Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 81


__ADS_3

WARNING, BACANYA HARUS MALAM!!!!


"Kamu gak berniat buat anterin Mas sampai depan?" ucap Mas Pras dengan nada berbisik usai menghabiskan makanannya. Dan aku yakin, hanya akulah satu-satunya orang yang mendengarkan.


Akupun melirik ke arahnya. Saat kulihat dirinya tengah menaik-naikan alisnya hingga aku tak mampu menahan senyumku lalu membalasnya dengan anggukan.


Mas Pras kini berdiri lalu mengecup puncak kepala Aqila yang masih sibuk dengan makanannya. "Papa berangkat dulu ya sayang," ucapnya pada Aqila dan kemudian beralih membantuku untuk beranjak berdiri.


Berjalan beriringan menuju depan rumah, tangan Mas Pras bergerak merangkul bahuku. Refleks aku hanya menoleh dan menatap jemarinya, sebab bingung bagaimana aku harus membalasnya.


"Sudah, sampai disini saja," ucap Mas Pras yang menghentikan langkahnya saat kami telah sampai di teras.


"Mas pulang jam berapa?" tanyaku saat Mas Pras melepas rangkulannya.


Alisnya nampak bertaut, tatapan aneh kali ini ditujukan padaku. Akupun berdecak lalu memukul pelan lengannya. "Aku bertanya barang kali saja Mas lembur?" kataku memperjelas supaya Mas Pras tak berpikir yang tidak-tidak.


Mas Pras pun memutar bola matanya. "Aku kira kamu akan mengatakan, aku rindu."

__ADS_1


Sontak aku menelan salivaku dengan susah payah. "Mas narsis," sahutku singkat dan membuat Mas Pras tertawa kecil.


Tanganku kali ini beralih mengelus perutku.


"Papa yang rindu kamu kalau gitu," ucapnya dengan sorot mata menatap perutku. "Nanti malam Papa kunjungi kamu lagi ya?" sambungnya bernada pelan yang membuat atmosfer di sekitarku seketika memanas.


Hawa panas rasanya mulai merambati tengkukku, aku yakin wajahku kali ini juga sudah berubah merona. Ditambah untuk bernapas saja rasanya sulit akibat mendengar kata-katanya itu. Sebab mengingat kejadian semalam Mas Pras meminta ijin padaku untuk mengunjungi anaknya, sementara aku yang dalam kondisi bingung pun hanya mampu berpasrah dengan dirinya yang mulai melakukan dengan caranya meski aku akui bahwa aku sendiri juga menikmatinya.


"Tuh, Papa jadi ingetin Mama kamu deh," celetuknya yang membuatku seketika mendengus kesal.


"Ih Mas! Malah ngeledekin. Katanya tadi mau berangkat kerja, kalau meledekin aku kayak gitu, mending aku masuk rumah!" kataku kesal lalu membalikkan badan hendak beranjak kembali masuk rumah, tapi dengan cepat Mas Pras mencekal lenganku.


"Habisnya Mas nges—"


Ucapanku terhenti secara spontan sebab Mas Pras dengan gerak cepat membungkam mulutku dengan kecupannya.


"Mas! Nanti—"

__ADS_1


Lagi-lagi ucapanku terhenti saat aku hendak mengeluarkan suara untuk berprotes, hingga aku memilih diam saja sampai Mas Pras menarik bibirnya.


"Hanya itu yang mampu menghentikanmu," ucapnya lalu menampakkan senyum serigai.


"Bagaimana kalau dilihat orang?" sahutku dengan suara lembut.


Sejenak Mas Pras menarik dalam napasnya. "Kamu tahu?" ucapnya bersamaan dengan menarik pinggangku mengikis jarak di antara kami berdua.


"Apa?" ucapku yang tanpa suara tapi dengan bibir terbuka.


"Hal ini yang dari dulu Mas damba," sahutnya menatapku dengan intens.


Akupun juga membalasnya, menatapnya dalam. Mengamati tiap-tiap pahatan wajahnya yang baru aku akui dia tampan dengan sisi-sisi kedewasaannya. Jemariku pun kugerakan untuk menyusuri wajahnya, hingga berhenti tepat di rahangnya.


"Seperti apa?" ucapku dengan napas yang terasa kian tercekat. "Apa seperti ini?" ucapku lagi yang lalu menarik tengkuknya dengan satu tanganku yang bebas lalu menempelkan bibirku pada miliknya yang kini malah disambut dengan gerakan menuntut olehnya hingga tanpa sadar mampu membuatku melenguh.


Kudengar Mas Pras mulai mengeram kemudian bergumam, "Kalau seperti ini, Mas gak jamin untuk bisa berangkat bekerja."

__ADS_1


To be Continue


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, KOMENTAR JUGA JEMPOLNYA, AGAR AKU MAKIN SEMANGAT UPDATENYA


__ADS_2