
Tanpa disangka Senja merangkul Rey dan akhirnya dia tertembak dan jatuh ke pelukan Rey.
Rio langsung menangkap Mawar dari arah belakang, membuat wanita setengah gila itu meronta-ronta.
Rey masih mematung, tangannya reflek memeluk Senja, air matanya menyesal begitu deras.
"SENJA!!"
Seketika Sifa ikut pingsan, disusul Merry yang merasa perjuangannya sia-sia menyelamatkan Senja.
Darah mulai mengucur dari pundak kiri Senja yang tertembak, Bryan terpaku melihat istrinya yang telah Ia talak beberapa waktu yang lalu.
Bryan mendekat, tapi Rey dengan marah menepis dan mengusirnya jauh-jauh. Membuat Bryan minggir, wajahnya penuh penyesalan.
Bryan segera menggendong Steven, matanya terus menatap Senja yang sekarang di bopong Rey keluar ruangan.
Raut wajahnya sangat memprihatinkan, Ia benar-benar menyesali tindakan bodoh yang telah dilakukannya pada wanita pendamping terbaik untuknya, itu adalah Senja.
Getaran cinta dan rasa yang tiba-tiba rindu kepada Senja terasa aneh, mengapa sebelumnya Ia sangat membencinya dan sekarang Ia begitu mencintainya?
Mawar meronta-ronta tak terima saat tangannya di borgol polisi, Ia memaki-maki ke arah Om Hendra yang sudah mengambil kopernya kembali.
"Awas kau, awas!!" ancamannya.
Om Hendra tak menggubris dan berjalan di belakang Steven cucunya yang selamat di gendong Bryan.
Para polisi yang lain tak kalah sibuknya, harus menggendong bergantian tiga gadis yang pingsan secara beruntun.
__ADS_1
Rio sudah pergi mengejar Rey yang menggendong Senja, jelas sama takut dan sedihnya dengan Rey. Tapi Rio menahan diri.
Rio berjalan di belakang Rey yang menggendong Senja degan bangkai babi yang bertebaran, Ia siap bergantian menggendong Senja jika Rey lelah.
Mereka mulai memasuki pepohonan sebelumnya yang pernah mereka lewati, Rio melihat Rey kesusahan dan terlihat lelah.
"Biar aku saja Rey," ujar Rio tak bisa menahan diri.
Rey tak menggubris dan tertatih-tatih berjalan membopong Senja, sekali-sekali Ia berhenti beberapa detik kemudian kembali berjalan.
Dari sini Rio sadar bahwa memang Rey lah cinta pertama Senja, dan sepertinya Rey sangat mencintai Senja walau di luar itu dia membencinya.
Rio tahu betul sebab Rey membenci Senja, Rio juga tahu bahwa yang membuat Ey sekecewa itu karena Senja menikah dengan Kakaknya Bryan, walau itu dilakukan Senja dengan terpaksa dan Rey tak tahu tentang alasan Senja, apapun itu!
Rio mulai sadar untuk melupakan perasaannya pada Senja, Rey yang pantas untuk pujaan hatinya itu.
Jauh di belakang mereka ada Mawar dan Melati yang di arak ke depan, yang lain di belakang mengiringi.
Naila, Sifa dan Merry masih pingsan, polisi ganti-gantian membopong mereka, karena tak membawa tandu dan tak pernah memprediksi ada tiga wanita yang harus pingsan.
Rio menatap sebentar ke belakang, memastikan semua berjalan aman dan tentunya tak ada babi lagi yang menghalangi mereka.
Rio sendiri malah curiga ketiga gadis yang pingsan berpura-pura setelah mereka tersadar, agar bisa digebdong pak polisi atau malas berjalan.
Sebentar lagi mereka sampai di tepi jalan dimana mobil mereka terparkir, walau banyak tumbuhan liat di sana sini yang menutup sebagian jalan.
Beberapa meter lagi mereka akan sampai, sebelum suara samar-samar orang saling berbicara mulai terdengar riuh rendah, Rio memasang pendengarannya tajam-tajam sebelum akhirnya Ia sadar bahwa sebelumnya Merry telah menayangkan kejadian itu secara LIVE dan sudah tentu itu para wartawan stasiun televisi yang memburu berita paling heboh sejagad.
__ADS_1
Suara-suara iru semakin terdengar jelas ketika tinggal tiga meter mereka menembus jalan, dan....
*Cekrak
Cekrek*.
Rio langsung menutup matanya karena silau, dengan lengannya yang kekar.
Lensa kamera begitu banyak membidik ke arah mereka, Rio melirik sebentar Rey yang tampak marah dan mengusir para wartawan yang tak henti-hentinya memotret Senja.
"Dia kenapa?"
"Apa yang terjadi pada-Nya?"
"Apakah dia masih hidup?"
"Sepertinya dia tertembak!" Seru seseorang kaget melihat Senja berdarah-darah.
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar jelas di telinga Rio yang ikut risih, Rey juga kesulitan menjangkau mobil mereka.
"Minggir!!" teriak Rey sangat keras sekali, Rio sampai berjingkat.
Semua orang langsung minggir ketakutan, seketika suara berisik menjadi hening.
Rio buru-buru membukakan pintu belakang, kemudian Rey segera memasukkan Senja yang tak berdaya dan Rey masuk menutup pintu keras-keras.
Saat Rio akan masuk, seseorang memeluk dia dari belakang.
__ADS_1
"Aku kawatir Yo."