
Berjibaku dengan peralatan dapur, itu yang tengah kulakukan di pagi buta. Sengaja aku bangun pagi untuk menyiapkan bekal makanan untuk putriku, Aqila.
Tepatnya hari ini dia ada kegiatan out bound di sekolah dalam rangka acara perpisahan, karena tahun ajaran baru besok dia sudah naik ke sekolah dasar.
Waktu seolah berjalan begitu cepat, di usia penikahan yang akan menginjak angka tujuh aku kian menikmati peranku sebagai seorang istri juga ibu dari ke dua anakku. Akhir-akhir ini aku lebih sering menghabiskan waktu di dapur. Dan itu terjadi kala Mas Pras memberi satu pujian kala tak sengaja aku membuat makanan dari hasil tanganku sendiri, pada saat para asisten rumah tangga kami sedang menikmati waktu cuti.
Keadaan yang mendesak dan kondisi di luar yang hujan memaksaku untuk mengolah bahan makanan yang berada di dapur. Nasi goreng dengan campuran sayur yang kupotong kecil-kecil dengan tambahan bumbu dan kecap nyatanya membuat Mas Pras tak hentinya untuk mengeluarkan kata pujian yang ditujukan padaku. Dan tentu saja hal itu membangkitkan sisi kewanitaanku untuk lebih mengasah lagi kemampuan yang kumiliki. Karena berusaha memberi dari hasil kerja tanganku menjadikan kebanggaan tersendiri untukku dan juga sebagai wujud cintaku pada keluarga.
Di tanganku sudah ada sosis dan pisau, aku menggerakkan pisau dengan arah memutar hingga membentuk spiral, hal itu kulakukan hingga berulangkali. Dan ketika pekerjaanku tinggal sedikit, aku begitu tersentak hingga menjatuhkan pisau dari tanganku. Sosis yang baru setengah jadi pun terputus tak terbentuk sempurna.
"Mas!" protesku yang terkejut akan kedua lengan Mas Pras yang merambat dan melingkar di perutku.
"Hmmm," gumamnya yang kurasa kepalanya semakin merangsek disela-sela tengkukku, kemudian dia mulai mengecupi bagian belakang tubuhku.
"Kamu mengagetkanku!" ucapku, bergerak risih menjauhkan kepalaku darinya.
"Kapan kamu bangun? Kenapa aku sampai gak tahu," sahutnya menarik diri beralih menatapku.
Aku menghela. "Aku buat sarapan untuk Mas dan juga bekal Aqila," sahutku menoleh membalas tatapan Mas Pras dan kukecup pipinya. "Semalam kan aku sudah bilang mau bangun pagi buat siapkan ini," sambungku dengan menepuk lengannya agar terlepas dari belitannya. Kemudian melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.
"Kamu jadi semakin repot begini," keluhnya.
Sontak aku menggeleng. "Aku menikmatinya," sahutku tersenyum tulus.
Sedangkan yang dilakukan oleh Mas Pras adalah mengulus puncak kepalaku, mengecupnya dan berujar, "Terimakasih isteriku."
Dan tentu dibalik tubuhku yang membelakanginya aku tersenyum tersanjung akan perlakuannya.
Pekikan tangis kali ini terdengar dari arah kamar, sontak aku menoleh begitu pula dengan Mas Pras. Tanpa menunggu perintahku Mas Pras yang lebih dulu ambil tindakan bergegas menuju kamar. Tak berselang dalam gendongan sudah ada Razka yang masih menangis sesegukan.
"Sini ikut Mama," kataku setelah mencuci tangan, melepas celemek dan mengambil alih Razka.
"Mas tolong lanjutkan yang itu ya, tinggal sedikit lagi," ucapku meminta bantuan padanya karena masih beberapa potong sosis dan nugget yang belum matang sempurna.
Aku pun duduk di salah satu kursi makan di dapur, memangku Razka sambil menyusuinya. Usianya yang belum genap dua tahun membuatku bertekad untuk konsistensi memberinya ASI eksklusif. Di tengah-tengah aktivitasku yang seperti sekarang ini, terdengar kembali pekikan dari arah kamar.
Putriku Aqila layaknya telah bangun, entah apa yang dia cari. Bersamaan dengan pintu yang terbuka, terdengar lebih jelas apa yang sedang dia inginkan. "Mama— kaos kaki panjang warna orange Kika gak ada," adunya padaku dengan menampilkan mimik wajah kesal.
