Ruang Rindu

Ruang Rindu
Kisah masing-masing.


__ADS_3

Erin mengiyakan apa yang dirasakan oleh Rasta, hanya saja dia belum pernah bertemu dengan ayah Rasta, sebab selalu sibuk dan berada di luar kota.


"Hanya saja, selama berteman dengan Rasta, aku jarang sekali bertemu ayah tirinya ketika bermain di rumahnya, kata ibu Rasta, suaminya hanya pulang untuk beberapa hari lalu pergi lagi," jelas Erin.


Mereka kenal karena satu kampus, Erin dan Rasta satu kelas, mereka selalu mengerjakan apapun bersama, jadi terlihat sangat akrab.


Saat ayah dan ibu Erin berada di luar negeri karena suatu pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, membuatnya harus lebih tegar hidup tanpa orang tua, meskipun dia bukan anak broken home tetapi merasa seperti itu.


Sang ayah selalu memberikan apapun yang diinginkan oleh Erin.


Dia ingin melihat putri semata wayangnya bahagia meskipun jauh darinya.


"Kita memiliki masalah hidup masing-masing, hingga tidak boleh bercerai berai, kita buktikan bahwa hidup ini sangatlah indah tanpa perlu memikirkan permasalahan yang agaknya tak mampu kita selesaikan!"


Erin membuat Rindu tergugah semangatnya, gadis itu mencoba untuk tegar dan tidak memikirkan permasalahan kedua orang tuanya.


"Ya, apa yang dikatakan Eren memang benar adanya, kita tidak boleh seperti ini! harus jadi manusia yang berguna di masa depan! juga harus menghargai keputusan kedua orang kita, tidak boleh menyalahkan satu pihak!" cetus Rindu penuh dengan optimisme.


"Ya, kalian berdua memang benar, aku juga tidak akan memikirkan masa lalu kedua orang tuaku, kita yakin bisa hidup dan menerima kenyataan dengan baik!" jawab Rasta.


Dia juga ikut optimis menjalani kehidupan.

__ADS_1


Kini ketiga orang itu, memutuskan untuk menjadi manusia bebas serta menikmati setiap aliran darah yang ada dengan semangat yang membara, memanfaatkan nafas yang masih diberikan Tuhan.


Mereka akan lebih bahagia dan yakin bangkit.


"Wah, ternyata kita bertiga berangkat dari kekecewaan terhadap orang tua masing-masing, kecewa yang berlebihan atau kecewa karena suatu hal, kita tidak boleh dipermainkan oleh takdir! kita akan bangkit dan menjaga manusia yang lebih baru!"


Erin mencoba mengobarkan semangat dua temannya, pada akhirnya tiga orang itu bisa menjadi manusia yang lebih memaafkan keadaan serta menerima apapun takdir yang diberikan Tuhan kepadanya.


.


.


.


Rasta meminta izin kepada dua temannya untuk berpindah tempat wisata, Rasta mengidentifikasi ke pantai yang cukup indah, pantai itu tak begitu jauh.


"Aku sih oke," ucap Rindu.


"Yes, aku juga oke, Ras!" sahut Erin.


"Oke, aku akan membawa kalian maju surga dunia yang baru!" ungkap Rasta.

__ADS_1


"Haha kenapa kau sebut surga dunia? kita sudah dewasa dan kata-kata itu identik dengan konten negatif?" ujar Erin.


Dia sebenarnya ingin bercanda saja, tetapi merasa sang teman harus dikerjain.


"Pikiranmu agak gak bersih rin, Erin ternyata ya?" ungkap Rasta.


Rindu tak kalah serunya, dia menambahkan kata-kata.


"Erin rindu sugar Daddy!"


"Ha? sugar daddy yang botak itu?" ucap Rasta berlagak tak paham apapun.


"Haha, apakah lupa jika ada dosen yang sangat diidolakan oleh Erin, dosen itu Mr Armando," ucap Rindu.


Rindu sudah nampak kejahilan dan rasa humoris, dia mencoba untuk tetap bersemangat.


"Haha, astaga! kau juga tahu itu Rindu?" tukas Rasta makin kompor.


"Ya ya, kalian berdua sangat senang membuatku terpojok ya?


"Haha!"

__ADS_1


Rindu dan Rasta hanya tertawa terbahak kita melihat wajah Erin menjadi merah karena malu.


*****


__ADS_2