
Aku masih terisak saat pelukan kami terlepas. Mas Pras yang masih menunjukkan raut wajah bingung kini membantuku untuk duduk menyandar pada beberapa bantal yang telah dia tata di belakang punggungku.
"Katakan, kamu kenapa. Minta maaf karena apa?" tanyanya dengan tangan terulur menghapus air mataku.
Aku mendongakan kepalaku menatap manik matanya. Dadaku kembali menyesak, mulutku terbuka namun untuk berbicara saja rasanya begitu sulit. Hingga— aku hanya mampu menggelengkan kepala.
Mas Pras menarik kedua sudut bibirnya tersenyum samar lalu berujar, "Sudah pagi waktunya bangun. Mas yakin kamu bermimpi buruk karena gak sempat sholat subuh, dan Mas pun demikian."
Arah pandangnya kini beralih pada jam yang tergantung di dinding. "Sudah pukul tujuh lebih. Cuci muka setelah itu sarapan, biar Mas yang urus Aqila," ucapnya lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya membantuku bangun.
Aku terduduk sejenak dengan kepala memutar memperhatikan gerak-gerik Mas Pras yang beralih naik ke ranjang membangunkan Aqila.
"Kenapa masih duduk disitu, segera ke kamar mandi. Setelah selesai giliran Aqila yang akan mandi," ucap Mas Pras dan aku pun menuruti kata-katanya tanpa memberi bantahan sedikitpun meski dalam hati masih menyimpan begitu banyak ganjalan.
__ADS_1
***
Aku lebih banyak termenung sesudah kembali dari rumah orangtuaku. Lewat goresan pena aku menuliskan apa saja yang ada dalam hatiku. Kegalauan, kerisauan seolah menjadi satu. Jika aku begitu tak rela dengan apa yang aku memiliki termiliki oleh orang lain, bukankah itu artinya sama saja aku harus bertahan disini.
Aku menarik nafasku dalam kemudian kudongakkan kepalaku menatap pada langit biru dari balik kaca jendela.
Jika aku selalu menginginkan kebahagiaan, bukankah Mas Pras juga berhak demikian?
Bola mataku kini bergerak memperhatikan seisi ruangan, banyak hal yang telah kami lakukan bersama, sadar dan tidak sadar aku mulai sedikit demi sedikit mengetahui siapa sosok Mas Pras dan kali ini justru sudut hatiku yang mulai terasa berdenyut.
Suara ketukan pintu mulai membuyarkan lamunanku. Kulihat sekarang Mas Pras muncul dari balik pintu. "Bersiaplah, jam setengah dua kita berangkat ke dokter," ucapnya dan akupun mengangguk lalu beranjak dari dudukku kemudian menutup dan menyimpan buku diariku.
Sesuai janji temu yang telah ditentukan oleh dokter Dewi, siang hari ini adalah waktunya aku melakukan pemeriksaan sekaligus USG untuk mengetahui kondisi bayi yang ada dalam kandunganku, juga bila beruntung aku bisa sekalian tahu jenis kelaminnya.
__ADS_1
"Bayinya laki-laki Dok?" tanya Mas Pras memastikan usai dokter Dewi menyebutkan apa yang dia lihat di layar monitor.
Dokter Dewi pun kini mengangguk dan memberi ucapan selamat kepada kami. Namun senyumku yang semula merekah kini perlahan surut kala aku menatap wajah Mas Pras yang kalau tak salah dari penilaianku dia terlihat menampilkan raut wajah yang meredup, hingga perasaan gelisah seketika menyusup ke dalam hatiku.
Apa dia tak menyukainya? tanya batinku.
Dan disaat dokter Dewi memberi begitu banyak penjelasan juga masukan yang baik untuk masa kehamilanku sampai pada proses kelahiran, aku hanya tenggelam dengan isi pikiranku.
To be Continue
Pendek dulu, jangan lupa jempol, komentar juga di Vote
biar aku juga makin semangat buaT updatenya.... Apa yang terjadi kedepannya??
__ADS_1