Ruang Rindu

Ruang Rindu
Heboh


__ADS_3

"Ibu ini hanya sedikit syok saja, beliau tidak apa-apa." kata Suster itu tersenyum lalu pergi.


Semua orang yang berada di ruangan itu menarik nafas lega, "Alhamdulillah,"


Rio dan Ais saling pandang, lalu mengangguk seakan bisa bicara lewat pikiran masing-masing.


"Biar Rio sama Ais yang jaga Ibu Senja, yang lain tunggu di ruang operasi saja."


Ais ikut tersenyum meyakinkan, kemudian di balas anggukan oleh yang lain.


"Aku merasa nggak enak, aku kan bukan siapa-siapa. Tapi aku kawatir sama kamu setelah berita tentang penculikan itu viral dan disiarkan di mana-mana." Ucap Ais memecah keheningan, saat hanya tinggal berdua yang menunggu Ibu Susi yang pingsan.


"Terimakasih, aku senang kau menghawatirkanku." Jawab Rio sedikit menggoda dengan gerakan alisnya yang naik turun.


"Kamu..... "


Ais menepuk-nepuk manja bahu tegap Rio.


Di luar ruangan terdengar kehebohan lagi, kali ini Rio mengenal suara siapa itu?


"Mana cucuku! mana Mantuku! apakah mereka baik-baik saja? " teriaknya sangat heboh dan histeris, mirip dengan Ibunya Senja tadi.


Om Hendra segera merangkul istrinya seraya menenangkan.


"Shh!" bisiknya, menyuruh Istrinya agar tidak berteriak-teriak. "Steven baik dan selamat, sedangkan Senja terkena tembakan di pundaknya."


Ibu Rio bersaudara langsung terhuyung, lemas.


"Jangan pingsan Ma," bisik Om Hendra, "Banyak-banyak do'a dan istighfar."


Wanita paruh baya itu segera beristighfar sambil menenangkan diri, "Astaghfirullah hal ngadzim."

__ADS_1


"Eyanggg!!" teriak Steven melepaskan diri dari gendongan Papanya, Bryan. Merangkul kaki neneknya.


"Cucu eyang, alhamdulillah kamu selamat sayang." Eyangnya kini berjongkok dan memeluknya balik.


"E-eyang, eyang!" Panggil Steven dengan ekspresi bingung, "Mama Senja kenapa eyang? kenapa lama sekali di dalam, Steven pengen peluk Mama!"


Mata Eyang berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan diri tidak menangis di depan cucunya.


"Sebentar lagi keluar sayang, Steven tenang aja ya? sekarang ikut eyang beli ice cream yuk."


Eyang langsung menggendong cucunya pergi, tujuannya agar Steven melupakan sementara pertanyaan-pertanyaan tentang Ibu Sambungnya yang sangat disayanginya.


***


Keadaan semakin membaik, setelah satu jam kemudian. Ibu Senja sudah siuman, keadannya sudah tenang dan jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.


Ketiga gadis tadi juga sudah siuman, mereka ikut panik di kursi terpisah di ujung agak jauh dari ruangan operasi, Merry tampak marah-marah pada Pak Polisi yang tidak mengecaskan ponselnya yang mati.


Rio yang paling netral terus mengawasi suasana yang menegangkan, kalau saja Ia masih menaruh hati pada Senja mungkin Ia masih berdiri bersama Rey dan Bryan Kakaknya. Ia benar-benar sudah menganggap Senja tak lebih dari seorang adik.


Setelah memastikan Rey yang masih baik-baik saja, Rio kembali menoleh ke asal suara Merry yang masih protes.


"Ayo! carikan aku tempat colokan listrik," desak Merry manja, Pak Polisi itu bukannya risih malah terlihat senang.


"Oke, ikut aku... "


Merry pun pergi, Rio tahu pasti Merry sangat menghawatirkan fansnya. Rio kemudian kembali menoleh ke sisi kanannya.


Ais tampak berbincang-bincang dengan Ibu Senja, Rio yang ikut mendengarkan obrolan mereka tersenyum-senyum sendiri melihat Ais yang semakin di pandang semakin cantik.


Ibu Senja mengucapkan terimakasih pada Ais yang telah menungguinya sampai sadar, juga berterimakasih pada Rio yang telah ikut menyelamatkan putrinya.

__ADS_1


Suara-suara bising dari luar gedung Rumah Sakit terdengar samar, tapi Rio tampaknya paham apa yang terjadi.


Di luar gedung rumah sakit, mulai banyak wartawan yang berdatangan. Keamanan Rumah Sakit mulai membatasi, berjaga dan melarang mereka masuk, tapi tetap saja mereka bersi keras.


Rio yang mulai menyadari keributan di luar gedung berjalan keluar, menarik tangan Ais dan permisi sebentar pada Ibu Susi.


"Ada apa?" tanya Ais kebingungan saat mereka tiba di lorong.


"Apa kau tak mendengar sesuatu?"


Ais menajamkan pendengarannya, ya betul, ada suara-suara yang memang tak begitu jelas terdengar dari dalam gedung.


"Apakah itu para wartawan?" tanya Ais saat mereka menaiki tangga.


"Sepertinya begitu, orang tadi pasti telah menyebarkan informasi dimana tepatnya Senja di operasi."


Ais mendengus sebal, membayangkan sosok laki-laki tadi yang ponselnya sempat Ia rampas paksa.


Ais sebenarnya bertanya-tanya kenapa malah naik ke lantai atas, bukannya keluar melihat ke pintu utama, tapi Ia menurut saja.


Ais memekik tertahan saat melihat jelas dari atas balkon rumah sakit, bahwa pintu masuk utama rumah sakit sudah seperti rumah semut, banyak sekali yang memaksa masuk.


Tak lama kemudian, polisi datang dengan beberapa mobil, membuat orang-orang minggir.


***


Di ruang operasi,


Seorang dokter dengan seragam kusus keluar, Rey langsung menyambarnya sebelum Bryan sempat.


"Bagaimana, bagaimana dok?"

__ADS_1


Bagaimana keadaan Istri saya?" Bryan ikut mendekat, Rey menatap marah padanya.


__ADS_2