnya mau melepaskan aku. Apa itu gak jahat?"
__ADS_1
To be Continue
Lanjutannya ntar mAlem,, komen yang banyak yaaaa