Ruang Rindu

Ruang Rindu
Mencari Rindu.


__ADS_3

Hujan deras menyelimuti seluruh kota ...


Entah kenapa tiba-tiba saja suasana menjadi sangat murung, dia merasa bahwa alam tak membiarkan Rindu bersedih.


"Semua tempat sudah kita kunjungi, tetapi Rindu tak ada di sana, ayah harus mencari dimana nak?" tanya sang ayah merasa bahwa sang anak gadis sangat pandai bersembunyi.


Ada satu tempat yang belum ayah dan Rasta kunjungi, yaitu rumah pohon.


"Ayah, kita ke rumah pohon, tempatnya ada di dekat kampus."


"Oke kita on the way kesana."


Sang ayah segera tancap gas menuju rumah pohon yang di maksud.


Di tengah situasi hujan, semuanya menjadi serba genting, apalagi ada kilat yang menyambar.


Namun semua itu tak membuat keduanya patah semangat dalam mencari Rindu.


.


.


.


Sesampainya di rumah pohon dekat kampus ...


Mobil sang ayah kini berada di samping rumah pohon, untung saja hujan sudah mulai reda, sehingga tak perlu memakai payung untuk naik ke atas rumah pohon itu.


"Ayah, aku naik dulu ya?"


Dia berpamitan kepada sang ayah bahwa akan naik ke atas untuk berbicara dengan Rindu.


"Oke nak, hati-hati, ayah menunggumu di bawah."


"Ya."

__ADS_1


Rasta keluar dari mobil, dia menatap rumah pohon yang cukup tinggi. Dia mendekat kepada tangga yang akan membantunya naik ke atas, dia berdoa terlebih dahulu agar semuanya berjalan dengan lancar.


Perlahan anak tangga membawa tubuhnya menuju ke atas, tempat dimana kemungkinan Rindu berada.


Kini tubuhnya sudah berada di pintu masuk rumah pohon.


"Rin?" panggil Rasta.


"Jangan dekati aku," jawab Rindu lirih.


Gadis itu sepertinya sudah paham jika Rasta datang, hingga tanpa melihat, sudah nampak di benaknya kehadiran Rasta.


"Aku tidak ingin mengganggumu, hanya saja, aku ingin mengatakan kepadamu mengenai ayah dan aku, hubungan kita sebagai satu keluarga!" ucap Rasta berhati-hati.


Rindu belum merespon, hanya saja tangisnya terdengar sangat memilukan.


"Rindu!" ucap Rasta.


Dia mendekati Rindu dengan perlahan, lalu meminta sang gadis untuk mendengarkan dirinya, hanya saja tidak ada respon yang terucap dari mulut atau gerak tubuhnya.


Rasta berinisiatif untuk mengungkapkan perasaannya.


Rasta mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya tanpa terkecuali sebab pada kenyataanya dia begitu menyayangi seorang Rindu yang sangat baik dan periang itu.


Masalah baper, memang sama dengannya. Dua orang yang baper dan saling jatuh cinta.


Sang gadis masih diam saja, Rasta tak mau menjadi seorang yang keras kepala hanya saja dia ingin mendengar Rindu berbicara.


Hingga Rasta harus diam dan menunggu di sana, sampai pagi tiba.


Pagi harinya …


Suara burung yang bertengger di ranting pohon membuat Rasta terkejut, dia membuka mata dan sudah ada selimut dan bantal, dia mencoba mengumpulkan nyawanya.


“Sepertinya Rindu menyelimutiku dan memberikan bantal ini,” ucap Rasta.

__ADS_1


Dia mengedarkan pandangan ke segala arah, lalu baru dia sadar jika Rindu tak ada di sana.


Rasta panik, dia mencoba turun dari rumah pohon itu, namun di dadanya ada sepucuk surat yang sepertinya di ditulis oleh Rindu.


Sang pria duduk bersandar dan membuka surat itu.


Perlahan Rasta mengeluarkan surat itu dari tempatnya dan membuka lipatan kertas putih itu.


“Aku rasa Rindu belum pergi lama, buktinya lipatan yang ia berikan kepada kertas ini terlihat masih baru.


Dia mulai membacanya.


“Rasta, maaf! aku memang suka dan cinta padamu, hanya saja aku belum bisa menerima jika kau adalah anak dari seorang wanita yang telah menghancurkan rumah tangga kedua orang tuaku. Aku pergi, jangan pernah mencariku lagi.”


“Apa ini? bagaimana bisa dia pergi dengan secepat ini? aku tidak terima!”


Rasta segera turun dari rumah pohon itu, tetapi saat dia berada di bawah, mobil sang ayah tidak ada.


Dia juga lupa jika ponselnya ada di dalam mobil.


“Astaga! kemana ayah dan Rindu! bagaimana bisa aku tertidur!”


Rasta mengacak rambutnya, dia segera mencari telepon umum di sekitar kampusnya.


.


.


.


Di tempat lain, ayah dan putrinya sedang bersama, sang putri meminta ayahnya tidak mengatakan apapun kepada pria yang sangat dia cintai.


“Ayah, jangan katakan apapun pada Rasta. Jika kami berjodoh, pasti dia akan mencariku dan meminta pernikahan. Namun sampai saat ini, dia tak menyusul ke rumah ini,” ujar Rindu yang kini berada di tempat Erin.


“Dia kan ada di sana tanpa kendaraan, dia bersama ayah. Ponselnya juga ada di dalam mobil, alhasil, anakku itu akan kesulitan untuk sampai di sini.”

__ADS_1


“Biarkan saja ayah, dia kan banyak dustanya.”


*****


__ADS_2