Aku sesaat melirik ke arah Mas Pras. Drama di pagi hari, selalu saja ada barang yang dicari olehnya. Padahal seringnya dia lupa menaruh atau meletakkan barang yang sudah dipakai di tempat sembarangan.
__ADS_1
Aku menghela. "Kakak coba ingat-ingat, kapan terakhir kali dipakai? Mungkin lupa naruhnya," sahutku.
Tapi yang terjadi Aqila terlihat semakin cemberut dan menghentakan kakinya. "Sudah Mama— Kila taruh di keranjang seperti biasa. Tapi Kila cari masih gak ada."
"Kan bisa pakai yang lain," sahut Mas Pras yang masih sibuk dengan alat penggorengan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Gak mau Papa— Kila mau yang kaos kaki warna orange. Biar samaan seperti baju Kila," ucap Aqila yang merengek.
Tanpa sadar aku memperhatikan baju yang dikenakan Aqila. Dia sudah berganti dengan setelan baju olahraga putih yang dikombinasi dengan warna orange. "Kakak sudah mandi?" tanyaku terheran.
Pun dengan wajah cemberut Aqila mengangguk. Kembali aku bertanya, "Mandi sendiri?"
"Iya Mama—," sahut Aqila dengan nada meninggi yang kemudian diiringi dengan tangis.
Aku pun mencukupkan aktivitas menyusuiku pada Razka dan meletakkannya pada kursi khusus, lalu kutinggal menghampiri Aqila untuk masuk ke dalam kamarnya mencari barang yang tengah dia cari.
Kesabaran layaknya diuji dengan waktu yang seolah semakin berjalan cepat. Mencari sepasang kaos kakinya saja membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit, belum lagi dengan bekalnya juga melihat kondisi Aqila yang belum siap karena rambutnya masih berantakan, belum disisir.
Mencari-cari di sepenjuru ruangan tak juga ketemu, mataku kemudian beralih pada tas ransel bergambar kartun Marsha milik Aqila. Dan saat aku membuka resleting depan, putriku memekik, "Mama ketemu!"
Antara ingin marah atau senang karena barangnya ketemu yang jelas ada kelegaan yang muncul dalam hatiku. Tanpa banyak berkata aku pun mulai mengurus penampilan Aqila. Menyisir rambutnya, merapikan pakaiannya hingga kaos kaki dan sepatunya.
Begitu keluar kamar aku langsung mendudukan Aqila di meja makan mempersiapkan sarapannya dan tentu menata bekal miliknya.
Iya tak semestinya aku marah. Itu hanya hal sepele, mungkin Aqila meletakkan kaos kakinya di dalam tasnya bertujaan agar barang itu tak tertinggal.
Aku pun mengangguk dan langsung memeluk putriku. Mengecupnya beberapa kali dan berkata, "Iya gak papa."
"Kila berangkat ya Pa—Ma," ucapnya berpamit usai bercium tangan pada kami. "Da da Adek," ucapnya lagi melambaikan tangan, lalu berlari kecil menuju arah rombongan.
Belum meninggalkan tempat Mas Pras pun berujar, "Pekerjaan rumah tak usah dikerjakan dulu, tunggu sampai asisten rumah kita kembali dari cutinya."
Aku mengangguk. Memang sudah beberapa hari aku kelelahan dengan pekerjaan rumah yang kukerjakan, padahal Mas Pras berulang kali memberitahuku agar aku selalu jaga kondisi. Tapi aku selalu memaksa.
"Nanti kita jemput Aqila sama-samakan?" ucapku mengingatkan, tak menanggapi apa yang Mas Pras katakan tadi.
"Iya," sahut Mas Pras tersenyum dan mengelus puncak kepalaku, lalu berlanjut kami masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
Sore tiba, kami bertiga telah menunggu di depan sekolahan milik Aqila. Dan begitu bis dari rombongan sekolahnya sampai, aku begitu tak sabar menunggu putriku muncul dari sana.
Wajah lelah, rambut berantakan, baju kusut dengan tas di punggung dan tentengan di tangan kanan dan kirinya membuatku merasa gemas saja padanya. Namun binar bahagia di matanya muncul kala dia menyadari keberadaan kami. Mas Pras dengan sigap menyambut dan memeluk putri kami ke dalam gendongan.
