
"Siapa kamu?" tanya Senja ketakutan.
"Kamu tak perlu tahu, yang perlu kamu tahu kamu akan segera mati!" Orang itu mengitarinya dengan sebilah pisau tajam di tangannya.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta Senja.
"Apa! melepaskan mangsa yang telah tertangkap, haaaa." Orang itu langsung tertawa besar mendengar permintaan Senja.
"Apa salahku, apa urusanku denganmu!" Bentak Senja memberanikan diri.
Orang itu seketika menghentikan langkahnya, berbalik badan lalu berjongkok di depan Senja.
Tanpa berkata apapun, orang itu mendekatkan pisaunya ke dagu Senja. Tepat di bawah dagunya, membuat Senja terpaksa mendongak. Sepertinya Ia salah ucap.
"Kamu penghalang bagiku, benalu yang merusak rencanaku."
Keringat dingin mulai membasahi wajah Senja, pisau itu terasa dingin menyentuh kulitnya.
"A-apa maksudmu?" tanya Senja tergagap.
Orang itu menjauhkan pisaunya, lalu menggosok di sebuah batu.
"Karena kamu menikah dengan Bryan!" bentaknya, membuat Senja terperanjat kaget.
"Kamu sama saja memperlambat rencanaku menguasai harta keluarga Hendra." Sambungannya, kata-katanya sangat tegas. Tak ada rasa takut sama sekali membuat Senja menelan salivanya.
"Bu-bukankah Bryan sudah mengusirku?"
"Bukan itu inti permasalahannya, kamu telah mengagalkan aku menculik Steven!" bentaknya lagi, dengan suara amarah tyang menguasai.
__ADS_1
"Menculik?" Senja kebingungan.
"Ya, tapi aku tak sengaja menabraknya gara-gara tak sengaja melihatmu di seberang jalan, kamu menghancurkan rencanaku!" Orang itu kembali berteriak marah.
"Jadi kamu yang telah menerorku selam ini, jadi bukan Merry?"
"Bodoh sekali kamu! Merry lah yang justru mau menyelamatkan kamu."
"Apa!!" Pekik Senja.
Senja langsung lemas, perkiraannya selama ini salah.
"Apa kau mau tahu siapa aku?" tanya orang yang menutupi wajahnya.
"Ya," jawab Senja.
Senja menatap dengan seksama orang yang mengenakan penutup wajah itu, perlahan melepas topeng.
Senja kaget, se kaget-kagetnya.
"MAWAR!!"
"Ya, akulah orang yang menerormu selama ini. Karena aku benci sama kamu! kamu dengan mudah membuat mantan mertuaku suka padamu! kamu juga yang telah menggagalkan rencanaku. Dan ini saatnya aku mengakhiri hidupmu!"
Senja masih tak bisa menutupi kekagetannya, Ia sangat syok dan tak pernah menyangka ini akan terjadi. Bahwa Mawar akan senekat ini.
"Aku punya sesuatu yang harus kamu lihat," Mawar bersiul, lalu seseorang datang mendorong kursi roda.
"Melati!!" Pekik Senja, setelah tahu orang itu adalah Melati sahabatnya.
__ADS_1
"Kaget ya?" tanya Mawar.
Senja sudah tidak bisa berkata-kata.
"Buka penutupnya Melati." Perintah Mawar.
Melati dengan ekspresi bak Psikopat membuka kain yang menutupi sesorang yang terduduk di kursi roda.
"STEVEN!!" Senja begitu kaget saat tahu Steven juga di culik.
Steven tengah pingsan terduduk di kursi roda, sepertinya Ia masih belum sembuh.
"Ya dia anakku, bukan anakmu!" Mawar mendekati Steven. "Gara-gara kamu, aku harus menabraknya! harusnya aku cukup menculiknya saja."
"Maaf Senja, aku harus melakukan ini. Karena kamu telah merusak rumah tangga kakakku!" tukas Melati.
"Ini tak seperti yang kau kira Melati!" Senja membela diri, "Kamu salah paham."
"Cukup!!" bentak Mawar.
"Dengarkan aku Melati,"
"Diam kamu!! bentak Mawar lebih keras, " Bunuh dia!" perintah Mawar pada Melati.
Melati segera mengambil pisau dari tangan kakaknya, segera menuju ke arah Senja yang kini sudah sangat ketakutan.
"Ibu!!" teriak Steven tiba-tiba, Mawar langsung menutup mukanya.
***
__ADS_1