Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 86


__ADS_3

Pesan yang kukirim sedari pagi masih belum mendapatkan balasan, hal itu mengakibatkan diriku dilanda gundah seharian.


Sudah lebih dari satu minggu Mas Pras bertugas ke Samarinda. Seminggu pula kami hanya dapat mengandalkan komunikasi melalui ponsel. Sudah tak lagi seperti dulu yang mana tak ada alasan lagi untukku menghindarinya. Karena rasa yang kumiliki padanya sudah begitu jelas.


Perasaan tak ingin terabaikan, semakin membuktikan bahwa aku sangat membutuhkan perhatiannya.


Aku menghela panjang napasku, tadinya aku berniat untuk merebahkan tubuhku sejenak di kasur. Namun yang ada malah aku kepikiran dengan Mas Pras.


Aku pun kini beranjak mencari kesibukan lain yakni mengisi buku harianku. Tapi sebelumnya aku membuka lembaran-lembaran yang lalu, kemudian membacanya satu persatu.


Saat kulihat tanggal yang tertera di atasnya, nyatanya belum terlalu lama, yakni saat usia kandunganku baru menginjak empat bulan. Penuh kesedihan isinya, juga tak jarang tiap lembarannya terdapat bekas tetesan air mata.


Jariku kini mulai merabanya kemudian beralih mengusapnya. Lalu sorot mataku pun bergerak menatap pada perut buncitku yang kemudian mulai kuelus secara perlahan.


"Kehadiranmu membawa takdir untuk Papa dan Mama bersatu. Terimakasih sayang, Mama mencintaimu," ucapku dengan suara bergetar dan mata berkaca.


"Rasanya— Mama sudah gak sabar menunggu kehadiran kamu," kataku seraya tersenyum.


Namun tiba-tiba saja tubuhku menegang, dan kembali tenang saat kulihat tangan yang melingkupi perutku di jemarinya terdapat cincin yang sama persis seperti milikku. Mas Pras, kapan dia tiba? batinku.


"Maaf, karena event pembukaan cabang baru di Samarinda ada sedikit kendala, jadi Mas pulang terlambat," jelasnya.

__ADS_1


Rasanya aku ingin memprotesnya. Tapi buat apa, toh sekarang orangnya sudah sampai di rumah dengan selamat. Aku pun memilih tetap menutup mulutku sambil memejamkan mata. Menikmati rengkuhannya. Tangannya begitu posesif melingkar di perutku dan kali ini kurasakan Mas Pras meletakkan dagunya di atas pundakku. Lalu bertanya dengan nada berbisik, "Kamu marah padaku?"


Tanpa berkata apa-apa aku menanggapinya dengan tersenyum. Dan rasanya aku semakin nyaman dengan posisi seperti ini, berdiri bersandar pada tubuh kokohnya. Namun tak lama tangan Mas Pras bergerak meraih daguku yang sontak membuatku serta merta membuka mata.


Dia pun mendongakkan wajahku agar berpaling menatap ke arahnya, yang jujur saja atas perlakuannya membuatku menjadi sedikit gugup tapi aku berusaha untuk bersikap biasa. Membalas tatapannya.


"Mas harap kamu gak marah," ucapnya berbisik sebelum melabuhkan ciumannya pada bibirku.


Aku yang tak diberi kesempatan untuk menjawab ucapannya lantas berupaya membalasnya dengan gerak bibirku. Ciuman yang terasa berbeda, seolah mengalirkan rasa rindu dari dua sejoli yang sudah sekian lama terpisah.


Dan tanpa sadar buku harian dalam genggamanku kini terlepas, terjatuh hingga menimbulkan suara. Sontak membuat aktivitas kami terhenti begitu saja.


"Itu milikku!" protesku setengah cemberut, namun Mas Pras justru tersenyum miring lalu menuntunku untuk duduk di sofa dengan aku yang duduk di atas pangkuannya.


"Membaca milik orang lain tanpa mendapatkan ijin dari pemiliknya, itu namanya pelanggaran!" kataku kesal bercampur malu, tapi Mas Pras tetap tak mempedulikannya.


Aku sudah berusaha memalingkan wajahku kala Mas Pras membuka lembaran buku harianku. Jujur saja aku malu karena disitu tertulis semua perasaanku.


Hingga aku mulai penasaran kala Mas Pras menampakkan keseriusannya. Dan ketika itu pula aku menolehkan wajahku menatap tulisanku. Disana tertulis;


Hari pun kian berlalu, hubungan kami tak bisa lagi dikatakan baik. Setelah kejadian malam itu, kami sudah tidak lagi tidur seranjang. Namun kerap kali Mas Pras masuk kamar hanya untuk menengok Aqila, ya hanya menengoknya.

__ADS_1


Tidak denganku, apalagi anak yang tengah kukandung dan yang jelas darah dagingnya.


Tiap malam bila aku melihat Mas Pras mengecup kening Aqila, hatiku serasa mendesir. Aku iri dengan perlakuannya, tapi aku bisa apa?


Tiap malam saat dirinya beranjak pergi meninggalkan kamar, hatiku seolah menjeritkan namanya sebab aku ingin dia tetap tinggal.


Tinggal disini, denganku bersama kami, anak yang tengah kukandung. Aku ingin dia mengelusi perutku, menenangkan bayiku. Seperti saat ini bayiku yang tengah menendangi perutku seakan memberi protes bahwa dia tak ingin jika aku menangisi nasibnya.


Lelah aku menangis dan yang hanya bisa kulakukan adalah memejamkan mata. Tidur adalah solusi terbaik. Seperti biasa yang kulakukan yakni dengan posisi meringkuk memeluk perutku yang sudah kian membesar. Berharap hari dan masa-masa seperti ini cepat berlalu.


"Mama yakin, Papamu akan menyayangimu bila kamu sudah terlahir ke dunia. Sayang seperti yang pernah Papa berikan dulu pada Mama. Juga sayang seperti yang Papa berikan pada Kak Aqila. Nak, sehat-sehat di dalam sana. Mama mencintaimu..." bisikku pada janin dalam perutku.


"Mas minta maaf," ucapnya usai mengangkat wajahnya memperlihatkan mata yang nampak berkaca. "Mas terlalu menuruti ego hingga membuatmu dan anak kita terabaikan. Tapi percayalah, Mas melakukan semua itu adalah untuk menurutimu. Mas berusaha untuk membebaskanmu. Mas menjauh agar pada nantinya Mas gak kesulitan buat melepasmu."


Aku menggeleng kuat. "Iya itu dulu. Tapi sekarang Anna gak mau. Anna gak mau kita semua pisah," kataku terisak dan mendekap erat tubuhnya. Menyurukkan kepalaku semakin dalam pada ceruk lehernya.


Hingga kudengar Mas Pras berbisik tepat ditelingaku. "Mas mencintaimu sejak awal kita bertemu, dan Mas harap kamu juga mau mendampingi Mas hingga sampai akhirnya waktu."


To be Continue


Jangan lupa Jempol, komentar juga di Vote

__ADS_1


__ADS_2