Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 71


__ADS_3

Mobil pun kembali melaju melewati jalanan yang lumayan padat, ditambah dengan mobil yang bergerak lambat membuatku duduk gelisah sebab waktu hampir mendekati pukul tiga sore. Aku mendengus dan hal itu terdengar oleh Mas Pras.


"Kamu pasti sudah sangat lapar?" ucapnya melirikku sekilas.


Aku menghembuskan napasku kemudian mengangguk menanggapinya. Sebenarnya bukan aku melainkan Mas yang sudah pasti lapar, batinku. Dan saat aku mengalihkan pandanganku ke sisi jalan aku pun mulai bersuara dengan menunjuk ke arah warung-warung tenda tepatnya di pinggir jalan. "Mas kita makan disitu saja."


"Kamu yakin?" sahutnya dan kuangguki antusias.


Mas Pras kini mulai membelokan setir dan memberhentikan mobil tepat di sisi jalan untuk di parkirkan.


"Mau makan apa?" tanyanya saat sambil melepas sabuk pengaman.


Aku sendiri juga bingung untuk memilih menu apa, sebab aku sendiri belum pernah jajan di tempat yang seperti ini, jadi kali ini mataku sibuk menyoroti dan mencari warung mana saja yang menjual makanan terenak.


"Bingung?" celetuk Mas Pras.


Tanpa menjawab ucapannya itu aku kini mengeja tulisan di salah satu warung. "Ka-re-dok. Apa itu karedok?" tanyaku penasaran karena nama makanan itu asing menurutku.


"Kudapan berisi sayur mentah, dengan diberi irisan tahu disertai bumbu kacang," jelas Mas Pras. "Kamu ingin makan itu?"


"Sepertinya enak," sahutku menoleh padanya.


"Kamu tunggu disini, Mas beli kan."


Namun kulihat kini Mas Pras tampak mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil, dia menoleh padaku dengan berkata, "Sepertinya kamu gak boleh makan makanan itu."


"Kenapa?" sahutku dengan kening berkerut.


"Ibu hamil tidak dianjurkan untuk makan makanan sayur yang tak dimasak lebih dulu. Karena kemungkinan besar masih banyak bakteri hidup di dalamnya, makan menu yang lain saja ya?" ucapnya dengan memberi penawaran lain, sedangkan aku memilih untuk mengangguki ucapnya.


"Ya sudah kalau gitu Mas beli yang lain buat kamu."


"Kita gak turun sama-sama saja?" tanyaku mencegahnya yang kini hendak turun dari mobil.


Mas Pras menoleh padaku dan berucap, "Kamu disini saja, nanti kita makan di dalam mobil. Warung terlihat cukup penuh. Lagian Aqila juga masih pulas."


Akupun mengangguk dengan Mas Pras yang melanjutkan langkahnya keluar dari mobil menuju warung tenda untuk memesan makanan.


Beberapa menit berlalu Mas Pras kembali dengan membawa bungkusan makanan dan menyodorkannya padaku. Dia membantuku yang sedikit kerepotan sebab makan di dalam mobil yang sempit begini di tambah di pinggir jalan.


"Mas sendiri gak makan?" tanyaku sebab dirinya tak kunjung memasukkan makanan ke dalam mulutnya, malah sibuk mengurusiku.

__ADS_1


"Mas lihat kamu makan lahap jadi kenyang," sahutnya menatapku dengan senyum tipis di bibirnya.


"Mana ada lihatin orang makan jadi kenyang?" sahutku yang kembali mengunyah makanan.


"Gimana enak?"


Aku menghentikan kunyahanku lalu menatapnya. "Enak apanya?"


"Itu?" tunjuknya pada makanan yang berada ditanganku yang tanpa sadar beberapa suap lagi habis.


Aku meringis menanggapi, perasaan tadi aku gak begitu lapar tapi kenapa bisa lahap seperti ini, batinku. Dan kulihat kini Mas Pras juga mulai menikmati makanannya, sama halnya denganku dia juga begitu lahap menikmati suap demi suap makanan hingga tak bersisa.


"Mas, apa aku boleh minta sesuatu lagi?" gumamku saat Mas Pras meneguk air mineralnya.


"Apa?" sahutnya.


"Aku kepingin rujak yang disitu." Tunjukku pada gerobak bertuliskan rujak buah. "Tapi aku mau yang kesana beli sendiri," sambungku.


"Jalanan ramai biar Mas saja."


"Tapi kalau Mas yang beli aku gak bisa pilih buahnya," sahutku kecewa.


"Ya sudah kamu sebutin mau buah apa saja, nanti biar Mas sampaikan pada penjualnya," kata Mas Pras mencoba membujukku.


