Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 74


__ADS_3

Sebenarnya aku sudah terbangun dari tadi, namun aku mengurungkan diri untuk beranjak dari posisiku yang sekarang ini. Dimana tak seperti semalam, yakni saat pertama kali membuka mata yang kulihat adalah dada bidangnya.


Mataku kemudian bergerak lagi dan kusadari ada dua lengan melingkupi tubuhku. Satu terselip di tengkukku dan satunya lagi berada di atas pinggangku, sementara bayi dalam perutku berada di tengah-tengah.


Aku tak tahu ini sudah pukul berapa, tapi yang jelas sinar matahari pagi samar masuk melalui sela jendela. Hingga saat aku sedikit mendongakkan wajahku bisa kulihat garis-garis wajahnya.


Dia, pria yang usianya berada jauh di atasku yang selalu kusebut tua.


Kata-kata itu begitu saja meluncur di hatiku, membuatku kini lekat memandangnya lagi dan lagi. Lalu aku mengingat ucapan Nisa kemarin, Bila Mas Pras menyandang status duda pasti akan ada banyak wanita yang mau mengantri.


Ditambah dengan apa yang Bik Mar katakan tiba-tiba juga mulai terngiang dalam benakku yaitu, "Orangtua mana saja pasti akan suka rela menyodorkan anaknya untuk orang di hadapanku ini."


Kuamati lagi dan memang tak ada satu keburukan dari wajahnya. Dia selayaknya orang pada umumnya, memiliki mata, hidung, garis bibir dan wajah yang memang terbilang dan menegaskan bahwa dirinya adalah lelaki yang sudah dewasa.

__ADS_1


Aku selalu mendokrin bahwa jalan hidup yang kulalui tak pernah adil. Menjalani pernikahan dengannya adalah sebuah keterpaksaan. Dan entah apalagi yang kupikirkan kali ini yang menjadikan alasan-alasan itu sebagai benteng pemisah diantara kami.


Setelah semua terlalui kini hanya bersisa waktu dua bulan di antara kami, dan itu artinya sebentar lagi kami yang berada disini akan terpisah. Lalu aku akan memulai hidup baruku, dan lantas apa yang akan Mas Pras lakukan bila tanpa aku?


Apa akan ada wanita lain seperti yang Nisa dan Bik Mar katakan, atau Mas Pras akan kembali dengan wanita di masa lalunya setelah membuka jati diri yang sebenarnya dan pasti setiap orang akan bersiap sedia menerimanya. Lalu anakku, mereka akan memanggil nama wanita lain sebagai Mama baru mereka?


Aku pun kini menggeleng lemah dengan mata yang mulai memanas. Dadaku begitu sesak dan saat aku hendak menarik tanganku untuk menahan sisakan justru tubuh Mas Pras mulai bergerak. Sekuat tenaga aku pun menahan diri dan berpura-pura kembali memejamkan mata, berharap dia tak menyadari dengan sikapku yang sekarang.


Tak lama kurasakan dirinya mulai kembali bergerak perlahan untuk menarik lenganya dari tubuhku kemudian aku tahu yang selanjutnya terjadi adalah dirinya bangkit meninggalkanku.


Pikiran-pikiran yang tadi kini perlahan bermunculan. Percikan-percikan ketakutan membuat tubuhku mendingin.


Apa aku akan bisa berbahagia bila berpisah dari mereka? Maka aku pikir jawabannya adalah tidak, aku gak akan bisa berbahagia ataupun aku gak rela bila kedua anakku memanggil wanita lain dengan sebutan Mama.

__ADS_1


Dadaku rasanya sudah semakin menyesak. Isakan yang tadi kutahan kini berangsur menjadi tangisan yang sulit untuk dikendalikan. Air mataku kian mengalir deras ditambah dengan badanku yang sudah bergetar hebat, aku menangis dan tak kepedulikan lagi dengan yang ada di sekitar.


Hingga—tanpa kusadari sebuah lengan terasa membalikkan tubuhku guna menghadap padanya.


"Anna apa kamu bermimpi buruk?" ucapnya dan dari mataku yang mengabur dapat kulihat kilatan kekhawatiran juga kecemasan yang ditunjukkannya padaku.


Aku tak bergeming menanggapinya dan ketika Mas Pras mulai mencoba membantuku untuk bangun, aku justru menarik tubuhnya kuat agar mampu untuk kudekap.


Dan dalam erat pelukku dan juga isakku, aku mencoba berucap meski disertai nada terbata. "Maaf... Anna minta maaf sama Mas..."


To be Continue


Apa yang akan terjadi????? jangan lupa komentar, Vote juga jempolnya

__ADS_1


Bisa jadi besok-besok sudah ada Mas Pras POV yaaa


__ADS_2