"Putri Papa bau acem," ucap Mas Pras tapi masih saja mengecup pipi Aqila yang membuatnya memekikkan tawa.
Sementara aku mengambil alih barang milik Aqila, memasukkan ke dalam mobil. Hingga perjalanan pulang menuju rumah tak hentinya Aqila menceritakan keseruannya bersama teman-temannya.
Dan begitu sampai rumah aku membantu membersihkan tubuh Aqila, mandi berganti pakaian, makan malam hingga mengantarkan ke kamar untuk beristirahat. Tak butuh waktu yang lama, sebab keadaannya yang lelah membuatnya cepat memejamkan mata. Sebelum aku beranjak keluar kamar kukecup terlebih dahulu pipinya. "Tidur yang nyenyak ya sayang," gumamku pelan.
Tiba di kamar kulihat Mas Pras masih menimang Razka. Aku pun memilih untuk langsung membaringkan tubuhku di kasur dan tak lama ketika mataku tak sadar telah terpejam, kurasakan kakiku ditarik pelan kemudian diletakkan di atas pangkuan Mas Pras.
Akhir-akhir ini memang Mas Pras memperlakukanku seperti itu. Aku berusaha untuk tak banyak mengeluh sebab aku tahu dia juga telah lelah akan pekerjaannya yang tentu mengurus lebih dari satu tempat.
Aku pun merubah posisiku, yang semula berbaring ki i menyandar pada bantal yang Mas Pras tumpuk di belakang punggungku.
"Mas kan sudah bilang, jaga kondisi kamu. Jangan terlalu dipaksakan. Ingat apa yang dokter bilang, gak boleh capek-capek. Apalagi pekerjaan rumah. Biarin, kalau Mas pulang biar Mas yang kerjakan," ucap Mas Pras yang terdengar seperti omelan.
Sedangkan tanganku bergerak teratur mengelusi perutku, dan tentunya sambil menikmati pijatan yang dilakukannya.
"Vitamin sudah diminum?"
Aku mengangguk. Kondisiku memang sedang hamil dan usianya telah menginjak lima bulan. Awalnya aku tak mengetahuinya dan baru sadar saat usia kehamilanku yang menginjak tiga bulan. Sungguh ini tak direncanakan karena mengingat usia anak kedua kami saja yang masih kecil bahkan belum selesai melepas masa menyusui.
Tapi bagaimanapun kami mensyukuri kehadiran anak ke tiga kami ini. Mas Pras menjadi begitu mencurahkan perhatiannya untukku, dan karena segala dukungan yang diberinya juga suasana hatiku yang selalu baik, keadaan kehamilanku kali ini tak ada kendala apapun.
Tapi lagi-lagi hormon kehamilan ini bergerak aktif, layaknya kala aku mengandung Razka dan beruntungnya kini suasana berbeda. Jadi tentu saja bila aku meminta apapun Mas Pras akan menurutiku.
Masih memijati kakiku, sedikit menarik kaki dan menggeser tubuhku merapat pada Mas Pras layaknya dia tahu apa mauku.
"Gak capek?" tanyanya.
Dan tentunya aku menggeleng, sebab rasa dalam diriku sudah tak bisa untuk ditahan. Ingin segera mendapat pelampiasan. Tanganku pun bergerak mengalung pada tengkuknya, dengan Mas Pras yang menyambutku dengan ciuman. Yang awalnya lembut menjadi kecupan-kecupan yang mendamba.
Dengan masih menyalanya lampu utama, tubuhku sudah beralih berbaring dengan Mas Pras yang mengungkungku menggunakan tubuh kokohnya.
Wajahnya tentu terlihat jelas kala kami saling bersitatap. Dan hal yang kulakukan sebelum sama-sama kami terpuaskan, tanganku selalu meraba tepat pada dada telanjangnya, guna merasai debaran seperti apa yang tengah kurasakan sekarang.
"Aku mencintaimu," gumamku dengan telapak tangan yang merasai tiap debaran di dada bidangnya.
__ADS_1
"Aku juga dan sangat mencintaimu. Anna, istriku dan ibu dari anak-anakku," gumamnya sebelum mendaratkan ciuman yang terasa begitu lembut di bibirku.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR, JEMPOL, KOMENTAR JUGA BOLEH YAA🥰