Ruang Rindu

Ruang Rindu
Dasar Rasta!


__ADS_3

Rasta kemudian keluar dari kamar mandi dan berlari menuju luar rumah, tak lupa dia mengunci rumah itu. Kebetulan dia tahu di mana letak kunci rumah milik Erin selama Erin dalam pengobatan, hanya Rasta yang akan datang untuk menolong sebab pria itu tahu, Erin suka kambuh setiap saat.


.


.


.


Di dalam mobil ...


Erin menahan tawanya karena melihat Rasta harus menjadi Bagas, dia hanya bisa tersenyum untuk beberapa waktu.


"Haha, aku tidak menyangka dia bisa melakukan itu!" batin Erin.


"Huft mules."


"Heh jorok!


"Iya Mak Erin, aku memang mules jadi lama. Ini kunci rumahmu, aku sudah menggembok rumahmu."


"Oke siap! tancap gas Bagas?"


"Siap!"


.


.


.

__ADS_1


Rindu menatap ponsel miliknya sepanjang perjalanan, menunggu balasan dari seorang Rasta.


Erin sangat penasaran dengan apa yang dilihat oleh Rindu di ponselnya.


"Kau sedang melihat apa?" tanya Erin.


"Aku menunggu balasan dari seorang pria yang sangat baik!" jawab Rindu dengan tersipu malu.


"Haha, aku tak pernah menyangka kau akhirnya mendapatkan seorang pria yang cocok, aku tahu kau tidak bisa sepenuhnya percaya dengan seorang pria tetapi berikan satu kesempatan untuk salah satu dari mereka."


"Iya, bawel amat sih. Aku belum ingin berhubungan dengan pria yang sedang dekat denganku, karena kami hanya berhubungan sebatas smartphone. Itu juga, baru satu hari jadi belum benar-benar mengetahui yaitu orang seperti apa."


Rasta begitu begitu bangganya menjadi perbincangan dua gadis, dia lalu berkata.


"Orang seperti ku memang banyak yang suka jadi jangan membicarakan aku ya!" cetus Rasta.


"Cih pede, aku hanya membicarakan seorang Rasta bukan Bagas!" sahut Rindu.


..


Beberapa menit kemudian ...


Rasta minta kedua wanita itu untuk memilih, bingung ke sebuah partai gunung atau pantai?


Rindu dan Erin sekarang ingin ke sebuah tempat yang penuh dengan kehijauan, resto padang rumput ujung kota.


"Apa? tempat itu kan sangat jauh? aku tidak bisa ke sana!" ucap Rasta tidak bisa, dengan alasan dia suka mengantuk.


"Hm, aku merasa kau masih muda tetapi sudah letoy!" ucap seorang Rindu.

__ADS_1


Dia dan Bagas memang seperti kucing dan tikus, keduanya tidak pernah akur.


Erin menengahi keduanya.


"Begini saja, di tengah kota, ada sebuah restoran seperti padang rumput, di sana juga mall. Namanya Go Green Resto."


"Wah, aku sangat suka. Itu bangunan baru beberapa bulan, aku juga mau ke sana karena belum pernah!"


"Iya, aku baru saja mendapatkan penerapan dari teman-teman mengenai Go Green resto itu. Bagaimana Bagas? kau mau?"


Rasta tidak terlalu mempermasalahkan jika masih berada di kota ini. Jika di ujung kota, dia tidak mampu.


Rasta langsung belok kanan dan melewati sebuah jalan tol.


Pemandangan di sana juga cukup bagus.


Begitu memanjakan mata.


"Jika Rasta ada di sini," batin Rindu.


"Jika aku jujur, apakah dia masih mau denganku?"


Rasta juga bergumam hal yang sama karena dia khawatir jika seorang Rindu akan pergi darinya ketika mengetahui Bagas adalah Rasta.


Rasta ingin sekali jujur kepada Rindu yang sangat cantik itu, tapi Rasta belum bisa menerima kenyataan jika kelak Rindu kecewa.


Sang pria masih waras dan tidak akan melepaskan umpan.


Ibarat sedang memancing, umpan yang terpasang, sudah mendapatkan ikan yang besar tetapi bagaimana bisa harus dilepaskan begitu saja?

__ADS_1


*****


__ADS_2