Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 95


__ADS_3

Hampir dua minggu aku berusaha merebut perhatian Mas Pras. Kupikir hanya dua—tiga hari hatinya akan luluh begitu saja padaku, namun nyatanya tidak.


Dia masih bertahan dalam mode diam dan akan menyahuti ucapanku dengan jawaban sekedarnya. Sakit hati sudah pasti, tapi kupikir hatinya yang lebih sakit sebab ulahku.


Aku menghela napasku panjang usai menidurkan Aqila. Dari tadi dia tak henti-hentinya berbuat usil kepada adiknya.


Mempunyai dua anak balita sungguh menguras tenaga juga emosiku. Mereka butuh pengawasan ekstra, meski sudah dibantu dengan orang-orang yang dipekerjakan di rumah tetap saja tak membuatku menutup mata. Karena aku juga ingin Mas Pras melihatku bahwa aku sungguh-sungguh telah berubah.


Aku duduk sejenak di tepian ranjang, dengan mata mengedar menyaksikan mainan milik Aqila yang berserakan memenuhi lantai kamar.


Aku menggeleng lalu tersenyum tipis. Hal yang kulihat ini mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Aku paling suka bermain tapi ketika usai aku tak pernah mau mengembalikan mainan pada tempat yang sudah disediakan, selalu aku tinggalkan begitu saja atau lebih parahnya lagi aku tinggal tidur. Dan kenyataannya sikap burukku itu menurun pada Aqila.


Tapi Mas Pras selalu meyakinkanku bahwa anak kecil bisa berubah bila diajarkan kedisiplinan sejak dini. Dia mengatakan itu tugas kami sebagai orangtua yang membimbing, memberi arahan dan juga menjadi contoh bagi anak-anak kami.


Diamnya Mas Pras selama dua minggu ini membuatku memikirkan banyak hal. Lima tahun kehidupan rumah tangga yang kami jalani berjalan timpang.


Aku yang selalu saja merasa terpuruk dan berfikir bahwa akulah korban dari takdir yang di gariskan Tuhan. Sedangkan kekuatan yang kubangun untuk menjalani biduk rumah tangga adalah sebatas hubungan timbal balik.

__ADS_1


Saat aku mulai bertekat bisa keluar dari rasa kepahitan dan berharap mampu menemukan kebahagiaan dengan menggantungkan harapan besarku pada pria lain disitulah petaka besar di mulai.


Karena pada kenyataan usaha yang kupikir tinggal sedikit lagi rampung justru roboh seketika akibat sikap ketidakpeduliannya yang malah memancing rasa ketidakberdayaanku.


Ruang di hatiku layaknya tak berpenghuni, dan harus kuakui bahwa tanpa sadar dirinya yang awalnya kubenci dan mulai pergi justru malah menjadi orang yang paling aku rindui.


Air mataku sudah meleleh membanjiri kedua pipi. Dalam hati aku merutuki diri yang memang terlalu bodoh ini.


Kini terdengar pintu di ketuk, segera aku menghapus jejak air mataku lalu menyahuti orang dari luar untuk masuk.


"Nyonya, Tuan Pras sudah pulang," ucap Mbak Siti setelah pintu terbuka. Aku pun mengangguk, memang tadi aku berpesan pada orang rumah jika Mas Pras sudah pulang meminta mereka untuk memberitahuku.


Sebelum aku meninggalkan kamar pun aku mengecup pelan kening Aqila dan berlanjut keluar dari kamar untuk menuju kamarku, karena kuyakin Mas Pras sudah berada di kamar untuk membersihkan diri.


Aku pun menunggui dengan duduk di tepian ranjang. Di sampingku sudah ada satu stel pakaian santai yang baru saja aku ambil dari almari, kupersiapkan khusus untuknya.


Beberapa menit menunggu aku harus kecewa sebab setelah pintu kamar mandi terbuka kulihat Mas Pras telah memakai pakaian lengkap. Tapi aku masih berusaha tersenyum di hadapannya meski terasa getir.

__ADS_1


"Mas sudah makan?" tanyaku diiringi beranjak menghampirinya yang tengah berada di depan meja rias menyisir rambutnya.


"Sudah makan di kantor," sahutnya terdengar begitu datar membawa aliran nyeri di dadaku.


Aku menarik napasku berusaha tetap tenang, meyakini bahwa dia tengah mengujiku dan aku berusaha untuk menekan kuat emosi jiwaku. Kemudian dengan langkah maju aku menebalkan muka, mengenyahkan rasa malu, berjalan lebih mendekat kemudian menggerakkan ke dua tanganku untuk melingkar di tubuhnya memeluknya dari samping mencari kenyamanan dari dirinya yang sudah beberapa hari aku rindukan.


"Mas tahu gak, hari ini anak-anak benar-benar susah diatur—," sengaja aku menjeda ucapanku, mengendurkan sedikit pelukanku dan menggeser tubuhku untuk berdiri tepat di hadapannya. Sengaja agar Mas Pras manatapku juga menanggapi ceritaku hari ini. Karena memang seperti inilah yang aku lakukan akhir-akhir ini, bercerita panjang lebar dengan tujuan mencari perhatian darinya.


Aku menarik napasku sebelum melanjutkan ucapanku. "Aqila susah banget di kasih tahu, Razka di jahili sampai menangis. Aku bahkan sampai kualahan menghadapi mereka berdua. Dan disaat waktunya Razka minum ASI, Aqila malah meminta untuk di suapin. Digantiin sama Mbak tetap gak mau. Dia ngotot pokoknya minta harus Mama yang suapin," ujarku menirukan gaya khas Aqila yang merengek, menunjukkannya pada Mas Pras.


"Jadi alhasil satu tanganku dipakai untuk menggendong Razka sementara satu tanganku yang lain untuk menyuapi Aqila. Mas bisa bayangkan kan gimana tadi anak-anak bersikap manja padaku," jelasku sudah dengan suara bergetar dan mata berkaca sebab Mas Pras hanya menatapku tanpa memberi respon apapun.


Aku menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum, dengan mata yang kurasakan kian memanas, air mata pun mulai terasa mengalir dari sudut mataku. Berulang kali aku menarik napasku berusaha untuk tetap bersikap setenang mungkin, meski batinku rasanya sudah begitu amat nyeri karena sikapnya yang begitu dingin.


Aku menggigit bibir bawahku sebelum mengeluarkan suara lagi, "Tapi percayalah, istrimu ini gak capek kok atas ulah anak-anak."


"Karena aku sangat mencintai mereka dan juga kamu, Mas." Lirihku lalu merangsek memeluk dirinya erat disertai tangisan yang tak mampu lagi kukendalikan.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2