Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 76


__ADS_3

Ditengah perjalanan pulang suasana di dalam mobil hanya di isi dengan suara radio. Kedua tanganku saling bertaut dengan sorot pandang yang beberapa kali melirik ke arah Mas Pras.


Dia diam, fokusnya tertuju pada jalanan. Sementara perasaanku meyakini sikapnya telah berubah semenjak dari rumah sakit tadi.


Sesampainya di depan rumah pun saat aku mencoba melepas sabuk pengaman kudengar Mas Pras berdehem lalu berujar hingga aku menoleh padanya.


"Kamu masuk saja dulu, Mas masih ada urusan di bengkel," ucapnya yang tanpa menatapku.


Saat kulihat jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. "Mas mau kembali ke tempat kerja?" tanyaku sedikit heran dan memastikan ucapannya.


"Masih ada yang harus Mas kerjakan, ada mobil customer yang perlu di servis ulang dan besok akan di ambil oleh pemiliknya," jelasnya padaku dengan menoleh sejenak menatapku.


Aku pun mengangguk ragu lalu melanjutkan langkahku untuk keluar dari mobilnya. Setelahnya Mas Pras mulai menyalakan mobil dan perlahan mobil bergerak meninggalkan pekarangan dengan aku yang masih berdiri menatap kepergiannya hingga mobil itu tak terlihat lagi dari pandangan mataku.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah satu jam lebih ini hatiku dilanda gusar sebab biasanya Mas Pras pulang pada pukul lima atau enam sore, tapi sampai saat ini belum juga kudengar suara deru mobilnya. Bahkan aku menunda makan malamku untuk menungguinya.


"Nyonya dimakan dulu keburu dingin," ucap Bik Mar yang berusaha membujukku dan sudah lebih dari lima kali dia mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Anna belum lapar Bik, nanti saja," sahutku yang duduk bersandar di kursi meja makan mengelusi perutku juga memperhatikan Aqila yang sedang menyuap nasinya sendiri.


Memang hal itu sengaja aku dan Mas Pras ajarkan padanya sebagai tahap belajar, meski dengan resiko makan masih belepotan juga sisa nasi yang berceceran, tapi walau begitu aku meyakini lama kelamaan Aqila akan mulai terbiasa. Bukan hanya soal makan, namun untuk tidur pun kami sekarang juga terpisah.


"Nyonya nungguin Tuan?" celetuk Bik Mar yang kini menarik kursi lalu duduk disampingku.


Serta merta aku pun mengalihkan pandanganku padanya. "Anna belum ngrasa lapar Bik," sahutku yang memang tak merasakan lapar.


Bik Mar menghela napasnya. "Sudah jam tujuh lebih mungkin Tuan Pras sedang ada lembur. Nyonya harus makan, kita gak tahu Tuan Pras kapan pulangnya. Tadi kan Nyonya juga sudah jelaskan kalau Tuan Pras kembali ke bengkel. Bisa jadi pulangnya larut malam. Sudah, makan dulu saja. Kasian bayi dalam kandungan Nyonya pasti sudah lapar, dari setelah pulang periksa kan belum makan apa-apa," ucap Bik Mar yang mulai mengambilkan nasi padaku.


Dan mau tak mau aku mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutku meski tanpa minat. Hal itu kulakukan semata-mata demi anak yang ada dalam perutku, sementara pikiranku tak sejalan dengan apa yang tengah kulakukan. Aku terus saja berpikir sedang apa Mas Pras diluaran sana. Apa benar dia lembur atau malah alasannya pergi untuk menghindariku.


Jam di dinding kali ini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aqila baru saja terlelap dan dengan segera aku beranjak keluar dari kamarnya, berniat kembali menuju lantai bawah.


Tapi kuurungkan sejenak sebab aku ingin mengambil ponselku yang ada di kamar dalam kondisi mengisi daya baterai. Namun saat aku hendak menarik handle pintu aku sedikit terkejut sebab dari arah pintu yang kubuka menampilkan sosok Mas Pras yang tengah mengambil baju di almari.


"Mas baru pulang?" tanyaku usai menutup pintu.


Mas Pras mengangguk. "Barusan," sahutnya singkat disertai membalikkan badannya, kulihat wajahnya menampakkan gurat lelah dan di tanganya sudah ada satu stel pakaian santainya.

__ADS_1


Sorot mataku kini kembali menatapnya dan akupun kembali bersuara. "Mas sudah makan? Tadi aku sudah minta Bik Mar buat menyisihkan makanan untuk Mas, barangkali—"


"Mas sudah makan tadi di tempat kerja," sahutnya cepat memotong ucapanku, yang lalu meletakkan pakaiannya di atas ranjang dan beralih melepas satu persatu kancing bajunya.


Aku mengangguk samar. "Kalau gitu biar aku suruh Bik Mar buat bereskan makanan yang ada di meja," ucapku yang lalu berbalik badan hendak keluar kamar.


"Tidak perlu, istirahatlah. Bik Mar pasti sudah tahu tugasnya," ucapnya yang terdengar begitu datar kemudian dia berlalu masuk ke kamar mandi.


Di tempat berdiriku tubuhku serasa melemas, tak biasanya Mas Pras begini. Dia berubah, sikapnya yang dalam waktu sekejap telah berbeda. Penolakannya menyisipkan rasa kecewa yang serta merta menyusup ke dalam hatiku.


Dengan langkah gontai aku mendudukan diriku di tepian ranjang. Mengamati pintu kamar mandi yang kini mulai terdengar suara air gemericik di dalamnya.


Entah yang berapa lama aku berada disituasi ini, hingga pintu kamar mandi mulai terbuka. Menampilkan sosok Mas Pras yang bertelanjang dada dengan tangan yang bergerak menggosok-gosokan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.


Aku menunduk saat Mas Pras mulai bergerak ke arah ranjang mengambil lalu memakai pakaiannya di depanku sambil berkata, "Mas tidur dikamar sebelah menemani Aqila malam ini."


Dan usai berucap Mas Pras berlalu meninggalkan kamar, sedangkan aku masih menunduk dengan air mata yang mulai menetes satu persatu.


To be Continue

__ADS_1


Jangan lupa jempol, komentar juga di VOte yaaaaaaa.... Apa yang terjadi selanjutnya


__ADS_2