Ruang Rindu

Ruang Rindu
Kaget 2


__ADS_3

Wanita bernama Mawar itu segera menghampiri, ekspresinya sangat marah melihat Nenek uang ditolong oleh Naila dan Sifa.


"Apa belum cukup uang yang aku kirim untuk Ibu!" teriak Mawar, Naila menggenggamnya tangannya geram.


"Ibu tidak butuh uang Nak, Ibu butuh kamu, Ibu kangen sama kamu," rengek Ibunya Mawar, Naila segera mengelus pundak sang Nenek.


"Aku gak mau tau, sekarang Ibu pergi!" usir Mawar, Bryan tampak syok melihat kelakuan Mawar, tapi Ia juga tak bisa berbuat apapun.


"Aku mohon Nak, pulang, pulang ke rumah. Ayahmu sangat merindukan kamu," Nenek itu segera memeluk Mawar, tapi segera di tepis.


"Pergi!!" Mawar mendorong Ibunya hingga terjatuh, Sifa segera menolongnya kembali berdiri.


"Kamu tega banget sih Mawar, kamu tuh lebih kejam daripada iblis!" bentak Mawar geram.


"Hey wanita kampungan, jaga mulutmu!" Mawar mengancam.


"Memang benar kan, kamu gak lebih daripada seorang iblis!"


Mawar langsung mengayunkan tangannya, Naila dengan cekatan menangkap, "Kamu mau menampar diriku? gak akan pernah!"


"Pergi kamu!" usirnya.


"Dasar wanita iblis!" umpat Sifa ikut geram.


"Tutup mukutmu!" Mawar tak terima.


"Dasar anak durhaka!" hardik Naila gantian.


"Aku peringatan kalian!" Mawar menunjuk wajah Naila dengan jari telunjuknya.


"Sudah Nak, ayo pulang," rengek Ibunya yang menarik tangan anaknya itu.


"Lepas!" Mawar menghempaskan tangan Ibunya hingga terlepas.


"Ibu mohon Nak,"


"Ayo Mas kita masuk, orang-orang ini hanya butuh uang," Mawar menggandeng tangan Bryan dan melemparkan lembaran ratusan ribu yang lumayan banyak kepada mereka.


Nenek renta itu atau tepatnya Ibu Mawar kini sudah terisak, melhat anaknya yang kini sudah masuk ke dalam rumah.


"Nenek yang sabar ya, semoga Mawar cepat disadarkan," Naila menuntun Nenek itu pergi.


"Kita antar pulang ya Nek," Sifa menawari.


Nenek itu hanya mengangguk pasrah, Naila yakin perasaan Ibunya Mawar itu pastilah hancur sehancur hancurnya, Mawar memang keterlaluan, sangat keterlaluan.


***


Setelah mengantar Nenek itu pulang, saatnya mereka kembali ke tujuan utama. Ke rumah Senja, sohib mereka berdua.


"Apa menurutmu Senja depresi?" tanya Sifa setelah mereka masuk ke dalam angkot.


"Ya, tentu. Wanita mana yang sanggup melihat suaminya selingkuh!" jawab Naila geram jika mengingat wajah Mawar, kalau saja tak ada Ibunya sudah pasti dia tonjok itu muka.


"Kenapa sih Mawar tak pernah cerita, selalu memendamnya sendiri?"


Naila menghempaskan lalat yang hinggap di tangannya, "Aku juga tak tahu, yang pasti aku sangat sedih sekaligus tak menyangka Senja mengalami kejadian yang begitu buruk."


Sifa mengangguk, membenarkan.


"Kita malah tahu lewat Nenek tadi, kalau saja kita tak bertemu Ibunya Mawar. Mungkin sampai sekarang kita tak tahu Senja mengalami hal seperti ini."


"Ya, mungkin itu cara Tuhan membagi tahu ke kita."

__ADS_1


Suara rem angkot, terdengar mendecit.


"Sudah Sampai," kata Kenek yang langsung turun.


"Berapa Bang?" Naila merogoh sakunya.


"10 ribu,"


"Nih," Naila memberikan lembaran 50 ribu.


"Ambil aja kembaliannya, tapi ingat harus nolong Nenek-nenek atau penumpang yang kekurangan," ucap Naila menasehati.


"Siap Mbak!" sahut sang kenek kegirangan.


Angkot kembali melaju, Naila kemudian memandangi sebuah kontrakan sederhana di seberang jalan.


"Itu kan tempatnya, aku sedikit lupa."


"Sepertinya begitu," jawab Sifa ragu-ragu, karena memang Ia juga agak lupa karena sudah lama tidak kesana.


Tok.


Tok


Tok


Naila mengetuk pintu, "Assalamu'alaikum?"


Sifa ikut mengetuk.


Tok...


Tok.


"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam, Naila yakin itu suara Ibu Susi. Ibunya Senja.


