
Mas Pras menggandengku kembali masuk ke ruang tamu. Sementara Kak Andri menyorotiku dengan pandangan menyelidik tapi aku bersikap biasa dan memilih bungkam sebab itu atas usul Mas Pras. Dia yang akan bersuara menjelaskan kepada kakakku tentang penolakanku barusan.
Disela-sela pembicaraan antara Mas Pras dan Kak Andri kini ponselku yang berada di dalam tas berdering. Tak mungkin aku menghiraukan panggilan, aku pun berpamitan untuk menyingkir sebentar.
Dering ponsel itu terhenti saat aku sudah berada di dapur. Segera aku mengeceknya siapa yang menelponku, namun tak lama layar ponselku kembali menyala. Nomor dan nama seseorang tertera disana.
Susah payah aku menelan ludah. Kak Adrian, batinku.
Napasku mendadak tercekat. Tak mungkin aku bertanya mengapa dia menelpon karena sudah jelas, sekian lama aku mengabaikannya dan sibuk dengan urusan rumah tanggaku.
Ponselku terus-terusan berdering, tak mau menjadi sumber pusat perhatian dan di datangi orang lain akhirnya aku mengangkat telponnya.
"Halo... " kataku terbata.
Di seberang sana terdengar helaan napasnya. "Kenapa susah sekali dihubungi? Kamu sibuk? Ohya sesuai dengan perhitunganku kamu pasti telah melahirkan. Dan kamu tahu, aku telah mempersiapkan tempat tinggal yang layak untuk kita nanti tinggal bersama. Kemarin lusa aku baru tiba di Jakarta. Aku sudah siap menjemputmu."
__ADS_1
Terdengar Kak Adrian menyampaikan ucapannya secara lugas, terdengar nada penuh pengharapan disana. Air mataku menetes, aku sudah pasti telah menyakitinya.
"Kak— kita tak akan pernah bisa bersama," ucapku tercekat.
"Apa maksudmu? Kamu berubah pikiran?" ucapannya kali ini terdengar meninggi. "Anna, gak semudah itu. Aku butuh penjelasan. Kita harus bertemu," sambungnya kemudian menutup sambungan telpon.
Tak lama ponselku muncul notifikasi pesan dari Kak Adrian.
Adrian
Aku masih dalam acara meeting. Besok siang aku tunggu di tempat biasa.
Hingga kudengar langkah kaki mendekat, aku menyadari ada keberadaan orang lain di sekitarku dan segera aku kembali berusaha bersikap biasa.
"Ibuk tadi suruh saya panggil Non, katanya tamunya mau balik," ucap Wati seorang asisten rumah tangga yang bekerja disini.
__ADS_1
Aku pun mengangguk dan tersenyum canggung. "Cepet banget mereka mau balik Bik," ucapku berbasa-basi menyembunyikan rasa tegangku.
"Sepertinya Mbak Vita ada keperluan, kalau Bibik gak salah dengar tadi."
"Kalau begitu Anna langsung ke sana saja," ucapku yang kemudian menuju ke ruang tamu bergabung bersama keluargaku dengan Vita yang benar berpamitan akan pulang diantar oleh Kakakku.
***
Sepulangnya dari rumah orangtuaku, aku lebih banyak diam. Dan seperti kali ini saat menemani Aqila di meja belajarnya aku lebih banyak melamun. Menanggapi pertanyaannya dengan hanya bergumam maupun mengangguk hingga tanpa sadar tugas yang di kerjakan oleh Aqila selesai.
Dia tak memprotes sampai selesai mengemasi alat tulis dan buku-bukunya kemudian meletakkannya ke dalam tas paud-nya.
"Gosok gigi ya, habis itu tidur," ucapku yang mengelus kepalanya lalu bersama-sama beranjak menuju kamar mandi setelahnya mengantarkannya ke tempat tidur. Menunggunya sesaat sampai dia terlelap dibalik selimut. Dan sebelum aku meninggalkan kamar kukecup keningnya seperti biasa.
Aku pun beralih masuk ke kamar, Mas Pras tak ada dan terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, kuyakini dia disana. Sedangkan Razka sudah terlelap beberapa jam lalu di dalam boksnya.
__ADS_1
Aku menghela napasku panjang kemudian naik ke atas ranjang, menata bantal lalu merebahkan diriku mencari posisi nyaman. Mataku melirik ke atas nakas yang terdapat ponselku disana, dari semenjak pulang aku sama sekali tak menyentuhnya dan memilih membisukan notifikasi.
TO BE CONTINUE