
Di rumah Erin ...
"Awas saja kalau dia sampai tidak datang! aku pastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal!" gerutu Erin.
Dia tidak suka dengan orang yang telat, padahal Rasta sudah mengatakan ingin datang pukul 10.00 pagi.
Akan tapi sudah pukul 10.30 belum datang juga.
"Rasta! apakah kau melupakan janjimu! cepat datang jika tidak kau akan mendapatkan 5 kali hukuman, ini adalah pesan yang aku kirim untuk terakhir kalinya. Jika dalam waktu 10 menit kau tidak datang ke rumahku? persahabatan kita menjadi taruhan!"
Erin terlalu berlebihan tetapi dia memberikan peringatan, dia tidak suka Rasta memberikan kesan yang buruk kepada Rindu.
Padahal dia sudah usahakan segalanya agar Rasta bisa bersama Rindu.
Rindu yang duduk di ruang tamu bersama Erin, dengan santai bermain tetris.
Sang gadis sampai sekarang tidak memiliki kekasih karena trauma akan hal itu, dia pernah punya gebetan dan selalu telat ketika ingin janjian.
"Halah, para pria itu tidak bisa dipercaya! makanya aku lebih baik jadi jomblo saja!"
Rindu masih bersemangat dengan ponsel modern dengan permainan jadul.
__ADS_1
Hingga beberapa kemarin setelah Erin mengumpat, terdengar suara klakson mobil.
"Itu dia! habislah kau Rasta!"
Rindu sangat antusias untuk melihat seorang Erin mengamuk.
Dia mengekor langkah Erin yang berjalan menuju suara klakson itu.
Depan rumah ...
Rindu melihat ada pertunjukan emak sedang marah-marah dengan anaknya yang nakal.
Erin menjewer telinga sang sahabat, dia benar-benar melakukannya karena sang sahabat sudah sangat keterlaluan.
"Aduh Rin, maaf! aduh! tadi aku mau cari kunci mobil, tapi tidak ada, yang ada hanya milik ayah. Aku kira mobil ayah kotor karena baru saja digunakan pergi ke proyek tapi ternyata sudah bersih dan kinclong, nah maka dari itu aku sangat menyesal jika terlambat!"
Rasta masih menahan rasa sakit di telinganya karena jeweran seorang emak-emak, padahal dia masih gadis.
Erin sangat berbakat menjadi emak yang galak.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan pada intinya kau harus mengantarkan jalan-jalan satu hari penuh! lalu kau harus mentraktir kami banyak makanan, jangan lupa belanja juga!"
__ADS_1
"Tekor Rin!"
"Aku tidak peduli! cepat masuk! aku akan mengambil beberapa perlengkapan dan membawa Rindu kemari."
Sang gadis melepaskan jeweran di telinga Rasta, lalu segera masuk ke dalam rumah karena ingin membawa beberapa perlengkapan.
Dia tidak menyangka jika ada Rindu di sana.
Erin meminta Rindu untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Rindu awalnya malas karena melihat tingkah seorang Rasta rasanya orang itu tidak benar.
"Kau memanggilnya dengan nama Rasta? namanya seperti nama yang tadi malam menelponku, Bagas dan Rasta adalah orang yang sama?"
Erin mulai puyeng, dia tidak tahu tentang rencana dari Rasta, dia tidak ingin mengatakan apapun.
Dia memilih untuk diam saja.
"Aku harus diam, Rasta pasti memiliki rencana untuk membahagiakan Rindu. Masalahnya Rindu sudah ilfil dengan Bagas yang menyebalkan ini," batin sang gadis.
*****
__ADS_1