Pintu terbuka,


"Eh, Naila, Sifa yuk masuk," ajak Ibu Susi.


Mereka berdua masuk ke dalam kontrakan yang yak beda jauh dengan kontrakan mereka, duduk di sebuah sofa tua yang warnanya sudah memudar.


"Tante gimana kabarnya?" tanya Sifa basa basi.


"Alhamdulillah sehat, kalian sendiri bagaiamana?"


"Alhamdulillah sehat tan," jawab Sifa tersenyum.


"Sudah lama kalian gak main kemari."


"Iya tan, tugas kuliah numpuk," sahut Naila jujur.


"Ih ya tan, Senja sekarang dimana?" tanya Sifa penasaran, sekaligus bertanya-tanya apakah Ibunya Senja sudah tahu tentang hubungan Senja dan Bryan yang hancur?.


"Senja sedang sakit, sekarang ada di kamar,"


"Sakit?" Naila mengulang.


"Iya, sejak 3 hari yang lalu, oh iya tante buatkan teh ya?"


"Ti-tidak usah tan, kebetulan kami tidak suka teh," jawab Sifa tersenyum kecut.


"Kita langsung mau jenguk Senja aja tan, kami rindu sekali dengan dia," Naila menambahkan.

__ADS_1


"Kalau gitu sekalian titip Senja ya, tante mau ke warung dulu."


"Iya tante," jawab Sifa.


Naila dan Sifat segera menuju kamar Senja setelah Ibu Susi pergi.


Betapa mereka terperanjat melihat kondisi Senja, lusuh, pucat dan terbaring lemah.


"SENJA!!" pekik mereka berdua.


"Astagfirullah, Senja... " batin Sifa menghampiri, matanya berkaca-kaca. Sedangkan Naila masih melotot tak percaya di ambang pintu.


"Kamu kenapa?" tanya Sifa yang kini sudah menangis memeluk Senja tak berdaya.


Senja hanya diam, matanya kosong. Ia seperti orang linglung yang tak bisa bicara.


"Senja, kenapa kamu pikul semua ini sendirian," ucap Naila yang kini ikut memeluk sohib mereka, keduanya menangis bersamaan.


Senja masih saja diam, memandang dinding dengan tatapan menerawang jauh.


Senja meronta minta dilepaskan, "Siapa kalian?" katanya ketakutan, sekarang sudah meringkuk menjauh.


Naila dan Sifa saling memandang bingung, ekspresi mereka syok.


"Bryan Breng***k!" umpat Naila geram.


"Memang laki-laki gak tau diri, apa sih kurangnya Senja, baik, cantik, ramah dan pekerja keras." Sifa mendengus kesal.


"Hanya laki-laki gila yang mau melakukan itu pada gadis selembut dan sebaik Senja, sungguh aku sangat menyesal tidak mencari tahu sebelumnya,"


"Senja, sadar! ini kami Sahabatmu, sadar Senja!" Sifa menepuk-nepuk pipi Senja, berharap sohibnya itu sadar kembali dari traumanya.


Senja masih meringkuk, matanya mulai berkaca-kaca.


"Steven... " gumam Senja lirih, "mama rindu kamu."


Detik berikutnya Senja sudah menangis, Sifa segera memeluknya.


"Ini kami Senja, Sifa dan Naila," bisik Sifa ke telinga Senja.


Senja semakin terisak, perlahan-lahan kesadarannya kembali.


"Naila," ucap Senja di balik pelukan Sifa, Naila segera ikut berpelukan.


Tangis haru pecah diantara mereka bertiga.


Perlu waktu sepuluh menit sampai mereka benar-benar puas menumpahkan seluruh air matanya.


"Terimakasih kalian sudah peduli, selama beberapa hari ini aku bingung, pusing dan terus berhalusinasi." ujar Senja setelah melepas pelukan.


"Kami selalu ada untukmu, Senja." Balas Sifa.


"Kami hanya berharap, jangan sembunyikan apapun dari kami. Kami peduli, malah kami akan merasa sangat bersalah jika hal seperti ini terjadi." tambah Naila.


"Terimakasih Sifa, Naila kalian memang sahabat terbaikku."


"Sekarang kamu mulai dari nol, lupakan yang telah lalu. pokus akan apa yang ada dihadapanmu, lupakan Bryan!" Naila menasehati.


Senja hanya mengangguk, sebenarnya pokok masalahnya lebih dari sekedar itu. Lebih rumit, terpaksa Ia tak mengatakan kepada mereka. Karena ini terlalu rumit dan Ia tak mau membuat siapapun terlibat.


"Kita pergi ke Mall yuk!" ajak Sifa penuh semangat.


"Ayuk!" sahut Naila, "itung-itung bisa merefresh otak kamu Senja, biar sedikit plong_"

__ADS_1


Senja mengangguk setuju, senyum kecil mulai merekah di wajah pucatnya.


***


__ADS_2