Ruang Rindu

Ruang Rindu
Pasca Operasi


__ADS_3

Semua orang dengan cepat mengerubungi sang Dokter yang mulai kesulitan bergerak,


"Syukur alhamdulillah, pasien selamat. Pelurunya sudah diambil, beruntung tidak mengenai organ inti."


Semuanya langsung berucap syukur, termasuk Suster dan dokter lain yang baru keluar, tampaknya mereka puas dan lega atas kerja keras mereka.


"Terimakasih Dok, terimakasih telah menyelamatkan Anak saya." Ibu Senja sudah berlinang air mata menatap sang Dokter.


"Sama-sama Ibu, oh ya. Pasien masih belum bisa di jenguk sampai benar-benar sadar, jadi kami mohon kerja samanya. Kalau begitu saya permisi, mari.... "


Merry yang baru datang langsung ikut bergerombol, tapi sayang semuanya malah berpencar mencari posisi nyaman setelah berita baik mereka dapatkan.


"Bagaimana, bagaimana Sifa, Naila?" tanya Merry tak sabar, rupanya dia telah berkenalan dengan sohib Senja itu.


"Alhamdulillah Senja selamat." Jawab Naila tersenyum, tak bisa menutupi kebahagiaannya mendengar sohibnya selamat.


Merry yang kelewat seneng langsung memeluk Pak Polisi yang masih memegang colokan listrik, membuat semua orang disana tertawa terhibur. Pak Polisi itu tampak malu, tapi terlihat senang.


Setelah keadaan kembali kondusif, Ais dan Rio kembali. Mereka terheran-heran melihat semua orang tampak ceria, tidak setegang tadi.


"Ada apa?" bisik Rio pada Naila yang sedang diajari Merry membuat akun instagram.


Yang menjawab malah Sifa, karena Naila masih fokus ke ponselnya, Rio dapat melihat ponsel Mery yang masih terisi 5%.


"Senja selamat Kak, selamat." Sahut Sifa tersenyum, tapi matanya tampak lelah sekali.


Rio segera mengucap syukur, reflek Ia menoleh ke pintu ruang operasi. Syukurnya Rey sudah mau duduk.


"Akhirnya.... " gumamnya tak jelas.


Sifa sudah menguap beberapa kali, rasanya Ia mengantuk walau Ia habis pingsan.


"Aku ngantuk Kak Rio," keluhnya.

__ADS_1


"Bukannya kamu habis pingsan?" Rio menggoda.


"Pingsan kan bukan tidur Kak."


Sifa kemudian bergegas ke ruangan dimana Ia tadi terbaring saat pingsan, Ia berencana tidur di sana.


***


Sifa dan Naila yang kosannya jauh, diajak Merry untuk mandi, ganti baju, atau tidur di rumahnya.


Mereka berfikir keras bagaimana bisa keluar dengan selamat, tanpa ketahuan maksudnya, mengingat banyak sekali yang ingin meliput mereka. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk itu, mereka belum mandi, bau apek dan yah... itu membuat badan Merry gatal-gatal.


"Yuk, pergi sekarang?" ajak Merry.


"Bagaimana caranya?" tanya Naila dan Sifa barengan.


"Er..... bagaimana ya?" Merry tampak kebingungan.


kemudian Rio datang, dengan Ais di belakangnya.


"Bukan, dia temanku."


"Ais," Sifa menjabat tangan Ais, diikuti Merry dan Naila.


"Sifa,"


"Naila,"


"Merry,"


"Aaa.. kau pasti yang sedang terkenal sekarang, semua menyebut-nyebut namamu. Kau hebat, pemberani." Puji Ais, membuat pipi Merry memerah.


"Ahh... biasa saja."

__ADS_1


"Kalian mau pulang?" tanya Rio menyela.


Ketiganya mengangguk.


"Aku punya ide, ikut aku."


Ketiganya mengikuti Rio ke sebuah ruangan, lalu Rio mengeluarkan sesuatu dari laci.


"Pakai ini." Rio menyodorkan sesuatu.


"Apa ini?" tanya Sifa belum paham.


"Seragam para dokter dan suster."


"Ini serius?" Merry tampak keberatan.


"Kalau mau terjebak di depan, tak masalah."


"Baiklah, aku akan pakai kalau memang ini efektif, aku sudah tak tahan, badanku gatal-gatal."


Ketiganya segera memakai seragam yang tampak sangat lucu ketika di pakai mereka, sangat tidak cocok.


Tapi tak apa, mereka pakai masker agar tidak bisa dikenali.


"Ah.. kuharap kalian berhasil." Rio tersenyum.


"Semoga berhasil!" Ais ikut menyemangati.


"Baiklah, kami pergi, terimakasih." kata Merry yang langsung memimpin keluar.


"Ah, Sama-sama."


Naila dan Sifa menatap takut pada serombongan orang di depan, tapi Merry menyemangati mereka.

__ADS_1


Apakah penyamaran mereka berhasil?


__ADS_2