Mas Pras berdecak. "Kamu bisa sakit perut!" ucapnya tegas.


"Tapi aku pengen," sahutku cepat.


"Mas gak bolehin."


"Ini bukan aku yang minta tapi—" ucapanku mengantung. Dan segera kualihkan wajahku tak mau menatapnya, karena aku merasa kesal permintaan yang hanya sepele tak bisa dia penuhi.


Mataku memanas dan aku berusaha kali ini untuk tak menangisi hal sepele ini, lalu kini kudengar dirinya berucap, "Mas belikan tapi nanti dimakan."


Aku terdiam dan kudengar pintu mobil tertutup, ketika aku menoleh Mas Pras sudah tak lagi di sampingku. Melainkan dia sudah berjalan menuju gerobak penjual membeli apa yang menjadi pesananku.


Dalam diamku aku termenung menatapnya yang telah berdiri mengantri di kerumunan para pembeli. Senyum tipis pun mulai tersinggung di bibirku dengan bersamaan bergerak samar tendangan di perutku.


Mataku pun mengerjap lalu menyoroti perut buncitku dan dengan gerakan lembut aku mengelusinya. "Iya, Papa sayang sama kamu Nak," gumamku dengan pandangan mata yang mengabur.


Saat kulihat Mas Pras mulai mendekat dengan segera aku menghapus jejak air mataku.

__ADS_1


"Ini pesananmu," ucapnya dengan menyodorkan satu bungkusan rujak buah sesuai permintaanku.


"Cabenya sepuluh?" selorohku namun tak ditanggapinya hingga membuat mataku mendelik menatapnya.


"Kamu cobain dulu, itu sudah pedas," sahutnya menanggapi.


"Memang Mas sudah nyoba kalau ini sudah pedas?" tanyaku yang tak yakin.


Mas Pras berdecak. "Sini Mas cobain," ucapnya lalu mengambil potongan buah dan mulai mencocolnya dengan sambal gula jawa. "Enak," ucapnya berkomentar disertai mengunyah.


"Ohya," sahutku menanggapi tapi tak juga kunjung ikut mencicipi. Sebab aku kali ini lebih memilih menikmati melihat Mas Pras yang tadinya bilang mau mencicipi tapi tanpa sadar dirinya yang malah memakannya sampai habis.


"Kamu gak makan?" ucapnya yang telah sadar dengan apa yang telah dia lakukan.


Aku menggeleng.


"Kita beli lagi ya?" ucapnya sebab dalam bungkusan sudah tak lagi bersisa.


"Buat?"


"Buat kamu makan, kan ini aku yang habiskan," sahutnya merasa tak enak.


Aku terkekeh. "Aku sudah terlanjur kenyang Mas."


"Yakin? Kalau gitu beli satu lagi buat dibawa pulang," ucapnya yang tanpa aku menjawab dirinya sudah turun dari mobil.


Aku tersenyum dengan geleng kepala disertai mengelusi perutku yang kembali terasa ditendang.


"Kamu seneng banget sih sayang hari ini?" gumamku pada bayi dalam kandunganku.


Senyumku kini merekah, aku lalu beralih menoleh ke belakang pada Aqila yang sudah lebih dari dua jam tertidur. Memandanginya aku jadi teringat saat hamil dia dulu. Tak seperti yang sekarang, beda sekali rasanya.


Kehamilan kali ini aku lebih emosional, mudah sedih lalu menangis. Aku jadi penasaran, bayi yang kukandung berjenis kelamin apa. Karena tiba waktu pemeriksaan posisi tak pernah mendukung. Mulai dari bayiku yang sedang tengkurap, kalau tidak begitu alat kelamin tertutupi oleh kakinya, menjadikan dokter Dewi kesulitan untuk memprediksi.


Besok lusa adalah jadwal pemeriksaan, rasanya aku sudah tak sabar menantikannya. Melihat anakku untuk di USG.


Samar kini terdengar bunyi notifikasi pada ponselku, aku pun mulai meraih tas tangan yang berada di bawah jok mobil berniat untuk mengambil ponsel.


Setelah layar ponsel menyala senyumku serta merta surut, sebab nama Kak Adrian muncul dengan mengirimkan satu pesan yang mengatakan bawah dirinya akan pergi ke Singapura beberapa minggu.


To be Continue

__ADS_1


Yuk komentar, jempol juga jangan ketinggalan Votenya, agar aku makin semangat nulisnya


Part ini masih ada lanjutannya yaaaa jadi jangan lupa komentar dibawah, kira-kira apa yang terjadi nantinya???


__ADS_2