
"Sebenarnya, aku memiliki sebuah masalah, tetapi orang-orang tidak memahami aku!" ucap Rasta yang terdengar sangat memilukan.
"Hm, Kau ceritakan saja sebelum aku tidur. Aku malas lama-lama mendengar omong kosong!"
"Lah kenapa kau sangat jahat?"
"Cepat!"
Rasta lalu menceritakan tentang kehidupannya yang cukup rumit, dia memiliki seorang ibu dengan pernikahan yang rumit, lalu memiliki teman-teman yang rumit, terlihat sangat rumit dan selalu rumit.
Rasta hanya mengatakan itu dan membuat rindu sedikit mengumpat.
"Heh pria tidak ada kerjaan? bagaimana bisa menceritakan kisah hidupmu serta keluargamu ketika dirimu saja rapuh! kau itu harus kuat dan jangan pernah menjalani dengan keadaan! kau harus melawan segalanya karena hanya diri sendiri yang mampu melakukannya!"
Rasta cukup terkesan dengan apa yang dikatakan oleh Rindu.
Rindu merasa bahwa Rasta tak seburuk yang dia kira.
Keduanya terlibat percakapan yang cukup menyenangkan.
Hingga tak terasa waktu pukul 00.00.
"Haha, apakah tahu seekor hamster itu sangat lucu?" ucap Rindu.
"Aku tidak suka, mereka itu seperti tikus! sangat menggelikan!"
Rasta hanya bisa mengatakan semua itu karena dia memang phobia dengan hamster.
"Haha, aku akan mengirim semua hamster ke rumahmu!" jawab seorang Rindu.
Dia sangat senang menggoda Rasta.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau sangat baik ternyata, awalnya aku merasa kau begitu kaku dan sama sekali tidak bisa diganggu. Namun, pada kenyataannya kau sangat humoris dan begitu baik."
Rasta mengatakan itu semua sesuai dengan apa yang dialami, seharusnya dia don't judge by cover.
Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berteman.
Beberapa menit kemudian, panggilan telepon itu, berakhir.
Kini dia merasa mengantuk.
Obatnya adalah tidur.
.
.
.
Pagi harinya ...
Seperti sekarang ini yang terjadi, sang Mama sudah menggedor pintu kamarnya tetapi tidak juga ada jawaban.
Padahal sang Mama ingin mengajaknya pergi ke rumah nenek.
Rumah yang sangat dirindukan oleh Rasta.
"Ras! Rasta! bangunlah nak, Ibu ingin sekali mengajakmu ke rumah nenek! kebetulan Mama ada waktu, kau ikut tidak Rasta!"
Sang Mama sampai 30 kali menggedor, tapi tak ada jawaban dari sang putra.
Mama Rasta bernama Amelia, begitu kesal dan membiarkan putra kesayangannya untuk tetap tidur.
__ADS_1
Dia, Papa Willy dan sang adik, Restu on the way menuju rumah nenek menggunakan mobil miliknya.
Hingga ketika jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, baru sang pria bangun.
"Hoam! sepertinya aku mendengar ada suara orang menggedor pintu. Ah, apakah aku berhalusinasi saja?"
Rasta dari ranjang, dengan langkah gontai, dia menuju pintu kemudian membuka kunci pintu kamarnya.
Dia masih belum menyadari jika anggota keluarganya sudah pergi dari rumah.
"Tumben, Mama tidak memberikan shock terapi dengan menggedor pintu?" ucap sang putra merasa heran.
Dia masih percaya diri lalu tak sengaja menemukan sebuah kertas di atas tudung saji.
Mama, Papa dan Restu, kita pergi ke rumah nenek di desa. Aku sudah menggedor pintu kamarmu dan membangunkan kau. Namun, nyatanya tidak ada respon darimu. Ini makanlah, ada ayam, sayur dan nasi satu piring. Ini sisa kami sarapan, ada uang lima ratus ribu untuk jaga-jaga.
Setelah membaca pesan itu, Rasta membuang kertas itu ke dalam sampah, dia sepertinya sangat kesal.
"Hah! aku kira Mama sangat baik, video tidak sabar untuk membangunkan aku! huft aku mau ke mana lagi? harusnya hari sabtu jalan-jalan."
Sang pria tiba-tiba teringat akan kata-kata yang disampaikan oleh Erin.
Dia harus mengajak Rindu jalan-jalan selama dua hari.
"Yes, aku tidak jadi gabut. Aku akan mengajak Rindu jalan-jalan! ye ye ye!"
Rasta terlalu bahagia karena dirinya tidak jadi kesepian.
Baru kini, dia merasa bahwa keputusan Erin sangatlah tepat dan tidak membuatnya terganggu.
Kalau biasanya Erin agar semangat merepotkan dengan permintaan yang aneh-aneh.
__ADS_1
Dia bahkan harus tidur di kolong jembatan untuk mendapatkan satu hal yang diminta oleh Erin, ini karena dia selalu kalah taruhan dengan Erin.
*****