Ruang Rindu

Ruang Rindu
Bertemu ayah.


__ADS_3

Fakta lain yang mencengangkan kembali terbongkar yaitu mengenai sosok ayah dari Erin.


Rindu tiba-tiba saja mendapatkan panggilan telepon dari ayah kandungnya, Rindu yang sebenarnya malas tetapi lebih memilih untuk menjawab panggilan itu.


"Ada apa ayah?" ucap Rindu.


"Ayah ingin bertemu denganmu karena ada beberapa hal yang ayah ingin sampaikan," jawab sang ayah.


"Oke, aku tidak keberatan bertemu ayah tetapi ayah harus jujur kepadaku tentang permasalahan yang ayah miliki, aku tahu jika Ibu salah tetapi ayah juga bersalah," cetus Rindu.


"Iya, ayah juga memiliki kesalahan yang jauh lebih berat dari ibumu tetapi kami sudah berdamai dengan keadaan. Ibumu mengatakan kepada ayah bahwa kau tidak mau pulang ke rumah, kami berusaha keras untuk menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan kami tetapi tak akan membuat kau terlantar, jadi temuilah ayah di restoran tempat kita sering bersama. Rindu bisa datang?" tanya sang ayah dengan nada yang penuh harap.


"Iya, aku membawa seorang teman apakah boleh?" cetus Rindu.


"Boleh, kau boleh bawa teman laki-laki ataupun perempuan tetapi kenalkan dulu kepada ayah agar ayah tahu siapa saja temanmu saat ini."


"Ya ayah, maaf aku tak bisa berlama-lama membicarakan hal ini kepada ayah, aku tidak enak dengan temanmu yang sedang fokus menyetir."


"Oke."


"Bye baby."


"Bye ayah."


Panggilan telepon itu akhirnya terputus, sang gadis kembali murung dan menatap ke arah jendela ini membuat seorang Rasta kembali terganggu.


.


.

__ADS_1


.


Satu jam kemudian ..


Restoran Sweet Home ...


"Tempatnya sangat bagus, apakah kau bersama keluargamu sering kemari?" tanya Rasta mencoba untuk akrab kepada Rindu.


"Hm, iya."


Jawaban Rindu masih terdengar ketus dan sama sekali tidak mengenakkan hati.


Hanya saja seorang Rasta, tak mau memperbesar masalah yang ada.


Kini keduanya sudah turun dari mobil, Rindu kembali mendapatkan panggilan dari sang ayah dan dia berjalan terlebih dahulu.


Rasta terkejut ketika melihat mobil sang ayah berada di depan restoran itu.


Rasta kembali fokus dengan Rindu yang sudah masuk ke dalam area restoran.


Dia mendapati seorang Rindu sedang duduk nama seorang pria paruh baya yang membelakangi tubuh.


Rasta dengan senang hati menyusul sang gadis.


.


.


.

__ADS_1


Meja Rindu dan ayahnya ...


Rasta ini sudah dekat dengan posisi meja Rindu, tapi dia belum menyadari siapa ayah dari Rindu yang sebenarnya.


Rindu lalu memperkenalkan Rasta kepada sang ayah.


"Rasta, kenalkan dia adalah ayahku, bukan ayah sambung tetapi ayah kandungku!" ucap Rindu mempertegas.


Rasta lalu menatap wajah pria paruh bayak itu dan mendapati fakta yang sangat mencengangkan bahwa ada ayah tiri di depan matanya.


"Ayah?"


"Rasta?"


Rindu semakin yakin jika ayahnya menikah dengan Ibu Rasta.


"Oh, jadi ini yang ingin kalian berdua tunjukkan? dua pria yang sangat pandai berbohong? aku tidak percaya ini!"


Rindu pergi dari restoran itu, langkahnya lebih lincah hingga dia bisa menghindar.


Rindu berada di depan restoran itu lalu masuk ke dalam mobil Rasta, dia membawa mobil Rasta pergi.


"Rindu!" panggil Rasta.


Sang ayah, merasa bersalah.


Dia lalu bersimpuh dihadapan Rasta.


"Jangan katakan apapun kepada ibumu, dia akan syok, dia memiliki riwayat jantung?!" pinta sang ayah.

__ADS_1


"Jelaskan kronologinya dengan jujur, mungkin aku bisa mempertimbangkannya."


*****


__ADS_2